Yogyakarta, 13 Oktober 2026 — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali menunjukkan perannya sebagai perguruan tinggi seni yang aktif dalam memperkuat pertukaran pengetahuan dan kebudayaan lintas negara. Melalui Jurusan Etnomusikologi, Fakultas Seni Pertunjukan (FSP), ISI Yogyakarta menerima kunjungan peserta program Residensi Indonesia Pacific Cultural Connect 2026 untuk mengikuti kegiatan pembelajaran dan praktik musik tradisional Indonesia.
Kegiatan yang difasilitasi oleh Sanggar Seni Kinanti Sekar tersebut berlangsung di Ruang Miniconcert Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan musik tradisional Indonesia kepada peserta internasional sekaligus membuka ruang interaksi, pembelajaran, dan pertukaran pengalaman artistik antara masyarakat seni Indonesia dan kawasan Pasifik.
Peserta residensi yang berasal dari sejumlah wilayah di kawasan Pasifik mengikuti kegiatan bersama enam mahasiswa Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta. Kehadiran mahasiswa dalam kegiatan ini memberikan kesempatan untuk membangun komunikasi lintas budaya secara langsung melalui praktik bermusik, diskusi, dan pengalaman belajar bersama.
Rangkaian kegiatan diawali dengan penyambutan peserta dan pengenalan Jurusan Etnomusikologi sebagai salah satu lingkungan akademik di ISI Yogyakarta yang berfokus pada pengkajian, penelitian, penciptaan, dan pengembangan musik dalam konteks sosial serta kebudayaan masyarakat.
Setelah sesi pengenalan, para peserta mengikuti pembelajaran praktik musik tradisional dan etnik dengan pendampingan dua dosen Jurusan Etnomusikologi, yaitu Amir R., S.Sn., M.Hum. dan Ari Sumarsono, S.Sn., M.Sn. Kedua dosen tersebut bertindak sebagai mentor yang membimbing peserta dalam mengenal instrumen, memahami dasar-dasar permainan musik, serta mengeksplorasi pengalaman musikal melalui praktik langsung.
Pendekatan pembelajaran yang menekankan pengalaman langsung menjadi salah satu aspek penting dalam kegiatan tersebut. Para peserta tidak hanya diperkenalkan pada instrumen musik tradisional, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk memainkannya dan berinteraksi dengan mahasiswa serta dosen yang memiliki latar belakang keilmuan etnomusikologi.


Melalui proses tersebut, musik menjadi media komunikasi yang memungkinkan peserta dari latar belakang budaya berbeda untuk saling mengenal, berbagi pengalaman, dan membangun pemahaman mengenai keberagaman ekspresi musikal.
Kegiatan Residensi Indonesia Pacific Cultural Connect 2026 di Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar pengenalan instrumen musik tradisional. Pertemuan ini menjadi sarana pertukaran pengetahuan mengenai hubungan antara musik, identitas budaya, kehidupan sosial, dan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam kajian etnomusikologi, musik dipahami bukan hanya sebagai karya artistik atau rangkaian bunyi, melainkan juga sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang memiliki fungsi sosial, sejarah, dan makna budaya. Perspektif tersebut menjadi landasan penting dalam memperkenalkan musik tradisional Indonesia kepada peserta residensi internasional.
Melalui kegiatan praktik bersama, para peserta memperoleh kesempatan untuk memahami bahwa setiap tradisi musikal tumbuh dari pengalaman sejarah dan kebudayaan masyarakat pendukungnya. Perbedaan latar belakang budaya peserta juga membuka peluang terjadinya pertukaran perspektif mengenai cara berbagai komunitas memaknai musik sebagai sarana ekspresi, komunikasi, dan kebersamaan.
Bagi mahasiswa Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta, keterlibatan dalam kegiatan ini menjadi pengalaman pembelajaran yang memperluas wawasan internasional. Interaksi dengan peserta dari kawasan Pasifik memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengenal perspektif kebudayaan yang berbeda sekaligus mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan berkolaborasi dalam lingkungan multikultural.
Kegiatan tersebut juga memperlihatkan bahwa proses pendidikan seni dapat berlangsung melalui berbagai bentuk interaksi, termasuk pertemuan antarkomunitas, pembelajaran partisipatif, dan praktik artistik lintas budaya.
Kunjungan peserta residensi internasional ini menjadi salah satu bentuk kontribusi ISI Yogyakarta dalam memperluas akses pembelajaran seni dan budaya Indonesia bagi masyarakat internasional.


Sebagai perguruan tinggi yang memiliki kekhususan dalam bidang seni, ISI Yogyakarta terus mengembangkan peran pendidikan tinggi tidak hanya melalui pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga melalui kegiatan akademik dan artistik yang mempertemukan mahasiswa, dosen, praktisi, serta komunitas seni dari berbagai latar belakang.
Jurusan Etnomusikologi memiliki posisi penting dalam pengembangan pengetahuan mengenai keragaman musik Nusantara dan musik berbagai masyarakat dunia. Melalui pendekatan akademik dan praktik artistik, jurusan ini menjadi ruang pembelajaran yang menghubungkan pelestarian tradisi dengan perkembangan pengetahuan serta dinamika kebudayaan kontemporer.
Penyelenggaraan kegiatan bersama peserta Indonesia Pacific Cultural Connect 2026 sekaligus menunjukkan potensi lingkungan akademik ISI Yogyakarta sebagai tempat pembelajaran budaya bagi peserta internasional yang ingin mengenal seni Indonesia secara langsung.
Keterlibatan dosen sebagai mentor juga mencerminkan kontribusi tenaga pendidik ISI Yogyakarta dalam memperkenalkan pengetahuan dan praktik seni tradisional kepada masyarakat yang lebih luas. Kompetensi akademik dan pengalaman artistik para dosen menjadi bagian penting dalam menghadirkan pembelajaran yang menghubungkan pemahaman teoretis dengan pengalaman praktik.
Sementara itu, partisipasi mahasiswa dalam kegiatan internasional seperti ini mendukung penguatan pengalaman belajar di luar kelas. Mahasiswa memiliki kesempatan untuk mengembangkan keterampilan kolaborasi, komunikasi antarbudaya, dan pemahaman mengenai posisi musik tradisional Indonesia dalam pergaulan kebudayaan global.
Pengalaman tersebut relevan dengan kebutuhan pendidikan tinggi seni yang semakin menekankan kemampuan lulusan untuk beradaptasi, berkolaborasi, dan berkontribusi dalam lingkungan kreatif yang bersifat lintas disiplin maupun lintas negara.
Kerja sama antara Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta dan Sanggar Seni Kinanti Sekar dalam memfasilitasi kegiatan ini menunjukkan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan komunitas seni dalam mengembangkan program pertukaran budaya.
Kolaborasi tersebut mempertemukan kapasitas akademik perguruan tinggi dengan jejaring serta pengalaman komunitas seni dalam menyelenggarakan kegiatan kebudayaan. Sinergi semacam ini berpotensi memperluas jangkauan pembelajaran seni sekaligus membuka kesempatan bagi pengembangan program bersama yang melibatkan peserta dari berbagai negara.


Melalui kegiatan residensi, perguruan tinggi juga dapat berperan sebagai ruang perjumpaan antara pengetahuan akademik, praktik kesenian, dan pengalaman budaya masyarakat. Pertemuan tersebut penting untuk mendorong keberlanjutan tradisi sekaligus memperkenalkan kekayaan seni Indonesia dalam konteks hubungan internasional.
Bagi ISI Yogyakarta, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan akademik yang terbuka terhadap kerja sama dan pertukaran pengetahuan. Kehadiran peserta internasional memberikan kesempatan untuk memperkenalkan potensi pendidikan seni, sumber daya akademik, dan kekayaan tradisi musikal Indonesia kepada masyarakat dunia.
Kerja sama dengan Sanggar Seni Kinanti Sekar diharapkan dapat terus berkembang melalui berbagai kegiatan yang mendukung pembelajaran, pengkajian, pertunjukan, maupun pertukaran pengalaman seni dan budaya pada masa mendatang.
Kegiatan Residensi Indonesia Pacific Cultural Connect 2026 juga memperlihatkan potensi seni tradisional sebagai salah satu sarana diplomasi budaya yang mempertemukan masyarakat dari berbagai negara melalui pengalaman kreatif bersama.
Melalui penyelenggaraan kegiatan pembelajaran musik tradisional yang melibatkan peserta internasional, ISI Yogyakarta menegaskan kontribusinya dalam memperkenalkan kekayaan seni dan budaya Indonesia sekaligus memperluas ruang dialog kebudayaan global.
Kegiatan ini diharapkan menjadi salah satu langkah berkelanjutan dalam memperkuat jejaring internasional, meningkatkan pengalaman akademik mahasiswa, dan mengembangkan kolaborasi antara perguruan tinggi dengan komunitas seni.
Dengan mengintegrasikan pendidikan, praktik artistik, dan pertukaran budaya, ISI Yogyakarta terus memperkuat posisinya sebagai perguruan tinggi seni yang berkontribusi dalam pelestarian, pengembangan, dan pengenalan seni budaya Indonesia di tingkat internasional.





