Yogyakarta, 16 September 2026 — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta melalui Program Studi S-1 Pendidikan Musik, Fakultas Seni Pertunjukan, akan menyelenggarakan International Symposium “Reimagining Music Education: AI, Technology, and Creative Learning” pada Rabu, 30 September 2026. Forum akademik internasional tersebut akan berlangsung pukul 08.00–16.00 WIB secara hibrida, dengan kegiatan luring bertempat di Concert Hall ISI Yogyakarta dan partisipasi daring melalui Zoom Meeting.
Simposium ini menjadi ruang pertemuan akademisi, pendidik, seniman, dan praktisi untuk mendiskusikan perkembangan hubungan antara kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), teknologi, kreativitas, dan pendidikan musik. Forum tersebut juga mengangkat pertanyaan penting mengenai posisi manusia di tengah perubahan cara belajar, berkarya, dan mengajarkan musik akibat perkembangan teknologi.
Penyelenggaraan forum internasional ini menghadirkan narasumber dari berbagai perguruan tinggi dan institusi di Indonesia, Amerika Serikat, Vietnam, Belgia, Argentina, dan Thailand. Kehadiran akademisi lintas negara memberikan perspektif yang beragam mengenai perkembangan pendidikan musik sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan dan penguatan jejaring akademik internasional.
Sejumlah akademisi yang dijadwalkan menjadi keynote speakers adalah Prof. Triyono Bramantyo, Ph.D. dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta; Prof. Rachmi Dyah Larasati, Ph.D. dari University of Minnesota, Amerika Serikat; Patrick Gunawan Hartono, Ph.D. dari RMIT University Vietnam; Mag. Leandro Garber dari UNTREF/CONICET, Argentina; Dr. Freyja Van Den Boom, Ph.D., M.Sc., LL.M. dari Sint Lucas Antwerpen, School of Arts, Belgia; serta Akbar Bagaskara, M.Pd., M.A. dari Chulalongkorn University, Thailand.
Diskusi dalam simposium akan dipandu oleh Reza Ginandha S., S.Pd., M.Sn., Indra Kusuma W., M.Sn., dan Henry Yuda Oktadus, M.Sn. Keterlibatan narasumber dan moderator dengan latar belakang akademik yang beragam diharapkan dapat memperluas pembahasan mengenai bagaimana pendidikan musik dapat merespons perkembangan teknologi tanpa meninggalkan dimensi kreativitas, ekspresi, sensitivitas artistik, dan nilai kemanusiaan.
Tema “Reimagining Music Education: AI, Technology, and Creative Learning” menjadi relevan seiring semakin luasnya pemanfaatan teknologi digital dan AI dalam proses penciptaan, pembelajaran, produksi, hingga distribusi musik. Perubahan tersebut membuka berbagai kemungkinan baru sekaligus menghadirkan kebutuhan untuk merumuskan kembali pendekatan pendidikan musik yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Melalui kegiatan ini, ISI Yogyakarta memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi seni yang tidak hanya berfokus pada pelestarian dan pengembangan praktik kesenian, tetapi juga aktif merespons transformasi teknologi serta perkembangan pengetahuan global. Pertemuan akademik lintas negara tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring internasional dan memperkuat ekosistem pendidikan seni yang terbuka terhadap inovasi.
Penyelenggaraan simposium juga menunjukkan komitmen Program Studi S-1 Pendidikan Musik, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta dalam mengembangkan ruang akademik yang mempertemukan seni, pendidikan, teknologi, dan pemikiran kritis. Melalui pertukaran pengalaman serta gagasan dari berbagai negara, kegiatan ini diharapkan dapat mendorong munculnya pendekatan baru dalam pembelajaran musik yang tetap menempatkan kreativitas manusia sebagai elemen penting.
Simposium terbuka bagi akademisi, mahasiswa, pendidik, seniman, praktisi, serta masyarakat yang memiliki perhatian terhadap perkembangan musik, pendidikan, dan teknologi. Peserta akan memperoleh e-certificate, seminar kit, serta kesempatan mengikuti networking session. Pendaftaran dapat dilakukan dengan memindai QR Code yang tercantum pada poster kegiatan, dengan batas pendaftaran 28 September 2026.
Informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui Sagaf (0899-5220-777) dan Ida Ayu (0813-3939-9831).
Dengan menghadirkan dialog internasional mengenai AI dan pendidikan musik, ISI Yogyakarta terus memperluas kontribusinya dalam percakapan global tentang masa depan pendidikan seni serta memperkuat posisi kampus sebagai ruang pengembangan kreativitas, inovasi, dan pengetahuan seni yang relevan dengan perubahan zaman.






