Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

ISI Yogyakarta Perkuat Pelestarian Warisan Dunia melalui Kolaborasi Internasional Cultural Collisions Goes ArtJog

ISI Yogyakarta Perkuat Pelestarian Warisan Dunia melalui Kolaborasi Internasional Cultural Collisions Goes ArtJog

Yogyakarta, 26 Oktober 2027 – Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta terus memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi seni yang berkontribusi dalam pelestarian warisan budaya dunia melalui kolaborasi akademik internasional. Bersama Technische Universität Wien (TU Wien), Austria, dan Universitas Gadjah Mada (UGM), ISI Yogyakarta mengembangkan program Cultural Collisions Goes ArtJog melalui Summer Program 2026. Kolaborasi dalam jejaring ASEA-UNINET ini mengintegrasikan disiplin seni, sastra, dan arsitektur untuk memperkenalkan nilai-nilai Sumbu Filosofi Yogyakarta kepada generasi muda melalui pendekatan edukasi kreatif.

Program tersebut menjadikan Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai sumber pembelajaran sekaligus inspirasi penciptaan karya seni. Kawasan bersejarah yang resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO pada 18 September 2023 dengan nama The Cosmological Axis of Yogyakarta and its Historic Landmarks ini memiliki nilai penting dalam merepresentasikan filosofi kehidupan, kebudayaan, dan peradaban Jawa. Melalui pendekatan seni, nilai-nilai tersebut diinterpretasikan menjadi media pembelajaran yang lebih komunikatif, menarik, dan mudah dipahami oleh anak-anak sekolah.

Keterlibatan ISI Yogyakarta dalam kolaborasi internasional ini telah berlangsung sejak 2024, ketika TU Wien menggandeng Program Studi Konservasi Seni, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Yogyakarta, untuk mengembangkan media kreatif berupa karya seni yang menginterpretasikan makna Sumbu Filosofi Yogyakarta. Inisiatif tersebut menjadi langkah awal pengembangan pendekatan pelestarian warisan budaya yang tidak hanya berorientasi pada perlindungan fisik peninggalan sejarah, tetapi juga pada pewarisan pengetahuan dan nilai budaya kepada masyarakat.

Keberhasilan kerja sama tersebut mendorong perluasan kolaborasi pada 2025 melalui proyek Cultural Collisions Goes Indonesia. Program ini melibatkan mahasiswa Program Studi Konservasi Seni ISI Yogyakarta, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia UGM, serta Program Magister Arsitektur UGM. Ketiga disiplin ilmu tersebut dipertemukan untuk mengembangkan karya seni dan media naratif yang dapat membantu anak-anak sekolah di kawasan Sumbu Filosofi memahami sejarah, filosofi, serta pentingnya menjaga kelestarian warisan budaya dunia.

Memasuki 2026, kolaborasi tersebut dikembangkan melalui Cultural Collisions Goes ArtJog dengan fokus pada pendampingan anak-anak yang tinggal di kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta. Dalam kegiatan ini, anak-anak didorong untuk mengenali, memahami, dan menginterpretasikan lingkungan budaya mereka melalui penciptaan karya seni dua dimensi berupa gambar dan lukisan. Karya-karya tersebut direncanakan untuk dipamerkan dalam ajang seni rupa ARTJOG 2027, sehingga memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk menampilkan ekspresi kreatif mereka kepada masyarakat yang lebih luas.

Proses penciptaan karya mengangkat berbagai unsur penting Sumbu Filosofi Yogyakarta, mulai dari Panggung Krapyak, Keraton Yogyakarta, Tugu Golong Gilig, nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, hingga vegetasi yang tumbuh di sepanjang kawasan tersebut. Melalui kegiatan menggambar dan melukis, anak-anak tidak hanya mengenal bentuk visual bangunan dan lingkungan bersejarah, tetapi juga diajak memahami hubungan antara seni, ruang, alam, dan nilai budaya yang membentuk identitas Yogyakarta.

Bagi ISI Yogyakarta, program ini menjadi wujud nyata penerapan keilmuan seni di tengah masyarakat. Keahlian akademik dalam bidang konservasi seni dikembangkan menjadi pendekatan pendidikan budaya yang partisipatif, sekaligus memperlihatkan bahwa seni memiliki peran strategis dalam menyampaikan pengetahuan, membangun kesadaran, dan menumbuhkan kepedulian terhadap keberlanjutan warisan budaya. Keterlibatan mahasiswa dalam proyek lintas disiplin dan lintas negara juga membuka ruang pertukaran pengetahuan serta pengembangan pengalaman akademik dalam lingkungan kolaborasi internasional.

Lebih jauh, kegiatan ini sejalan dengan upaya Balai Pelestarian Kawasan Sumbu Filosofi, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap nilai penting Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai warisan dunia. Pendekatan edukasi melalui seni diharapkan mampu memperluas jangkauan sosialisasi pelestarian budaya, khususnya kepada anak-anak sebagai generasi penerus yang memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan identitas budaya bangsa.

Kolaborasi bersama TU Wien dan UGM sekaligus memperlihatkan kapasitas ISI Yogyakarta dalam membangun jejaring akademik internasional yang menghasilkan kontribusi nyata bagi masyarakat. Melalui perpaduan pendidikan, penciptaan seni, konservasi, dan pengabdian kepada masyarakat, ISI Yogyakarta semakin memperkuat posisinya sebagai perguruan tinggi seni yang berperan aktif dalam pengembangan pengetahuan, diplomasi budaya, serta pelestarian warisan budaya Indonesia di tingkat global.

Program Cultural Collisions Goes ArtJog juga menegaskan bahwa kekayaan budaya lokal memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui kerja sama internasional tanpa kehilangan nilai dan identitasnya. Dengan menjadikan seni sebagai jembatan antara pendidikan, masyarakat, dan warisan budaya dunia, ISI Yogyakarta terus menghadirkan praktik pendidikan tinggi seni yang inovatif, kolaboratif, dan berdampak bagi generasi mendatang.

Search
Kategori

Share this post

Leave a Reply