Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Enam Dosen Perempuan ISI Yogyakarta sebagai Seniman dan Kurator dalam Pameran Seni Internasional Beginning Becoming

Enam Dosen Perempuan ISI Yogyakarta sebagai Seniman dan Kurator dalam Pameran Seni Internasional Beginning Becoming

Yogyakarta – Dosen perempuan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali menunjukkan kiprahnya dalam dunia seni internasional melalui keterlibatan sebagai seniman dan kurator pada pameran Beginning Becoming. Pameran yang mempertemukan seniman perempuan dari lima negara, yakni Indonesia, Malaysia, Luxembourg, Belanda, dan Swiss, ini berlangsung pada 26 September hingga 16 Oktober 2026 di ViaVia Jogja Resto, Jalan Prawirotaman No. 30, Yogyakarta.

Keterlibatan para akademisi ISI Yogyakarta dalam pameran lintas negara tersebut memperlihatkan peran aktif perguruan tinggi seni dalam pengembangan praktik artistik, pertukaran gagasan, serta penguatan jejaring seni internasional. Partisipasi ini sekaligus menjadi salah satu wujud kontribusi dosen ISI Yogyakarta sebagai pendidik dan praktisi seni yang terus berkarya di tengah perkembangan seni kontemporer.

Sebanyak enam dosen perempuan ISI Yogyakarta terlibat dalam kegiatan ini. Dari Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Ripase Nostanta Br. Purba berperan sebagai kurator, sedangkan Della Chintya, Dyah Retno, Lily Elserisa, dan Ruby Sofyan berpartisipasi sebagai seniman. Sementara itu, Mevlied Nahla dari Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) turut menghadirkan karya dalam pameran internasional tersebut.

Exhibition Beginning Becoming resmi dibuka oleh Alia Swastika pada Sabtu (26/9/2026). Diselenggarakan oleh ViaVia Jogja Resto, pameran ini dikuratori oleh Ripase Nostanta Br. Purba dari Indonesia bersama Andrea Emery dari Swiss. Keduanya menghadirkan pendekatan kuratorial yang menyoroti perjalanan kreatif, perkembangan gagasan, serta pembentukan identitas artistik perempuan dari berbagai latar belakang budaya.

Pameran ini menampilkan karya dalam beragam medium, meliputi seni lukis, keramik, tekstil, fotografi analog, ilustrasi, drawing, desain, musik, hingga praktik seni lintas disiplin. Keberagaman medium tersebut menghadirkan ruang dialog mengenai perkembangan praktik seni perempuan dalam konteks personal, sosial, dan profesional.

Salah satu keunikan Beginning Becoming terletak pada konsep penyandingan dua karya dari setiap seniman, yakni karya dari periode sebelumnya dan karya terbaru. Pendekatan ini memungkinkan pengunjung mengamati perubahan gagasan, eksplorasi medium, serta perkembangan bahasa visual dan ekspresi artistik masing-masing seniman dari waktu ke waktu.

Ripase Nostanta Br. Purba menjelaskan bahwa praktik artistik merupakan proses berkelanjutan yang tidak berhenti pada satu karya atau pencapaian tertentu. Bagi seniman perempuan, perjalanan tersebut juga berkaitan dengan pengalaman hidup, pembentukan identitas, tanggung jawab personal dan profesional, serta berbagai ekspektasi sosial yang dihadapi.

Melalui pendekatan tersebut, pameran tidak hanya menjadi ruang presentasi karya, tetapi juga sarana untuk memahami perjalanan kreatif seniman perempuan dalam mengembangkan pemikiran dan praktik keseniannya.

Dosen FSRD ISI Yogyakarta sekaligus peserta pameran, Lily Elserisa, menyampaikan bahwa pertemuan dengan seniman perempuan dari berbagai negara memberikan kesempatan untuk memperluas pertukaran pengalaman dan perspektif artistik.

Menurutnya, pameran ini membuka ruang bagi para seniman untuk berbagi gagasan, membangun hubungan dalam ekosistem seni yang lebih luas, serta memperkuat dukungan antarsesama perempuan pengkarya.

Penyelenggaraan pameran di ViaVia Jogja Resto turut menghadirkan pengalaman apresiasi seni yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Sebagai ruang yang memadukan aktivitas kuliner dan kebudayaan, lokasi tersebut memungkinkan karya seni berinteraksi secara langsung dengan pengunjung dari beragam latar belakang.

Partisipasi dosen ISI Yogyakarta dalam Beginning Becoming juga memperlihatkan keterhubungan antara pendidikan tinggi seni dan praktik profesional di tingkat internasional. Aktivitas berkesenian yang terus dijalankan para dosen menjadi bagian penting dalam menjaga relevansi pengetahuan, pengalaman kreatif, dan perkembangan praktik artistik di lingkungan pendidikan seni.

Kehadiran akademisi ISI Yogyakarta sebagai seniman sekaligus kurator dalam forum seni lintas negara ini semakin menegaskan kontribusi institusi dalam pengembangan seni dan budaya. Melalui keterlibatan aktif dalam berbagai ruang kreatif, ISI Yogyakarta terus memperluas perannya sebagai perguruan tinggi seni yang menghubungkan pendidikan, penciptaan karya, dan pertukaran pengetahuan artistik dengan ekosistem seni global.

Search
Kategori

Share this post

Leave a Reply