SINGAPURA — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta berpartisipasi dalam The 3rd SEArch Alliance Roundtable Meeting dan UOB-NAFA Southeast Asian Arts Forum 2026 yang diselenggarakan di Nanyang Academy of Fine Arts–University of the Arts Singapore (NAFA-UAS), Singapura. Forum bertema “Margins and Methods for Inclusive Worlds”tersebut menjadi ruang pertemuan akademik dan seni untuk memperkuat jejaring, kolaborasi, serta pertukaran pengetahuan di kawasan Asia Tenggara.
ISI Yogyakarta mengirimkan dua delegasi, yakni Dr. Fortunata Tyasrinestu, M.Si., Direktur Program Pascasarjana ISI Yogyakarta, dan Octavianus Cahyono Priyanto, Ph.D., Koordinator Program Studi Seni Program Doktor Program Pascasarjana ISI Yogyakarta. Keduanya mendapat penugasan resmi dari Rektor ISI Yogyakarta untuk mengikuti rangkaian kegiatan di Singapura pada 10–14 Agustus 2026.
Salah satu agenda utama berlangsung pada 12 Agustus 2026 melalui 3rd SEArch Alliance Roundtable Presentation di Nanyang Academy of Fine Arts. Dokumentasi kegiatan memperlihatkan forum tersebut mempertemukan anggota SEArch Alliance dalam ruang presentasi dan dialog antarinstitusi. Pertemuan ini menjadi bagian penting dari upaya membangun hubungan akademik dan kreatif yang lebih luas di antara perguruan tinggi dan institusi seni di Asia Tenggara.


Keikutsertaan ISI Yogyakarta berangkat dari undangan resmi Nanyang Academy of Fine Arts–University of the Arts Singapore. Dalam undangan tersebut, forum ditempatkan tidak hanya sebagai pertemuan seni, tetapi juga sebagai ruang untuk mengembangkan hubungan kreatif dan akademik, memperbesar peluang sinergi antarinstitusi, serta memperkuat kolaborasi dan penelitian di kawasan Asia Tenggara.
Tema “Margins and Methods for Inclusive Worlds”memberi perhatian pada persoalan inklusivitas dalam praktik seni kontemporer. Forum menghadirkan seniman, desainer, akademisi, dan pemikir untuk mendiskusikan bagaimana praktik artistik dan metode kreatif dapat membuka ruang yang lebih luas bagi keberagaman pengalaman, cara memahami dunia, dan bentuk-bentuk pengetahuan yang selama ini berada di wilayah marginal.
Bagi ISI Yogyakarta, keterlibatan dalam SEArch Alliance memiliki arti strategis karena membuka ruang bagi pengembangan jejaring akademik internasional sekaligus memperluas kemungkinan kerja sama di bidang pendidikan seni, penelitian, penciptaan, dan pertukaran pengetahuan. Partisipasi tersebut juga menempatkan perguruan tinggi seni Indonesia dalam percakapan yang lebih luas mengenai arah perkembangan pendidikan dan praktik seni di Asia Tenggara.
Keikutsertaan delegasi Pascasarjana ISI Yogyakarta dalam forum ini sekaligus menunjukkan pentingnya hubungan internasional sebagai bagian dari pengembangan ekosistem akademik. Pertemuan dengan berbagai institusi dan pelaku seni regional diharapkan dapat menjadi pijakan bagi penguatan kolaborasi, pengembangan penelitian bersama, serta pertukaran gagasan yang relevan dengan dinamika seni dan pendidikan tinggi seni kontemporer.
Melalui forum tersebut, ISI Yogyakarta terus memperluas keterlibatannya dalam jejaring seni dan pendidikan tinggi di Asia Tenggara, sembari membawa perspektif dan pengalaman Indonesia ke dalam dialog regional mengenai seni, metode, keberagaman, dan pembangunan dunia yang lebih inklusif.







