Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

ISI Yogyakarta Perkuat Diplomasi Seni dan Kolaborasi Internasional melalui ICACA 2026 di Malaysia

ISI Yogyakarta Perkuat Diplomasi Seni dan Kolaborasi Internasional melalui ICACA 2026 di Malaysia

Sarawak, Malaysia — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta memperkuat kiprahnya dalam percaturan akademik dan seni internasional melalui partisipasi pada The 8th International Conference of Applied and Creative Arts (ICACA) 2026 yang diselenggarakan oleh Faculty of Applied and Creative Arts, Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS), Malaysia, pada 23–25 September 2026.

Forum internasional bertema “Co-Creating Sustainable Future in Applied and Creative Arts Technology” tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, seniman, praktisi industri kreatif, serta pemangku kepentingan dari berbagai bidang untuk membahas masa depan seni dan kreativitas di tengah perkembangan teknologi, transformasi digital, dan tantangan keberlanjutan budaya.

Dalam konferensi tersebut, ISI Yogyakarta tercatat berkontribusi melalui keterlibatan tiga pimpinan perguruan tinggi. Wakil Rektor II ISI Yogyakarta, Dr. Dra. Suryati, M.Hum., menjadi salah satu pembicara utama (keynote speaker). Sementara itu, Rektor ISI Yogyakarta, Prof. Dr. Irwandi, S.Sn., M.Sn., dan Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Dr. Muhamad Sholahuddin, S.Sn., M.T., tercantum sebagai panelis dalam sesi pleno konferensi.

Dalam agenda konferensi pada Rabu (23/9), Suryati dijadwalkan menyampaikan paparan bertajuk “Reimagining Creativity: Co-Creating Sustainable Futures Through Arts, Technology and Innovation.”

Paparan tersebut mengangkat pentingnya memaknai kembali kreativitas, bukan semata-mata sebagai kemampuan menghasilkan karya seni atau gagasan baru, melainkan sebagai proses kolaboratif untuk menciptakan solusi berkelanjutan bagi masyarakat.

Melalui perspektif tersebut, seni, teknologi, dan inovasi dipandang sebagai tiga unsur yang saling memperkuat. Seni menyediakan ruang bagi ekspresi, imajinasi, empati, dan kritik sosial. Teknologi memperluas kemungkinan penciptaan dan distribusi karya, sedangkan inovasi menjembatani gagasan kreatif dengan penerapannya dalam kehidupan masyarakat.

Pendekatan kolaboratif dan partisipatif menjadi perhatian penting agar perkembangan kreativitas dan teknologi tidak hanya memberikan keuntungan bagi kelompok tertentu, tetapi juga membuka kesempatan keterlibatan masyarakat secara lebih luas.

Gagasan tersebut relevan dengan peran perguruan tinggi seni dalam mengembangkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang responsif terhadap perubahan zaman, sekaligus mempertahankan kekayaan pengetahuan dan praktik budaya.

Keterlibatan ISI Yogyakarta juga tercermin dalam sesi pleno konferensi pada Jumat (25/9). Rektor ISI Yogyakarta, Prof. Dr. Irwandi, bersama Dekan FSRD, Dr. Muhamad Sholahuddin, tercantum sebagai panelis bersama dua pimpinan UNIMAS, yakni Prof. Ir. Dr. Siti Noor Linda Taib, Deputy Vice Chancellor (Research and Innovation), serta Dr. Louis Ringah anak Kanyan, Dekan Faculty of Applied and Creative Arts.

Pertemuan para pimpinan perguruan tinggi dalam forum tersebut menjadi ruang penting bagi pertukaran perspektif mengenai pengembangan pendidikan seni, inovasi kreatif, serta peran institusi akademik dalam menghadapi perubahan teknologi dan kebutuhan masyarakat.

ICACA 2026 sendiri mengembangkan pembahasan melalui empat bidang utama, yaitu Creative Arts Technology, Cultural Heritage Studies, Design Innovation and Digital Transformation, and Creative Performance and Events Management.Keempat bidang tersebut mencerminkan semakin luasnya hubungan antara penciptaan seni, pelestarian warisan budaya, pengembangan desain, teknologi digital, dan ekonomi kreatif.

Salah satu perhatian dalam konferensi ini adalah perkembangan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) yang menghadirkan peluang sekaligus persoalan baru bagi dunia seni. Pemanfaatan teknologi dipandang perlu berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap pengetahuan budaya, etika penciptaan, autentisitas karya, dan hak kekayaan intelektual.Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi seni memiliki peran strategis untuk memastikan bahwa inovasi teknologi tidak mengabaikan dimensi kemanusiaan dan keberlanjutan budaya.

Selain menghadirkan pembicara utama, ICACA 2026 menyelenggarakan sesi presentasi paralel yang menjadi ruang pertukaran hasil penelitian, gagasan, dan praktik kreatif lintas disiplin. Forum ini juga menghadirkan Wendy Teo dari Wendy Teo Atelier/Think & Tink serta Cletus Lee Aik Yew dari Sarawak Digital Economy Corporation sebagai pembicara utama.

Melalui penyelenggaraan konferensi internasional tersebut, berbagai perspektif mengenai inovasi desain, pemberdayaan komunitas, pengembangan ekosistem kreatif, hingga transformasi ekonomi digital dipertemukan dalam satu forum akademik.

Bagi ISI Yogyakarta, keterlibatan dalam ICACA 2026 memiliki arti penting dalam memperluas jejaring internasional dan memperkuat posisi perguruan tinggi seni Indonesia dalam diskursus global tentang kreativitas, teknologi, dan kebudayaan.

Partisipasi ini sekaligus sejalan dengan upaya ISI Yogyakarta untuk mengembangkan pendidikan tinggi seni yang terbuka terhadap kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara, dengan tetap menjadikan kekayaan seni dan budaya sebagai landasan bagi inovasi yang berkelanjutan.

Melalui forum semacam ICACA, seni tidak lagi ditempatkan hanya sebagai produk ekspresi estetis, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan, ruang dialog antarbudaya, dan kekuatan transformatif dalam membangun masa depan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Search
Kategori

Share this post