Yogyakarta, 7 Mei 2026 — Program Studi S-1 Etnomusikologi, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta mempersembahkan “Reriyungan”, sebuah album tembang dolanan anak berbasis Metode Sariswara karya mahasiswa Septyaji Mayyah Swara. Karya ini diluncurkan melalui agenda Mini Concert & Launching Album pada Jumat, 8 Mei 2026, pukul 19.30 WIB, berkolaborasi dengan Taman Kesenian Ibu Pawiyatan Tamansiswa Yogyakarta.
“Reriyungan” menjadi salah satu wujud nyata bagaimana karya mahasiswa ISI Yogyakarta tidak hanya berhenti sebagai tugas akhir atau komposisi artistik, tetapi berkembang menjadi produk pengetahuan, media pendidikan, dan praktik kebudayaan yang dapat digunakan secara lebih luas oleh masyarakat. Album ini dirancang sebagai tembang dolanan anak yang berpijak pada tradisi Jawa, namun dikemas dengan pendekatan musikal yang segar dan relevan bagi generasi masa kini.
Rektor ISI Yogyakarta, Dr. Irwandi, S.Sn., M.Sn., menyampaikan bahwa lahirnya album “Reriyungan” menunjukkan kekuatan pendidikan seni dalam menjawab kebutuhan zaman. Menurutnya, perguruan tinggi seni memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan karya yang bukan hanya indah secara estetis, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi pembentukan karakter, penguatan budaya, dan pendidikan masyarakat.
“Karya seperti ‘Reriyungan’ memperlihatkan bahwa seni memiliki daya hidup yang sangat kuat dalam pendidikan. ISI Yogyakarta terus mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menjadi kreator, tetapi juga menjadi pemikir, peneliti, dan penggerak kebudayaan yang mampu menghadirkan dampak bagi masyarakat,” ujar Rektor.
Album ini dikembangkan dengan landasan Metode Sariswara Ki Hadjar Dewantara, yaitu pendekatan pendidikan yang memadukan sastra, musik, dan rasa sebagai satu kesatuan pembelajaran. Melalui semboyan “Amboeka Raras Angesti Widji” yang bermakna kesenian sebagai ujung tombak pendidikan, Sariswara menempatkan seni sebagai jalan untuk membentuk watak, budi pekerti, kepekaan rasa, serta kecintaan anak terhadap budaya bangsa.
“Reriyungan” menghadirkan enam tembang dolanan baru yang disajikan dalam laras slendro, pelog, dan perpaduan keduanya. Iringan gamelan Jawa diramu dengan pendekatan teknologi musik modern melalui sampling dan VST, sehingga menghasilkan sajian yang ringan, ceria, komunikatif, namun tetap memiliki akar nilai budaya yang kuat.
Karya ini juga menjadi implementasi dari Applied Ethnomusicology, yaitu penerapan etnomusikologi dalam kehidupan masyarakat. Dalam konteks ini, musik tidak hanya dipahami sebagai objek kajian atau pertunjukan, tetapi juga sebagai medium pendidikan, pemberdayaan, dan pewarisan nilai budaya. Melalui “Reriyungan”, tembang dolanan dihadirkan kembali sebagai ruang belajar yang menyenangkan bagi anak-anak.
Kolaborasi dengan Taman Kesenian Ibu Pawiyatan Tamansiswa Yogyakarta memperkuat dimensi pendidikan dalam album ini. Proses penciptaan dilakukan dengan melibatkan anak-anak dan pamong, sehingga karya yang lahir tidak berjarak dari dunia pendidikan anak, melainkan tumbuh bersama pengalaman langsung di ruang belajar.
Peluncuran album ini terasa semakin bermakna karena berdekatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional. Semangat Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan yang menumbuhkan karakter, rasa, dan kebudayaan menjadi dasar penting dalam pengembangan karya ini. “Reriyungan” hadir sebagai pengingat bahwa pendidikan sejati tidak hanya berlangsung melalui transfer ilmu, tetapi juga melalui pengalaman estetis, kebersamaan, dan penghayatan nilai.
Di tengah arus globalisasi yang kerap menjauhkan generasi muda dari tradisi, “Reriyungan” menjadi upaya revitalisasi tembang dolanan agar tetap hidup, dinyanyikan, dan dikenali oleh anak-anak masa kini. Album ini dirancang untuk dapat didistribusikan melalui platform digital serta diperkenalkan secara langsung kepada sekolah-sekolah dan para guru sebagai bahan ajar yang menyenangkan.
Kehadiran karya ini menegaskan posisi ISI Yogyakarta sebagai perguruan tinggi seni yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mengembangkan inovasi berbasis pengetahuan, teknologi, dan kebermanfaatan sosial. Melalui karya mahasiswa seperti “Reriyungan”, ISI Yogyakarta memperlihatkan bahwa seni dapat menjadi instrumen penting dalam pendidikan berdampak, pelestarian budaya, serta pembentukan generasi yang berkarakter.
Sebagai kampus seni terbesar di Indonesia, ISI Yogyakarta terus mendorong lahirnya karya-karya akademik yang memiliki relevansi luas, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. “Reriyungan” menjadi bukti bahwa pendidikan seni mampu melahirkan karya yang berakar pada tradisi, terbuka terhadap teknologi, dan hadir langsung menjawab kebutuhan masyarakat.








