Yogyakarta, 8 Mei 2026 — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta bersama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia menggelar Diskusi Panel Peringatan 20 Tahun Gempa Yogyakarta bertema “Peran Budaya dalam Membangun Ketangguhan Bencana pada Masyarakat”, Jumat, 8 Mei 2026, di Ruang Audio Visual Lantai 3, Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta.
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi penting untuk menegaskan bahwa seni dan budaya bukan sekadar medium ekspresi, melainkan juga kekuatan sosial yang mampu membangun kesadaran, memulihkan trauma, merawat ingatan kolektif, serta memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.
Rektor ISI Yogyakarta, Dr. Irwandi, S.Sn., M.Sn., dalam sambutannya menegaskan bahwa peringatan 20 tahun Gempa Yogyakarta bukan hanya momentum mengenang peristiwa besar yang pernah melanda masyarakat, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat peran perguruan tinggi seni dalam menjawab persoalan kemanusiaan.
“ISI Yogyakarta memandang seni dan budaya sebagai kekuatan yang hidup di tengah masyarakat. Dalam konteks kebencanaan, seni dapat menjadi bahasa pemulihan, media edukasi, sekaligus cara masyarakat merawat ingatan dan membangun ketangguhan. Sebagai perguruan tinggi seni, ISI Yogyakarta memiliki tanggung jawab akademik dan kultural untuk menghadirkan pengetahuan, karya, dan praktik kreatif yang berdampak bagi kehidupan,” ujar Rektor.
Menurut Rektor, Yogyakarta memiliki pengalaman sejarah yang kuat dalam menghadapi bencana. Gempa 2006 meninggalkan luka, tetapi juga melahirkan solidaritas, daya hidup, dan berbagai praktik budaya yang membantu masyarakat bangkit. Karena itu, ISI Yogyakarta menempatkan seni sebagai bagian penting dari kerja-kerja kemanusiaan, pendidikan publik, dan penguatan resiliensi sosial.



Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber yang membahas kebencanaan dari perspektif seni, budaya, ingatan kolektif, dan transformasi sosial. Dr. Mikke Susanto, M.A. memaparkan materi “Seni dan Kebencanaan” dengan menekankan bahwa seni memiliki fungsi strategis sebagai media ekspresi emosional, alat rekonstruksi sosial, arsip kultural, instrumen kritik dan advokasi, serta strategi mitigasi berbasis budaya. Dalam paparannya, seni diposisikan sebagai domain penting dalam pemulihan emosional, pelestarian budaya, representasi bencana, hingga transformasi sosial masyarakat.
Sementara itu, Prof. Dr. Syamsul Maarif, M.Si. mengangkat pentingnya membangun memori kolektif bencana pada masyarakat Indonesia. Perspektif ini menegaskan bahwa ingatan terhadap bencana perlu dirawat bukan untuk memperpanjang luka, melainkan untuk memperkuat kesadaran, kesiapsiagaan, dan solidaritas sosial.
Seniman sekaligus alumnus Pascasarjana ISI Yogyakarta, Endang Lestari, S.Sn., M.Sn., menghadirkan pembacaan artistik melalui gagasan “Seni sebagai Seismograf Kultural”. Melalui praktik artistik berbasis material tanah, terakota, suara, dan ritual, Endang menunjukkan bagaimana seni dapat menjadi arsip alternatif yang merekam trauma, regenerasi, dan daya hidup masyarakat pascabencana.
Dalam forum tersebut, Dr. Andre Notohamijoyo, S.Sos., MSM., Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK, turut menekankan pentingnya peran budaya dalam membangun ketangguhan bencana. Ia menyampaikan bahwa pendekatan kebencanaan tidak dapat hanya bertumpu pada infrastruktur fisik dan kebijakan teknis, tetapi juga perlu menyentuh dimensi sosial, kultural, dan cara masyarakat memaknai pengalaman bencana.
Melalui kegiatan ini, ISI Yogyakarta memperkuat posisinya sebagai perguruan tinggi seni yang tidak hanya berperan dalam pengembangan estetika dan penciptaan karya, tetapi juga dalam produksi pengetahuan, pendidikan masyarakat, dan penguatan kebudayaan sebagai fondasi ketangguhan bangsa. Forum ini sekaligus memperlihatkan kontribusi ISI Yogyakarta dalam mempertemukan akademisi, seniman, pemerintah, dan mahasiswa untuk membahas isu strategis nasional melalui perspektif seni dan budaya.


Kegiatan diskusi panel ini juga menjadi bagian dari komitmen ISI Yogyakarta untuk terus menghadirkan kampus seni yang relevan dengan tantangan zaman. Seni, dalam konteks ini, tidak berhenti sebagai karya yang dinikmati, tetapi hadir sebagai daya dorong untuk menumbuhkan kesadaran kebencanaan, memperkuat empati publik, membangun ruang pemulihan, dan membuka kemungkinan baru bagi masyarakat yang lebih tangguh.
Sebagai tuan rumah, ISI Yogyakarta menempatkan forum ini sebagai momentum akademik dan kultural untuk memperluas cakupan peran perguruan tinggi seni dalam isu-isu kemanusiaan. Dengan kekuatan lintas disiplin seni rupa, seni pertunjukan, seni media rekam, tata kelola seni, dan kajian budaya, ISI Yogyakarta terus mendorong lahirnya gagasan, karya, dan kolaborasi yang mampu memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.
Diskusi panel ditutup dengan harapan agar seni dan budaya semakin terintegrasi dalam program edukasi, mitigasi, rehabilitasi, dan pemulihan pascabencana. Dari Yogyakarta, ISI Yogyakarta menegaskan bahwa perguruan tinggi seni memiliki peran strategis dalam membangun masyarakat yang tidak hanya mampu bertahan dari bencana, tetapi juga mampu bangkit, merawat kehidupan, dan menata masa depan melalui kekuatan budaya.








