Yogyakarta, 14 September 2026 — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali memperluas jejaring akademik internasional melalui pengiriman 12 mahasiswa ke Nanjing University of the Arts (NUA), China, pada September 2026. Sebanyak enam mahasiswa akan melanjutkan pendidikan jenjang magister (S2) bidang Art Management, sementara enam mahasiswa lainnya mengikuti program Summer School selama satu semester.
Keseluruhan mahasiswa tersebut mendapatkan dukungan beasiswa dari China Scholarship Council (CSC) sesuai dengan ketentuan program yang berlaku, termasuk dukungan biaya pendidikan, akomodasi asrama (dormitory), dan fasilitas pendukung lainnya.
Pengiriman mahasiswa ISI Yogyakarta ke Nanjing pada tahun ini merupakan bagian dari perjalanan panjang membangun akses pendidikan internasional yang telah dirintis sejak 2017 oleh Yulriawan Dafri, dosen senior Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta.
Upaya tersebut pada awalnya dilakukan melalui pendekatan dan komunikasi secara personal kepada pihak Nanjing University of the Arts. Yulriawan secara bertahap membangun dialog dengan pihak kampus di Nanjing serta berupaya membuka komunikasi dengan pihak China Scholarship Council untuk mencarikan peluang beasiswa bagi mahasiswa ISI Yogyakarta yang memiliki keinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang magister di China.
Langkah tersebut tidak dilakukan dalam waktu singkat. Selama beberapa tahun, komunikasi, pendekatan akademik, serta upaya membangun kepercayaan terus dilakukan. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah bagaimana memperkenalkan kemampuan mahasiswa ISI Yogyakarta kepada pihak Nanjing University of the Arts sehingga mahasiswa Indonesia, khususnya dari ISI Yogyakarta, mendapatkan kepercayaan untuk menempuh pendidikan di sana.
“Program ini merupakan proses yang cukup panjang. Saya mulai membangun komunikasi dengan pihak Nanjing sejak 2017. Dari awal saya berusaha membuka jalan agar mahasiswa ISI Yogyakarta mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan di sana,” ujar Yulriawan.
Upaya tersebut mulai membuahkan hasil pada 2017 ketika tujuh mahasiswa ISI Yogyakarta memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan magister di Nanjing University of the Arts. Pada tahap awal tersebut, mahasiswa Jurusan Kriya menjadi salah satu kelompok yang mendapatkan kesempatan.
Kesempatan kemudian berkembang pada 2018. Mahasiswa ISI Yogyakarta kembali mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan magister dengan berbagai bidang minat, antara lain keramik, kayu, perhiasan, seni lukis, tekstil, hingga perfilman.
Keragaman bidang tersebut menunjukkan bahwa akses pendidikan yang dibangun tidak hanya ditujukan untuk satu bidang seni tertentu. Mahasiswa dengan latar belakang dan minat yang berbeda mulai mendapatkan kesempatan untuk memperluas kompetensi mereka dalam lingkungan pendidikan seni internasional.
Pada 2019, kepercayaan tersebut semakin berkembang. Pihak Nanjing University of the Arts memberikan kuota bagi lima mahasiswa ISI Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan magister, termasuk satu mahasiswa yang memperoleh kesempatan mengikuti program doktoral.
Namun, perjalanan tersebut kemudian menghadapi kendala akibat pandemi COVID-19. Pada periode 2020 hingga 2023, kesempatan pengiriman mahasiswa melalui program tersebut terhenti karena kebijakan penghentian program oleh pemerintah China.
Terhentinya program selama beberapa tahun tidak menghentikan upaya untuk membangun kembali komunikasi yang telah dirintis sebelumnya. Setelah situasi memungkinkan, Yulriawan kembali melakukan pendekatan dan komunikasi dengan pihak Nanjing University of the Arts.
Upaya tersebut akhirnya kembali membuka kesempatan pada 2025. Pada tahun tersebut, mahasiswa ISI Yogyakarta mendapatkan kembali kuota untuk mengikuti pendidikan magister serta program kuliah singkat yang dikenal sebagai Summer Program.
Untuk program Summer Program pada 2025, terdapat lima mahasiswa yang mendapatkan kesempatan. Namun, karena dua peserta belum memenuhi persyaratan yang ditentukan, akhirnya tiga mahasiswa dapat diberangkatkan.
Bagi Yulriawan, kesinambungan kesempatan tersebut menjadi bagian penting dari proses membangun kepercayaan. Menurutnya, mendapatkan kuota bukanlah tujuan akhir. Hal yang lebih penting adalah bagaimana mahasiswa yang dikirim mampu menunjukkan kualitas akademik, kedisiplinan, serta prestasi selama berada di Nanjing.
“Kepercayaan itu harus dijaga. Karena itu, mahasiswa yang dikirim saya upayakan memiliki kemampuan akademik yang baik dan memiliki potensi untuk berprestasi. Ketika mereka mampu menunjukkan kualitasnya, hal itu juga ikut membawa nama baik ISI Yogyakarta,” katanya.
Perjalanan tersebut kemudian menunjukkan hasil yang semakin positif. Sejumlah mahasiswa ISI Yogyakarta yang pernah mengikuti pendidikan di Nanjing mampu menunjukkan prestasi di lingkungan internal Nanjing University of the Arts maupun dalam berbagai kegiatan di kawasan sekitarnya.
Pada 2025, misalnya, terdapat tiga mahasiswa ISI Yogyakarta yang mampu meraih prestasi di lingkungan internal kampus Nanjing University of the Arts serta memperoleh capaian dalam kegiatan di kawasan sekitarnya.
Prestasi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun reputasi mahasiswa ISI Yogyakarta di lingkungan akademik Nanjing. Kehadiran mahasiswa ISI Yogyakarta secara perlahan mulai mendapatkan perhatian dan diperhitungkan karena kualitas serta kemampuan mereka.
Bagi Yulriawan, capaian mahasiswa tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjuangan membuka akses pendidikan internasional.
“Bagi saya, keberhasilan mahasiswa adalah bagian terpenting dari proses ini. Ketika mereka berprestasi, yang dibawa bukan hanya nama pribadi, tetapi juga nama ISI Yogyakarta. Dari situlah kepercayaan dapat terus tumbuh,” jelasnya.
Dengan demikian, program tersebut tidak semata-mata dipandang sebagai kesempatan memperoleh beasiswa atau mengikuti pendidikan di luar negeri. Lebih dari itu, program tersebut menjadi ruang untuk membangun reputasi akademik mahasiswa ISI Yogyakarta di lingkungan internasional.
Memasuki 2026, kesempatan yang diperoleh kembali berkembang. Tahun ini sebanyak 12 mahasiswa ISI Yogyakarta mendapatkan kesempatan mengikuti program di Nanjing University of the Arts.
Enam mahasiswa akan melanjutkan pendidikan magister bidang Art Management, sedangkan enam mahasiswa lainnya mengikuti program Summer School selama satu semester.
Enam mahasiswa yang melanjutkan pendidikan magister adalah:
- Yunita Saputri — Kriya Tekstil
- Lisa Tiara Puspita — Kriya Tekstil
- Muhammad Fauzan — Tekstil
- Luna Chantiaya Rushartono — TKS
- Arifa Zulfa As Saadah — Seni Lukis
- Nona Rozalia — Musik
Sementara enam mahasiswa yang mengikuti program Summer School adalah:
- Agnes Cecillia Purba — Penyajian Musik
- Sefina Triadinda Veronica — Tari
- Diandranaya Erya Putri — Kriya Logam
- Clara Kimberly Thenara — Kriya Logam
- Naura Mutiara Jingga — Kriya Tekstil
- Nadhila Chairina Ramadhani Putri — Kriya Logam
Komposisi mahasiswa tahun ini juga semakin beragam. Mereka berasal dari berbagai latar belakang bidang seni, mulai dari musik, tari, kriya, seni lukis, dan bidang seni lainnya.
Para mahasiswa dijadwalkan berangkat ke Nanjing pada 10 September 2026, sedangkan proses registrasi dan kegiatan akademik dijadwalkan dimulai pada 14 September 2026.
Perjalanan sejak 2017 hingga 2026 memperlihatkan bagaimana sebuah upaya yang pada awalnya bersifat personal dapat berkembang menjadi jejaring akademik yang memberikan manfaat lebih luas bagi mahasiswa dan institusi.
Yulriawan menyebut proses tersebut sebagai perjalanan yang membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Menurutnya, membangun kerja sama internasional tidak cukup hanya dengan memperoleh kuota, tetapi juga harus dibarengi dengan kemampuan menjaga hubungan, memenuhi kepercayaan, serta menunjukkan kualitas mahasiswa yang dikirim.
Apa yang dilakukan selama hampir satu dekade tersebut pada akhirnya tidak hanya menghasilkan kesempatan bagi mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan di China, tetapi juga membangun hubungan akademik yang berkelanjutan antara mahasiswa ISI Yogyakarta dan lingkungan pendidikan seni di Nanjing.
“Saya melihat ini sebagai sebuah proses panjang. Yang saya perjuangkan sejak awal adalah membuka jalan bagi mahasiswa ISI Yogyakarta. Setelah jalan itu terbuka, tugas berikutnya adalah memastikan bahwa mahasiswa yang kita kirim mampu menjaga kepercayaan tersebut melalui sikap, kemampuan akademik, dan prestasi mereka,” ungkap Yulriawan.
Ia menambahkan, keberhasilan mahasiswa selama berada di Nanjing menjadi hal yang sangat penting karena capaian tersebut ikut menentukan keberlanjutan kesempatan bagi mahasiswa ISI Yogyakarta pada masa mendatang.
Yulriawan berharap mahasiswa yang melanjutkan pendidikan magister dapat menjalani studi dengan baik, menyelesaikan pendidikan tepat waktu, dan meraih prestasi akademik.
Lebih jauh, ia berharap lulusan tersebut nantinya dapat kembali ke Indonesia dan berkontribusi terhadap almamater. Mereka diharapkan dapat membawa pulang pengetahuan, pengalaman, serta wawasan internasional untuk kemudian dikembangkan di lingkungan ISI Yogyakarta.
“Harapan saya, mahasiswa yang menyelesaikan pendidikan magister nantinya tidak hanya memperoleh gelar, tetapi juga membawa pengalaman dan wawasan yang dapat diberikan kembali kepada almamater. Kalau mereka kelak menjadi pendidik di ISI Yogyakarta, pengalaman internasional tersebut akan menjadi kekuatan untuk ikut mengembangkan institusi,” katanya.
Sementara bagi enam mahasiswa yang mengikuti Summer School, program satu semester tersebut diharapkan menjadi ruang untuk memperluas wawasan dan pengalaman akademik. Mereka diharapkan dapat menyerap ilmu, metode pembelajaran, pengalaman praktik, serta lingkungan akademik internasional selama berada di Nanjing.
Yulriawan juga berharap kegiatan Summer School tersebut dapat diakui sebagai bagian dari proses akademik mahasiswa melalui mekanisme konversi nilai sesuai dengan kebijakan fakultas dan jurusan masing-masing. Dengan adanya penugasan resmi dari fakultas, pengalaman akademik selama satu semester di Nanjing diharapkan tetap memberikan kontribusi nyata terhadap proses pendidikan mahasiswa di ISI Yogyakarta.
Ke depan, ia berharap semakin banyak mahasiswa ISI Yogyakarta yang memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan S2 di luar negeri melalui skema beasiswa. Selain itu, ia juga ingin membuka peluang lebih luas bagi dosen ISI Yogyakarta yang ingin melanjutkan pendidikan doktoral (S3), khususnya di China dan Taiwan.
“Harapan saya, apa yang sudah dirintis sejak 2017 ini dapat terus dilanjutkan dan memberikan jalan bagi generasi berikutnya. Saya akan terus berusaha mencari peluang beasiswa, bukan hanya untuk mahasiswa yang ingin melanjutkan S2, tetapi juga untuk dosen ISI Yogyakarta yang ingin melanjutkan pendidikan S3,” pungkasnya.
Pengiriman 12 mahasiswa ISI Yogyakarta ke Nanjing University of the Arts pada 2026 menjadi bagian dari perjalanan panjang yang telah dibangun selama hampir satu dekade. Dari sebuah upaya membuka akses pendidikan, perjalanan tersebut berkembang menjadi jejaring akademik internasional yang semakin kuat.Di balik keberlanjutan program tersebut terdapat proses panjang berupa komunikasi, pendekatan, penjagaan kepercayaan, serta pembuktian melalui kualitas dan prestasi mahasiswa. Bagi ISI Yogyakarta, kesempatan tersebut bukan hanya tentang mengirim mahasiswa untuk belajar ke luar negeri, tetapi juga tentang membuka jalan agar generasi muda seni Indonesia memiliki pengalaman akademik internasional dan pada akhirnya kembali memberikan kontribusi bagi perkembangan almamater.






