Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Kepercayaan Internasional Menguat, Empat Perguruan Tinggi Malaysia Benchmarking ke ISI Yogyakarta

Kepercayaan Internasional Menguat, Empat Perguruan Tinggi Malaysia Benchmarking ke ISI Yogyakarta

Yogyakarta, 18 Agustus 2026 — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali menjadi tujuan benchmarking perguruan tinggi internasional. Sebanyak delapan dosen dan empat mahasiswa dari empat perguruan tinggi Malaysia, yakni Universiti Teknologi MARA (UiTM), Universiti Putra Malaysia (UPM), Universiti Pertahanan Nasional Malaysia (UPNM), dan Politeknik Ibrahim Sultan (PIS), melakukan benchmarking ke Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Yogyakarta.

Kunjungan empat institusi pendidikan tinggi tersebut memperlihatkan semakin kuatnya kepercayaan mitra internasional terhadap pengalaman akademik, ekosistem penciptaan seni, serta pengembangan pendidikan kriya di ISI Yogyakarta. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari implementasi kerja sama internasional yang telah terbangun dan membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara Indonesia dan Malaysia.

Rombongan diterima oleh Dekan FSRD ISI Yogyakarta Muhamad Sholahuddin, M.T., bersama Ketua Jurusan Kriya, Koordinator Program Studi Desain Mode Kriya Batik, Sekretaris Jurusan Kriya, Bagian Internasional Jurusan Kriya, serta sejumlah dosen Jurusan Kriya.

Benchmarking diinisiasi oleh Dr. Hema Zulaika Hashim selaku pimpinan rombongan dari UiTM Malaysia bersama Dr. Yulriawan Dafri selaku Koordinator Bagian Internasional Jurusan Kriya ISI Yogyakarta. Kegiatan tersebut menjadi kelanjutan hubungan akademik yang telah berlangsung antara kedua pihak, termasuk kegiatan serupa yang dilaksanakan UiTM bersama Jurusan Kriya FSRD ISI Yogyakarta pada 2025.

Kepercayaan tersebut tidak terlepas dari rekam jejak panjang Jurusan Kriya FSRD ISI Yogyakarta dalam pendidikan tinggi seni. Dengan capaian akreditasi unggul serta sertifikasi internasional FIBAA, Jurusan Kriya terus mengembangkan lingkungan akademik yang mempertemukan tradisi, penciptaan seni, desain, penelitian, dan kebutuhan perkembangan industri kreatif.

Rombongan UiTM, UPM, UPNM dan PIS Malaysia berfoto bersama dengan dosen dan mahasiswa Jurusan Kriya

Agenda benchmarking diawali dengan pertemuan bersama pimpinan FSRD ISI Yogyakarta, kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke Galeri Kriya. Para delegasi melihat secara langsung berbagai karya mahasiswa dan dosen yang merepresentasikan kekayaan pendekatan penciptaan serta pengembangan kriya di lingkungan ISI Yogyakarta.

Koleksi karya yang dipamerkan mendapatkan perhatian dari rombongan Malaysia. Para delegasi menyampaikan ketertarikan terhadap karya-karya mahasiswa dan dosen serta membuka kemungkinan bagi mahasiswa mereka untuk datang ke Jurusan Kriya ISI Yogyakarta guna bertukar pengetahuan, pengalaman, dan praktik penciptaan.

Interaksi akademik kemudian diperkuat melalui sharing session yang mempertemukan dosen dan mahasiswa dari UiTM, UPM, UPNM, dan PIS dengan dosen serta mahasiswa Jurusan Kriya ISI Yogyakarta, yang terdiri atas Program Studi S-1 Kriya dan D-4 Desain Mode Kriya Batik.

Forum tersebut menjadi ruang penting untuk mendiskusikan perkembangan pendidikan kriya di Indonesia dan Malaysia. Kedekatan sejarah dan budaya membuat kedua negara memiliki sejumlah kesamaan dalam tradisi kriya, tetapi pada saat yang sama terdapat beragam perbedaan dalam praktik, pengembangan material, desain, hingga konteks sosial budaya yang memberikan peluang besar untuk dikaji dan dikembangkan bersama.

Dari pertemuan tersebut muncul sejumlah rencana tindak lanjut, di antaranya program pertukaran dosen dan mahasiswa antara Jurusan Kriya ISI Yogyakarta dan UiTM Malaysia, kegiatan di bidang fashion, serta penyelenggaraan pameran berskala kecil atau mini exhibition. Potensi kerja sama tersebut memperluas ruang mobilitas akademik sekaligus memberi kesempatan kepada mahasiswa dan dosen untuk memperoleh pengalaman lintas budaya dan jejaring profesional internasional.

Diskusi dan Sharing Session

Bagi ISI Yogyakarta, kunjungan empat perguruan tinggi Malaysia dalam waktu bersamaan memiliki arti strategis. Benchmarking bukan hanya menjadi forum berbagi praktik baik, tetapi juga menunjukkan bahwa pengetahuan, pengalaman, dan ekosistem pendidikan seni yang dikembangkan ISI Yogyakarta memiliki daya tarik bagi institusi pendidikan tinggi di kawasan.

Posisi tersebut semakin penting di tengah perkembangan pendidikan tinggi seni yang membutuhkan keterhubungan antara kekuatan tradisi, inovasi penciptaan, teknologi, industri kreatif, dan jejaring global. Kriya, dengan kekayaan pengetahuan material dan budaya yang dimiliki Indonesia, menjadi salah satu bidang strategis yang dapat dikembangkan melalui kolaborasi internasional.

Kegiatan juga dilengkapi dengan kunjungan ke panti asuhan sebagai bagian dari aktivitas tanggung jawab sosial perguruan tinggi Malaysia, serta kunjungan ke HS Silver Kotagede dan ARTJOG. Rangkaian tersebut memberi kesempatan kepada delegasi untuk melihat hubungan antara pendidikan seni, praktik kriya, industri kreatif, kehidupan sosial, dan ekosistem seni yang berkembang di Yogyakarta.

Melalui kunjungan ini, Jurusan Kriya FSRD ISI Yogyakarta tidak hanya memperluas jaringan kerja sama, tetapi juga semakin menegaskan perannya sebagai ruang pertemuan pengetahuan kriya, penciptaan seni, desain, dan pertukaran budaya di tingkat internasional.

Kepercayaan empat perguruan tinggi Malaysia untuk melakukan benchmarking menjadi modal penting bagi ISI Yogyakarta untuk terus memperkuat internasionalisasi pendidikan, memperluas mobilitas dosen dan mahasiswa, serta menghadirkan seni dan kriya Indonesia dalam percakapan akademik global.

Search
Kategori

Share this post