Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

ISI Yogyakarta Sambut 1.967 Mahasiswa Baru, Siapkan Generasi Seni Inovatif dan Berintegritas di Era AI

ISI Yogyakarta Sambut 1.967 Mahasiswa Baru, Siapkan Generasi Seni Inovatif dan Berintegritas di Era AI

Yogyakarta — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menyambut 1.967 mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027 melalui Sidang Senat Terbuka yang digelar Rabu (19/8/2026). Para mahasiswa baru tersebut berhasil memperoleh tempat di ISI Yogyakarta setelah berkompetisi bersama 12.737 peserta, menunjukkan tingginya minat generasi muda untuk menempuh pendidikan tinggi seni di kampus tersebut.

Penerimaan mahasiswa baru tidak sekadar menjadi seremoni akademik, tetapi sekaligus menandai dimulainya proses pembentukan generasi seniman dan insan kreatif yang inovatif, berkarakter, berbudaya, adaptif terhadap teknologi, serta mampu menjawab perubahan dunia kreatif.

Dalam pidatonya, Rektor ISI Yogyakarta menekankan bahwa kesempatan menjadi mahasiswa ISI Yogyakarta harus dimanfaatkan tidak hanya untuk memperoleh nilai dan ijazah, tetapi untuk membangun karya, mengembangkan jejaring, menciptakan inovasi, dan membuka peluang baru.

“Datanglah ke kampus bukan hanya untuk belajar, tetapi untuk bertumbuh; bukan hanya untuk mendapatkan nilai, tetapi untuk menghasilkan karya; bukan hanya untuk mencari pekerjaan, tetapi untuk menciptakan lapangan pekerjaan,” pesan Rektor kepada mahasiswa baru.

Menurut Rektor, perkembangan teknologi digital, kecerdasan artifisial, media sosial, industri kreatif, dan ekonomi digital telah memperluas spektrum profesi di bidang seni. Lulusan pendidikan seni kini memiliki peluang untuk berkembang sebagai creative entrepreneur, art director, creative producer, kurator, art manager, visual storyteller, game artist, animator, filmmaker, digital artist, creative technologist, peneliti seni, serta berbagai profesi baru yang terus tumbuh mengikuti perkembangan zaman.

Karena itu, mahasiswa didorong memiliki kemampuan lebih dari sekadar penguasaan teknik. Mereka diharapkan mampu mengubah gagasan menjadi karya, karya menjadi nilai, dan nilai menjadi peluang.

ISI Yogyakarta juga mendorong mahasiswa baru menjadi generasi yang kreatif, kritis, dan kolaboratif. Kreativitas diperlukan untuk melahirkan gagasan dan karya baru, sikap kritis diperlukan untuk membaca perubahan sekaligus mempertanggungjawabkan karya secara akademik dan etis, sedangkan kolaborasi menjadi kunci dalam mempertemukan seni dengan teknologi, ekonomi, pendidikan, pariwisata, industri, ilmu pengetahuan, dan kebutuhan masyarakat.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, ISI Yogyakarta menempatkan kemanusiaan sebagai landasan proses kreatif. Kecerdasan artifisial, realitas virtual, augmented reality, multimedia, dan teknologi lainnya dipandang sebagai perangkat yang dapat memperluas kemungkinan penciptaan seni, bukan menggantikan kreativitas manusia.

“Teknologi boleh semakin canggih, tetapi kreativitas, karakter, etika, kepekaan, dan kemanusiaan harus tetap menjadi pusatnya,” tegas Rektor.

Pesan tersebut diperkuat melalui Kuliah Perdana Mahasiswa Baru 2026 bertema “Berkarya dengan Integritas di Era AI” yang disampaikan Dr. Deddy Setyawan, S.Sn., M.Sn. di Gedung Laboratorium Seni ISI Yogyakarta. Dosen Program Studi Produksi Film dan Televisi, Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta tersebut mengajak mahasiswa memahami peluang sekaligus risiko penggunaan kecerdasan artifisial dalam proses kreatif.

Dalam kuliah perdana, Deddy memperkenalkan semangat “Ojo Urik” atau “Jangan Curang” sebagai prinsip sederhana namun mendasar dalam menghadapi perkembangan teknologi. Mahasiswa diajak menjaga tiga prinsip kreator bermartabat, yakni jujur, menghargai sumber, dan bertanggung jawab penuh terhadap karya.

Penggunaan AI dalam proses penciptaan diarahkan melalui tahapan ideasi, proses hibrida antara teknologi dan intervensi manusia, hingga finalisasi yang tetap menempatkan manusia sebagai penentu kualitas dan integritas karya. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi di lingkungan pendidikan seni perlu berjalan beriringan dengan orisinalitas, etika, tanggung jawab sosial, serta penghargaan terhadap proses penciptaan.

“AI adalah alat untuk meningkatkan kreativitas, bukan pengganti jiwa dan integritas manusia,” menjadi salah satu pesan utama dalam kuliah perdana tersebut.

Komitmen terhadap integritas juga dituangkan dalam Janji Mahasiswa ISI Yogyakarta. Mahasiswa baru berjanji menjunjung nilai dasar negara dan nilai ilmiah, menjaga nama baik institusi, mengembangkan kebebasan akademik serta karya seni yang selaras antara estetika dan etika, membangun kejujuran dan etos kerja, mengembangkan kreativitas secara mandiri maupun kolaboratif, serta peduli terhadap kebutuhan masyarakat.

Mahasiswa juga berkomitmen melestarikan nilai budaya nasional sebagai dasar pengembangan kepribadian berkesenian untuk kebutuhan nasional dan internasional. Komitmen tersebut menjadi fondasi penting bagi proses pendidikan seni yang tidak berhenti pada penciptaan karya, tetapi juga diarahkan kepada tanggung jawab sosial dan kebudayaan.

Rangkaian penerimaan mahasiswa baru dilaksanakan dalam tradisi akademik Sidang Senat Terbuka ISI Yogyakarta. Prosesi antara lain diisi dengan Tari Saraswati, laporan penerimaan mahasiswa baru, pemakaian jaket almamater dan penyerahan kartu mahasiswa secara simbolis, pembacaan Janji Mahasiswa, serta pidato Rektor sebelum dilanjutkan dengan kuliah perdana.

Melalui penerimaan mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027, ISI Yogyakarta menegaskan arah pendidikan seni yang mempertemukan tradisi dan inovasi, kreativitas dan teknologi, serta kebebasan berkarya dan tanggung jawab etis. Mahasiswa didorong sejak awal untuk membangun portofolio, mengikuti pameran, festival dan kompetisi, memublikasikan karya, membangun jejaring nasional maupun internasional, serta terlibat langsung dalam ekosistem industri kreatif dan kehidupan masyarakat.

Dengan lingkungan pembelajaran berbasis kelas, studio, laboratorium, praktik kreatif, serta kolaborasi lintas disiplin, ISI Yogyakarta menempatkan kampus bukan semata sebagai tempat menghasilkan lulusan, melainkan sebagai ekosistem untuk menumbuhkan kreativitas, inovasi, kewirausahaan, jejaring, dan keberanian menciptakan masa depan.

Harapannya, dari ruang-ruang pendidikan ISI Yogyakarta akan terus lahir seniman dan insan kreatif yang berkarakter, memiliki identitas budaya yang kuat, terbuka terhadap perkembangan teknologi, mampu bersaing secara global, serta menghadirkan karya yang memberi dampak bagi masyarakat.

ISI Yogyakarta—berkarya untuk bangsa, berinovasi untuk dunia.

Search
Kategori

Share this post

Leave a Reply

en_USEN