Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

ISI Yogyakarta Perluas Dampak Pendidikan Seni melalui Inovasi Jathilan Berbasis Tetabuhan Etnis Nusantara

ISI Yogyakarta Perluas Dampak Pendidikan Seni melalui Inovasi Jathilan Berbasis Tetabuhan Etnis Nusantara

Yogyakarta, 20 September 2026 — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta terus memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi seni yang mengembangkan inovasi berbasis pengetahuan, tradisi, dan kebutuhan masyarakat. Melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Tahun 2026, tim ISI Yogyakarta mengimplementasikan inovasi Jathilan Turonggo Kos-Kosan berbasis tetabuhan etnis Nusantara di Bakulan Wetan, Kalurahan Patalan, Jetis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Program bertajuk “Implementasi Inovasi Jathilan Turonggo Kos-Kosan Berbasis Tetabuhan Etnis Nusantara” tersebut menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, dan komunitas seni dalam mengembangkan praktik kesenian tradisional melalui pendekatan akademik dan penciptaan artistik.

Kegiatan dipimpin oleh Dr. Eli Irawati, S.Sn., M.A. sebagai Ketua Pelaksana, dengan anggota dosen Ujang Nendra Pratama, S.Kom., M.Pd. dan Warsana, S.Sn., M.Sn. Tim juga melibatkan mahasiswa, yakni Muhammad Rizal Oktavian, Radite Guntur Indrasura, dan Anto. Program memperoleh dukungan pendanaan dari DPPM Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026.

Melalui program tersebut, kekayaan tetabuhan etnis Nusantara dikembangkan menjadi sumber penciptaan musikal bagi kelompok Jathilan Turonggo Kos-Kosan. Pendekatan ini dirancang tidak untuk menggantikan karakter kesenian yang telah hidup di masyarakat, tetapi memperluas kemungkinan artistik sekaligus memperkuat keberlanjutan tradisi.

Pelaksanaan program mencakup sosialisasi dan penyampaian tujuan kegiatan, penyusunan komposisi musik Jathilan berbasis tetabuhan etnis Nusantara, pelatihan komposisi menggunakan pendekatan musik ansambel, pembuatan komposisi Musik Pambuko Turonggo Kos-Kosan, hingga pendampingan tata teknik pentas. Pendekatan tersebut menghubungkan proses penciptaan karya dengan peningkatan kapasitas kelompok seni secara langsung.

Program juga memberi perhatian pada regenerasi kesenian. Metode pembelajaran dikembangkan agar Jathilan semakin dekat dengan generasi muda melalui eksplorasi musikal yang kontekstual, tanpa memutus hubungan dengan nilai, identitas, dan praktik budaya yang telah berkembang di tengah masyarakat.

Hasil pelaksanaan yang ditampilkan dalam capaian program menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan sebesar 80 persen, peningkatan jumlah partisipasi remaja sebesar 50 persen, keberhasilan penciptaan komposisi Musik Pambuko Turonggo Kos-Kosan sebesar 100 persen, serta tingkat kepuasan mitra sebesar 95 persen. Capaian tersebut menunjukkan bahwa inovasi seni dapat berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas komunitas.

Secara kualitatif, program turut mendorong perubahan cara generasi muda memandang musik tradisional, menghadirkan ruang aktivitas kesenian sebagai sarana interaksi antargenerasi, serta memperkuat komitmen kelompok Jathilan Turonggo Kos-Kosan dalam mengembangkan metode pembelajaran musik yang lebih menarik, efektif, dan efisien.

Kegiatan ini menunjukkan model pengembangan seni yang menghubungkan pendidikan tinggi, penciptaan artistik, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat. Bagi ISI Yogyakarta, keterlibatan langsung dengan komunitas menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa pengetahuan dan praktik seni yang dikembangkan di lingkungan akademik memiliki dampak nyata bagi keberlanjutan ekosistem kebudayaan.

Melalui PISN 2026, ISI Yogyakarta sekaligus memperkuat posisinya sebagai perguruan tinggi seni yang menjadikan tradisi Nusantara bukan sekadar objek pelestarian, tetapi juga sumber pengetahuan dan penciptaan yang dapat terus dikembangkan melalui riset, pendidikan, inovasi, dan kolaborasi bersama masyarakat. Tradisi tetap berakar, inovasi terus bergerak. Dari tetabuhan Nusantara, Jathilan menemukan ruang baru untuk tumbuh dan berkelanjutan.

Search
Kategori

Share this post

Leave a Reply