Yogyakarta, 13 Mei 2026 — Jurusan Etnomusikologi, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, menyelenggarakan kegiatan Philosophy Class: Field Trip Edition dengan mengunjungi Istana Negara Gedung Agung Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran kontekstual yang menghubungkan kajian filsafat, seni, sejarah, arsitektur, dan nilai-nilai kebangsaan.
Melalui kunjungan tersebut, mahasiswa diajak melihat lebih dekat “Wajah Yogyakarta” sebagai ruang sejarah, budaya, dan pemikiran bangsa. Gedung Agung tidak hanya dipahami sebagai bangunan bersejarah, tetapi juga sebagai simbol perjalanan Indonesia, pusat ingatan kolektif, serta ruang representasi nilai luhur yang membentuk identitas kebangsaan.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa pembelajaran seni di ISI Yogyakarta tidak berhenti pada praktik musikal atau penciptaan karya semata. Dalam tradisi akademik Etnomusikologi, seni dipelajari sebagai bagian dari kehidupan manusia yang berkaitan erat dengan sejarah, masyarakat, filsafat, kebudayaan, dan cara berpikir kritis.
Melalui field trip ini, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung untuk membaca makna di balik ruang, arsitektur, simbol, dan narasi sejarah yang hadir di Gedung Agung. Dari ruang kelas dan buku-buku filsafat, mahasiswa dibawa menuju realitas sejarah yang hidup, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih reflektif, kritis, dan relevan dengan konteks kebudayaan Indonesia.
Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta memandang kegiatan ini sebagai upaya memperluas cakrawala mahasiswa dalam memahami seni sebagai praktik intelektual sekaligus kultural. Seni tidak hanya diposisikan sebagai ekspresi bunyi, pertunjukan, atau bentuk estetis, tetapi juga sebagai jalan untuk memahami manusia, nilai, ruang, memori, dan peradaban.
“Kegiatan ini menjadi bagian penting dari pembelajaran yang menempatkan mahasiswa sebagai pembaca aktif atas realitas budaya dan sejarah. Seni bukan hanya soal suara, tetapi juga soal pemikiran mendalam, kepekaan membaca tanda, serta kemampuan memahami nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat,” demikian pernyataan pihak Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta.
Kunjungan ke Gedung Agung juga memperlihatkan komitmen ISI Yogyakarta dalam menghadirkan pendidikan seni yang tidak terlepas dari akar sejarah dan kebudayaan bangsa. Sebagai perguruan tinggi seni terkemuka, ISI Yogyakarta terus mendorong mahasiswa untuk tidak hanya terampil dalam bidang seni, tetapi juga memiliki wawasan luas, kepekaan sosial, serta kesadaran historis yang kuat.
Melalui kegiatan semacam ini, ISI Yogyakarta meneguhkan posisinya sebagai institusi pendidikan tinggi seni yang mengembangkan pembelajaran lintas disiplin. Mahasiswa tidak hanya dibekali kemampuan artistik, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, membaca konteks, dan memahami seni sebagai bagian dari dinamika kehidupan bangsa.
Philosophy Class: Field Trip Edition menjadi bukti bahwa proses pendidikan di ISI Yogyakarta terus bergerak secara kreatif dan relevan. Dengan memadukan pembelajaran filsafat, pengalaman lapangan, dan refleksi kebudayaan, ISI Yogyakarta memperkuat perannya sebagai ruang lahirnya insan seni yang berpengetahuan, berkarakter, dan memiliki kontribusi penting bagi kebudayaan Indonesia.







