Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Pengukuhan Prof. Dr. Irwandi, S.Sn., M.Sn. Perkuat Posisi ISI Yogyakarta sebagai Pusat Keunggulan Fotografi dan Seni Berbasis Riset

Pengukuhan Prof. Dr. Irwandi, S.Sn., M.Sn. Perkuat Posisi ISI Yogyakarta sebagai Pusat Keunggulan Fotografi dan Seni Berbasis Riset

Yogyakarta, 5 Oktober 2026 — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali meneguhkan perannya sebagai perguruan tinggi seni yang mengintegrasikan penciptaan, penelitian, pendidikan, dan inovasi melalui pengukuhan Prof. Dr. Irwandi, S.Sn., M.Sn. sebagai Guru Besar bidang Ilmu Fotografi. Pengukuhan dilaksanakan dalam Sidang Senat Terbuka ISI Yogyakarta dengan pidato ilmiah berjudul “Praktik Sintesis Fotografi: Cyanogram sebagai Dialek dan Modus Retoris untuk Kritik Kemanusiaan.

Prosesi akademik pengukuhan menjadi momentum penting bagi ISI Yogyakarta dalam memperkuat kapasitas akademik sekaligus menunjukkan bahwa praktik penciptaan seni dapat berkembang menjadi pengetahuan yang memiliki kedalaman konseptual, metodologis, dan kontribusi bagi masyarakat. Dalam rangkaian Sidang Senat Terbuka, Prof. Irwandi menyampaikan pidato pengukuhan sebelum prosesi pembacaan keputusan menteri dan pengukuhan sebagai Guru Besar.

Capaian tersebut memiliki arti khusus karena Prof. Irwandi menyatakan dirinya sebagai dosen pertama di ISI Yogyakarta yang memperoleh persetujuan untuk menapaki jabatan akademik Guru Besar melalui jalur karya seni. Jalur tersebut dimungkinkan melalui kebijakan yang memberikan rekognisi terhadap rekam jejak dan karya seni yang setara dengan jurnal ilmiah internasional bereputasi. Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi salah satu model bagi dosen-dosen seni berikutnya dalam menyiapkan rekognisi karya untuk mencapai jabatan akademik Guru Besar.

Capaian ini sekaligus memperlihatkan posisi strategis ISI Yogyakarta sebagai institusi pendidikan tinggi seni yang tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga membangun ekosistem akademik tempat praktik artistik dikembangkan menjadi pengetahuan. Pengakuan terhadap karya seni dalam jenjang akademik tertinggi membuka ruang semakin luas bagi seniman-akademisi untuk menghadirkan kontribusi keilmuan melalui karakter dan metodologi khas bidang seni.

Dalam pidato ilmiahnya, Prof. Irwandi menguraikan perjalanan panjang riset dan praktik fotografi cetak tua yang dikembangkannya sejak awal 2000-an. Ketertarikannya berawal ketika teknologi fotografi digital mulai menggantikan fotografi analog. Sejak menjadi dosen muda di Jurusan Fotografi FSMR ISI Yogyakarta pada 2003, ia mulai mempelajari pembuatan material fotografi secara manual dan kemudian mendalami berbagai teknik fotografi cetak tua.

Perjalanan tersebut berkembang dari eksperimen teknis menjadi riset, pendidikan, diseminasi, hingga penciptaan seni. Melalui Riset Strategis Nasional pada 2009–2010, Prof. Irwandi bersama Edial Rusli mempelajari dan merekonstruksi sejumlah teknik, antara lain cyanotype, Van Dyke brown print, albumen print, salt print, printing-out paper, and gum bichromate. Riset tersebut turut menghasilkan buku Old Print: Karya Fotografi Menuju Ekonomi Kreatif serta mendorong Fotografi Cetak Tua menjadi mata kuliah wajib di Jurusan Fotografi FSMR ISI Yogyakarta.

Dari lingkungan akademik ISI Yogyakarta, pengetahuan tersebut kemudian berkembang dan terdiseminasi lebih luas. Fotografi cetak tua tidak berhenti sebagai upaya merekonstruksi teknologi fotografi abad ke-19, tetapi menjadi ruang eksperimentasi bagi mahasiswa dan seniman untuk mengembangkan bahasa visual baru. Kehadiran Kelompok Kegiatan Mahasiswa Keluarga Old Photographic Processes ISI Yogyakarta (KOPPI), berkembangnya lokakarya, serta semakin banyaknya fotografer yang menggunakan teknik tersebut memperlihatkan kontribusi pendidikan seni terhadap pertumbuhan ekosistem fotografi Indonesia.

Salah satu gagasan utama yang ditawarkan Prof. Irwandi adalah cyanogram, istilah yang digunakannya untuk menyebut sintesis teknik cyanotype and photogram. Pendekatan tersebut memungkinkan fotografi bergerak melampaui fungsi perekaman realitas menuju bahasa visual yang dapat menyampaikan persoalan sosial dan kemanusiaan.

Perjalanan penciptaannya terlihat melalui sejumlah karya, mulai dari Selfitasi (2016), Our Final Pose (2019), hingga Bleeding Mind: Cost of Automation yang ditampilkan pada Rome International Art Fair 2025 di Medina Art Gallery, Italia. Karya terakhir tersebut menghadirkan kritik terhadap risiko berkurangnya kemampuan berpikir manusia apabila kecerdasan artifisial digunakan secara tidak bijaksana.

Melalui cyanogram, teknik fotografi historis ditempatkan dalam konteks persoalan kontemporer. Tubuh, warna, material, komposisi, dan abstraksi digunakan sebagai perangkat retoris untuk membangun makna. Prof. Irwandi menempatkan cyanogram sebagai “dialek fotografi” yang memperluas kemungkinan medium fotografi dalam menyampaikan gagasan dan kritik kemanusiaan. Pendekatan tersebut menunjukkan karakter pendidikan seni yang dikembangkan ISI Yogyakarta: penguasaan teknik tidak berhenti pada keterampilan, tetapi diarahkan menuju kemampuan bereksperimen, membangun pengetahuan, membaca perubahan zaman, serta menghasilkan karya yang memiliki relevansi sosial.

Pengembangan fotografi cetak tua di ISI Yogyakarta juga telah memasuki ranah kolaborasi internasional. Prof. Irwandi memimpin tim riset preservasi fotografi dalam kerja sama ISI Yogyakarta dengan University for Continuing Education Krems, Austria, yang didukung ASEAN–European Academic University Network (ASEA UNINET). Riset tersebut diarahkan pada upaya merawat arsip fotografi di Indonesia, termasuk karya berbasis albumen print and silver gelatin print.

Jejak akademik tersebut berlanjut ke forum internasional. Dalam pidatonya, Prof. Irwandi menyampaikan agenda menjadi salah satu pembicara pada konferensi preservasi fotografi Le temps des épreuves. 50 ans de préservation des photographies di Musée du Quai Branly–Jacques Chirac, Paris, pada 9–11 November 2026. Pada Desember 2026, ia juga dijadwalkan memberikan lokakarya cyanotype di Faculty of Arts, Universidad de la República, Uruguay.

Dimensi internasional tersebut memperlihatkan bagaimana pengetahuan yang tumbuh dari studio, laboratorium, ruang kelas, dan praktik penciptaan di ISI Yogyakarta dapat terhubung dengan percakapan akademik serta artistik global. Dengan demikian, internasionalisasi perguruan tinggi seni tidak hanya diwujudkan melalui mobilitas, tetapi juga melalui kontribusi pengetahuan dan praktik artistik yang memiliki kekhasan.

Prof. Irwandi sendiri memiliki perjalanan akademik yang kuat di ISI Yogyakarta. Ia menyelesaikan Sarjana Seni Fotografi di ISI Yogyakarta pada 2003 dan Magister Seni di Pascasarjana ISI Yogyakarta, kemudian meraih gelar doktor dari Universitas Gadjah Mada. Selain sebagai Guru Besar, saat ini ia menjabat Rektor ISI Yogyakarta periode 2024–2028.

Pada bagian akhir pidatonya, Prof. Irwandi mengajak dosen ISI Yogyakarta untuk terus meningkatkan kapasitas akademik dan mencapai jenjang Guru Besar. Ia menegaskan bahwa ISI Yogyakarta menantikan kiprah para dosen untuk mencapai jabatan akademik tertinggi sekaligus berkontribusi kepada masyarakat, lembaga, dan negara melalui “seni yang berdampak.”

Pengukuhan ini karena itu tidak hanya menjadi pencapaian individual seorang akademisi dan seniman, tetapi juga merepresentasikan perkembangan ekosistem keilmuan seni di ISI Yogyakarta. Rekognisi karya seni sebagai bagian dari pencapaian akademik tertinggi, penguatan riset berbasis praktik, pengembangan kurikulum, preservasi warisan fotografi, serta keterlibatan dalam jejaring internasional menjadi modal penting bagi ISI Yogyakarta untuk terus memperkuat posisi dan daya tawarnya.

Melalui penguatan sumber daya akademik dan tradisi penciptaan yang terus berkembang, ISI Yogyakarta menegaskan posisinya sebagai perguruan tinggi seni yang tidak hanya merawat tradisi dan menghasilkan karya, tetapi juga menciptakan pengetahuan, menawarkan pemikiran baru, dan membawa praktik seni Indonesia ke dalam percakapan global.

Search
Kategori

Share this post

Leave a Reply