Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Dua Mahasiswa Seni Murni ISI Yogyakarta Terpilih dalam Program Nasional Belajar Bersama Maestro 2026

Dua Mahasiswa Seni Murni ISI Yogyakarta Terpilih dalam Program Nasional Belajar Bersama Maestro 2026

Yogyakarta — Dua mahasiswa Program Studi Seni Murni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Katitis Sekaring Gusti dan Pramudana Dwi Permana, berhasil lolos seleksi nasional untuk mengikuti Residensi Seni Lukis Program Belajar Bersama Maestro (BBM) 2026 yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Capaian ini menjadi salah satu bukti daya saing mahasiswa ISI Yogyakarta dalam ruang pengembangan talenta seni di tingkat nasional.

Program residensi berlangsung selama satu bulan, 15 Juli–15 Agustus 2026, di Studio Empu I Gusti Nengah Nurata, Surakarta. Selama program, kedua mahasiswa ISI Yogyakarta mengikuti proses penciptaan karya, eksplorasi artistik, diskusi, dan pembelajaran secara langsung bersama Maestro I Gusti Nengah Nurata.

Belajar Bersama Maestro menjadi ruang penting bagi generasi muda untuk memperoleh pengalaman artistik secara langsung dari seniman yang telah memiliki perjalanan panjang dalam dunia seni rupa Indonesia. Melalui residensi tersebut, peserta tidak hanya belajar mengenai teknik dan medium, tetapi juga proses membangun gagasan, membaca lingkungan, mengembangkan sensibilitas artistik, hingga memahami konsistensi dalam perjalanan penciptaan karya.

Bagi Katitis dan Pramudana, kesempatan mengikuti residensi memberikan pengalaman pembelajaran yang melengkapi proses akademik yang selama ini dijalani di Program Studi Seni Murni ISI Yogyakarta. Interaksi langsung dengan maestro memungkinkan keduanya melihat lebih dekat bagaimana sebuah gagasan dikembangkan menjadi karya melalui proses eksplorasi, refleksi, dan praktik yang intensif.

Keikutsertaan dua mahasiswa tersebut juga menunjukkan kapasitas mahasiswa ISI Yogyakarta untuk berkompetisi dan berpartisipasi dalam program pengembangan seni berskala nasional. Lingkungan akademik yang mendorong eksperimen, pengembangan konsep, penguasaan medium, serta keterbukaan terhadap berbagai praktik seni menjadi modal penting bagi mahasiswa untuk berkembang di luar ruang perkuliahan.

Selama satu bulan residensi, peserta memperoleh kesempatan untuk berkarya secara intensif dalam lingkungan yang mendukung proses penciptaan. Pengalaman tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperluas cara pandang terhadap seni sekaligus mengembangkan karakter artistik masing-masing.

Hasil karya yang lahir selama proses residensi selanjutnya dipresentasikan melalui pameran di Galeri Seruni ISI Surakarta pada 11–28 Agustus 2026. Pameran tersebut menjadi bagian dari rangkaian Program Belajar Bersama Maestro 2026 sekaligus ruang bagi peserta untuk memperkenalkan hasil proses kreatifnya kepada publik.

Presentasi karya melalui pameran menjadi tahapan penting dalam pendidikan seni karena mahasiswa tidak hanya dituntut mampu menciptakan karya, tetapi juga memiliki pengalaman dalam menghadirkan karya di ruang publik, membangun komunikasi dengan audiens, serta memahami proses apresiasi seni secara lebih luas.

Rangkaian Program Belajar Bersama Maestro 2026 kemudian ditutup dengan penyerahan sertifikat pada 26 Agustus 2026 oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. (Hon) Dr. Fadli Zon, M.Sc. Penyerahan sertifikat menjadi penanda berakhirnya proses residensi sekaligus bentuk pengakuan atas partisipasi peserta dalam program pembelajaran dan pengembangan talenta seni.

Bagi ISI Yogyakarta, keterlibatan mahasiswa dalam program tersebut sejalan dengan komitmen institusi dalam memperluas ruang pembelajaran di luar kampus. Mahasiswa terus didorong untuk mengikuti residensi, pameran, kompetisi, festival, penelitian, pertukaran pengetahuan, serta berbagai program seni dan kebudayaan pada tingkat nasional maupun internasional.

Model pembelajaran tersebut menjadi bagian penting dalam pendidikan tinggi seni. Proses akademik di kampus diperkuat dengan pengalaman langsung di tengah ekosistem seni sehingga mahasiswa dapat mengembangkan tidak hanya kemampuan teknis, tetapi juga wawasan, jejaring, kemandirian, kemampuan beradaptasi, dan profesionalisme.

Keberhasilan Katitis Sekaring Gusti dan Pramudana Dwi Permana menembus seleksi nasional BBM 2026 sekaligus memperlihatkan kontribusi Program Studi Seni Murni ISI Yogyakarta dalam menyiapkan generasi muda seniman yang memiliki landasan akademik sekaligus pengalaman praktik yang kuat.

Program Studi Seni Murni ISI Yogyakarta selama ini menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan penguasaan dasar-dasar seni rupa, eksplorasi medium, pengembangan konseptual, serta berbagai pendekatan penciptaan kontemporer. Lingkungan tersebut memungkinkan mahasiswa mengembangkan bahasa artistik dan menemukan arah praktik penciptaannya secara lebih mandiri.

Pengalaman residensi bersama Maestro I Gusti Nengah Nurata diharapkan turut memperkaya proses pembelajaran yang telah diperoleh Katitis dan Pramudana di kampus. Pengetahuan dan pengalaman tersebut juga berpotensi menjadi bagian dari pertukaran gagasan dengan mahasiswa lain ketika keduanya kembali ke lingkungan akademik.

Keterlibatan mahasiswa dalam program nasional seperti BBM juga memiliki arti strategis bagi penguatan jejaring pendidikan seni. Pertemuan antara mahasiswa, maestro, institusi pendidikan, pemerintah, dan ruang kebudayaan membuka peluang terciptanya ekosistem pembelajaran seni yang semakin luas dan berkelanjutan.

Sebagai perguruan tinggi seni, ISI Yogyakarta terus menempatkan pengembangan talenta sebagai salah satu bagian penting dari proses pendidikan. Mahasiswa diarahkan tidak hanya untuk menghasilkan karya, tetapi juga memiliki kemampuan membaca perkembangan zaman, memahami konteks sosial budaya, membangun jejaring profesional, dan berkontribusi bagi kehidupan seni serta kebudayaan.

Partisipasi mahasiswa ISI Yogyakarta dalam Residensi Seni Lukis Belajar Bersama Maestro 2026 semakin meneguhkan peran kampus dalam proses regenerasi seniman Indonesia. Pendidikan seni di perguruan tinggi menjadi fondasi yang kemudian diperkuat melalui pengalaman nyata bersama para pelaku dan maestro di lapangan.

Dari ruang perkuliahan di ISI Yogyakarta menuju studio maestro dan ruang pamer, perjalanan Katitis Sekaring Gusti dan Pramudana Dwi Permana menunjukkan pentingnya kolaborasi antara pendidikan akademik dan pengalaman praktik. Proses tersebut menjadi bagian dari upaya membentuk generasi seniman yang memiliki kedalaman gagasan, kemampuan berkarya, serta kesiapan untuk terlibat dalam perkembangan seni rupa Indonesia.

Melalui capaian mahasiswa dalam berbagai program nasional dan internasional, ISI Yogyakarta terus memperkuat posisinya sebagai perguruan tinggi seni yang aktif mengembangkan talenta, membangun jejaring, serta memberikan kontribusi nyata bagi keberlanjutan seni dan kebudayaan Indonesia.

Cari
Kategori

Bagikan postingan ini

Tinggalkan Balasan