Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

ISI Yogyakarta Perkuat Posisi sebagai Pusat Riset Artistik melalui ICAPAS 2026 dan Kolaborasi Internasional

ISI Yogyakarta Perkuat Posisi sebagai Pusat Riset Artistik melalui ICAPAS 2026 dan Kolaborasi Internasional

Yogyakarta, 2 Oktober 2026 — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta terus memperkuat perannya dalam pengembangan pendidikan tinggi seni dan riset artistik melalui penyelenggaraan 14th International Conference for Asia Pacific Art Studies (ICAPAS 2026). Konferensi internasional yang berlangsung pada 30 September–1 Oktober 2026 di Pascasarjana ISI Yogyakarta tersebut menjadi bagian dari rangkaian pertukaran akademik internasional selama 14 hari bersama Hochschule für Künste Bremen (HfK Bremen), Jerman.

Kolaborasi yang memasuki tahun kedua ini didukung oleh German Academic Exchange Service (DAAD) melalui program “Creating Cultural Dialogues: Teaching Art and Design in Transcultural Contexts”. Rangkaian kegiatan mempertemukan konferensi internasional, kolokium doktoral, seminar, enam lokakarya internasional, kunjungan studio, hingga pameran hasil praktik artistik.

ICAPAS 2026 mengangkat tema “Resonance and Relevance: Artistic Research for Human and Planetary Futures”. Tema tersebut menempatkan seni dan riset artistik dalam percakapan mengenai berbagai tantangan kontemporer, mulai dari perubahan sosial dan budaya, perkembangan teknologi, hingga persoalan lingkungan.

Konferensi dibuka secara resmi oleh Rektor ISI Yogyakarta Prof. Dr. Irwandi, M.Sn. dan mempertemukan seniman, peneliti, akademisi, desainer, praktisi kreatif, serta mahasiswa pascasarjana dalam forum pertukaran pengetahuan lintas disiplin dan lintas negara. Pelaksanaan ICAPAS 2026 diketuai oleh Octavianus Cahyono Priyanto, Ph.D., Koordinator Program Doktor ISI Yogyakarta.

Keberlanjutan ICAPAS sekaligus menunjukkan pengembangan ekosistem akademik ISI Yogyakarta yang tidak hanya berorientasi pada penciptaan karya seni, tetapi juga pada produksi dan pertukaran pengetahuan melalui praktik artistik. Dalam pendekatan artistic research, praktik kreatif, eksperimentasi, pengalaman tubuh, refleksi kritis, dan situated knowledge dapat menjadi bagian dari proses menghasilkan pengetahuan.

Direktur Pascasarjana ISI Yogyakarta Dr. Fortunata Tyasrinestu, S.S., M.Si. mengatakan pengembangan riset artistik menjadi salah satu titik penting dalam kolaborasi internasional tersebut.

“Riset artistik saat ini berkembang menjadi pendekatan yang mampu menjembatani kreativitas, pengetahuan, dan inovasi,” kata Fortunata.

Menurutnya, ICAPAS menjadi ruang pertemuan perspektif lintas negara sekaligus memperkuat kontribusi seni dalam merespons berbagai persoalan kontemporer. Kerja sama internasional Pascasarjana ISI Yogyakarta juga diarahkan untuk memperluas perspektif akademik serta membuka peluang kolaborasi antardosen, mahasiswa, peneliti, dan seniman.

Hubungan akademik ISI Yogyakarta dan HfK Bremen telah dikembangkan secara berkelanjutan. Pada 2025, kolaborasi kedua perguruan tinggi menjadi bagian dari ICAPAS ke-13 melalui workshop lintas disiplin serta pertukaran mahasiswa dan akademisi. Kerja sama kemudian dilanjutkan pada 2026 melalui kunjungan delegasi Pascasarjana ISI Yogyakarta ke Bremen pada 30 Mei–15 Juni 2026 yang mencakup workshop, kolokium doktoral, konferensi riset artistik, dan pertukaran budaya.

Rangkaian ICAPAS 2026 di Yogyakarta juga memperlihatkan kuatnya dimensi akademik kolaborasi tersebut. Pada 24 September 2026, Pascasarjana ISI Yogyakarta menggelar Ph.D. Colloquium yang mempertemukan mahasiswa doktor dengan jejaring akademik HfK Bremen. Forum ini menjadi ruang presentasi dan diskusi berbagai penelitian doktoral yang menghubungkan praktik seni dengan persoalan sosial, budaya, teknologi, dan metodologi penelitian.

Sejumlah penelitian yang dipresentasikan antara lain kajian Daru Tunggul Aji mengenai politik produksi ruang melalui fotografi dan praktik keseharian di Malioboro, penelitian Arif Sutrisno mengenai pengalaman estetis penonton dalam film animasi imersif 360 derajat, serta penelitian Agnes Widyasmoro mengenai transformasi epistemologis konsep tubuh dalam Matram Joged ke bahasa sinematik. Rangkaian tersebut dilengkapi seminar publik Ivan Taufik bertajuk “Walking as an Artistic Research: Between Knowledge and Meaning.”

Pertukaran pengetahuan juga berlangsung di luar ruang konferensi. Delegasi HfK Bremen mengunjungi Studio Barisan, ruang kerja seniman Suvi Wahyudianto di Yogyakarta. Kunjungan tersebut membuka ruang perjumpaan langsung dengan proses penciptaan dan praktik artistik. Suvi, yang tengah menempuh Program Doktor Seni Pascasarjana ISI Yogyakarta, turut mempresentasikan penelitian “Melancholia and Postmemory: Artistic Practice as a Space for Reconciliation” dalam ICAPAS 2026.

Dimensi internasional ICAPAS semakin diperkuat melalui enam lokakarya pada 28–29 September 2026. Lokakarya menghadirkan Verdiana Albano, Malte Sonnenschein, Lucas Schmidt, Jürgen Berderow, Janina Ebner, Ayşe Ateş, Gabriella Gonçalles, dan Jessica Bothma dengan pembahasan mulai dari fotografi, pemetaan kritis dan riset desain, industri kreatif, relasi manusia dan lingkungan, arsip dan pengetahuan tubuh, hingga kartografi kolektif.

Pada konferensi utama 30 September–1 Oktober 2026, ICAPAS menghadirkan empat pembicara undangan dengan latar belakang akademik dan praktik yang beragam. Prof. Dr. Annette Geiger dari HfK Bremen membahas perluasan pemahaman mengenai riset artistik dalam seni dan desain. Prof. Drs. M. Dwi Marianto, M.F.A., Ph.D. dari ISI Yogyakarta mengangkat pohon pucung beserta potensi pengetahuan yang menyertainya.

Pada hari kedua, musisi dan aktivis lingkungan I Gede Robi Supriyanto membicarakan hubungan musik dan aktivisme, sementara Danai Reabsakul dari Silpakorn University, Thailand, mempresentasikan pengembangan tekstil dari limbah proses produksi indigo.

Keragaman topik juga hadir melalui sesi paralel dan presentasi performatif. Pembahasan mencakup memori budaya dalam sinematografi, batik inklusif bersama penyandang disabilitas netra, transformasi simbol Jawa di Suriname, realitas virtual dan transmisi budaya Thailand, fotografi sebagai medium dekolonial, pemetaan visual perkotaan, tubuh performer, hingga pembacaan tanah sebagai entitas hidup.

Rangkaian tersebut memperlihatkan bagaimana lingkungan akademik seni di ISI Yogyakarta berkembang melalui perjumpaan antara teori dan praktik, penelitian dan penciptaan, teknologi dan budaya, serta perspektif lokal dan internasional. Kolaborasi dengan HfK Bremen sekaligus membuka ruang bagi dosen, mahasiswa, seniman, dan peneliti untuk terlibat dalam pertukaran metodologi dan praktik lintas budaya.

Melalui keberlanjutan ICAPAS dan penguatan kemitraan internasional, ISI Yogyakarta memperluas ruang kontribusinya dalam percakapan akademik mengenai masa depan seni dan penelitian artistik. Forum internasional semacam ini juga mempertemukan kekayaan praktik seni dan pengetahuan yang berkembang di Indonesia dengan jejaring akademik global.

Tema “Artistic Research for Human and Planetary Futures” pada akhirnya menegaskan relevansi seni dalam membaca persoalan kehidupan kontemporer. Seni tidak semata ditempatkan sebagai objek yang diteliti atau karya yang dihasilkan, tetapi juga sebagai metode untuk menghasilkan pengetahuan, mempertanyakan realitas, membangun dialog lintas budaya, dan membayangkan kemungkinan-kemungkinan baru bagi kehidupan manusia dan lingkungan.

Dengan ekosistem pendidikan seni, penelitian, penciptaan, serta jejaring internasional yang terus dikembangkan, ICAPAS menjadi salah satu ruang strategis bagi ISI Yogyakarta untuk menghadirkan praktik dan pemikiran seni Indonesia ke dalam percakapan akademik internasional sekaligus membawa pengetahuan dan perspektif global ke dalam lingkungan pendidikan tinggi seni di Indonesia.

Search
Kategori

Share this post

Leave a Reply