Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Nusantara Living Heritage Futures Lab, Langkah ISI Yogyakarta Memimpin Kolaborasi Seni Global

Nusantara Living Heritage Futures Lab, Langkah ISI Yogyakarta Memimpin Kolaborasi Seni Global

Yogyakarta, 7 Juli 2026 — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta meneguhkan posisinya sebagai perguruan tinggi seni bereputasi internasional melalui partisipasi dalam 14th Franco-Indonesian Joint Working Group on Higher Education, Research, Innovation and Entrepreneurship (JWG) 2026 yang berlangsung di Angers, Prancis.

Dalam forum strategis Indonesia–Prancis tersebut, ISI Yogyakarta diwakili oleh Dr. Muhammad Kholid Arif Rozaq, S.Hut., M.M., Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama, dan Alumni, serta Dr. Dewanto Sukistono, M.Sn., Wakil Rektor Bidang Akademik dan Perencanaan. Keduanya berpartisipasi dalam workshop tematik Culture, Art, Tourism and Language yang membahas penguatan kerja sama di bidang seni, budaya, pariwisata, bahasa, pendidikan tinggi, riset, dan inovasi.

Pada forum ini, ISI Yogyakarta memperkenalkan gagasan Nusantara Living Heritage Futures Lab, yaitu platform kolaborasi internasional yang menghubungkan warisan budaya hidup, riset artistik, konservasi, inovasi transmedia, dan kewirausahaan kreatif. Program ini dirancang untuk mendorong kerja sama akademik yang tidak berhenti pada pertukaran budaya, tetapi juga menghasilkan riset, karya, publikasi, arsip digital, serta pengembangan program bersama dengan mitra internasional.

Dr. Muhammad Kholid Arif Rozaq menyampaikan bahwa keikutsertaan ISI Yogyakarta dalam JWG 2026 merupakan langkah strategis untuk menunjukkan kapasitas perguruan tinggi seni Indonesia dalam membangun kolaborasi global berbasis seni dan budaya.

“ISI Yogyakarta datang ke JWG 2026 dengan keyakinan bahwa seni Indonesia bukan hanya warisan yang harus dijaga, tetapi pengetahuan hidup yang mampu merancang masa depan. Nusantara Living Heritage Futures Lab adalah tawaran agar warisan budaya Nusantara dibaca sebagai basis riset artistik, konservasi tropis, penciptaan transmedia, dan kewirausahaan kreatif,” ujar Kholid.

Sementara itu, Dr. Dewanto Sukistono menegaskan bahwa gagasan tersebut sejalan dengan posisi akademik ISI Yogyakarta sebagai kampus seni dengan ekosistem keilmuan yang lengkap, mulai dari seni rupa dan desain, seni pertunjukan, seni media rekam, hingga pascasarjana dan riset.

“Dari sisi akademik, JWG 2026 memperkuat arah ISI Yogyakarta sebagai living heritage campus. Kekuatan kami bukan hanya pada kemampuan menampilkan seni, tetapi pada kapasitas membaca, meneliti, mengonservasi, mencipta, dan mendistribusikan pengetahuan seni ke ruang global,” ujar Dewanto.

Melalui Nusantara Living Heritage Futures Lab, ISI Yogyakarta menawarkan berbagai peluang kerja sama, antara lain international summer school, joint short course, research and creation residency, joint studio, pameran kuratorial bersama, pertunjukan, pemutaran film, publikasi bersama, katalog digital, serta kemitraan riset dan industri kreatif jangka panjang.

Program ini juga mengangkat kekayaan budaya Nusantara seperti wayang beber, gamelan, batik, kriya, patung, topeng, boneka, film, fotografi, animasi, dan transmedia sebagai sumber pengetahuan, penciptaan, konservasi, dan inovasi kreatif. Dalam konteks kerja sama Indonesia–Prancis, ISI Yogyakarta melihat peluang kuat untuk mempertemukan tradisi museum, konservasi, animasi, desain, festival, dan manajemen budaya Prancis dengan kekuatan living heritage dan ekosistem seni Indonesia.

Keikutsertaan ISI Yogyakarta dalam JWG Prancis 2026 mempertegas peran kampus ini bukan hanya sebagai peserta jejaring internasional, tetapi sebagai institusi yang membawa gagasan, metode, dan platform kolaborasi. Dari Angers, ISI Yogyakarta membawa pesan bahwa seni Indonesia tidak hanya hidup sebagai identitas budaya, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan, inovasi, diplomasi budaya, dan kolaborasi global yang berdampak.

Search
Kategori

Share this post

Leave a Reply

en_USEN