Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Mahasiswa ISI Yogyakarta Raih Juara 3 Modest Fashion Designer Competition SEMESTA 2026

Mahasiswa ISI Yogyakarta Raih Juara 3 Modest Fashion Designer Competition SEMESTA 2026

Yogyakarta, 8 Agustus 2026 — Mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali menorehkan prestasi di bidang industri kreatif. Resza Dwinki S., mahasiswa Program Studi D4 Desain Mode Kriya Batik, Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta, berhasil meraih Juara 3 Modest Fashion Designer Competition SEMESTA 2026 Tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Prestasi tersebut memperlihatkan kemampuan mahasiswa ISI Yogyakarta dalam mengembangkan kreativitas dan keterampilan desain dengan tetap menempatkan kekayaan budaya Indonesia sebagai salah satu sumber penciptaan karya. Melalui bidang desain mode dan kriya batik, nilai-nilai tradisi tidak hanya dipertahankan, tetapi juga diolah menjadi karya yang relevan dengan perkembangan fesyen kontemporer.

Keberhasilan Resza sekaligus menjadi salah satu indikator keberlanjutan proses pendidikan seni dan desain di ISI Yogyakarta yang menghubungkan penguasaan artistik, keterampilan teknis, kreativitas, serta kemampuan membaca perkembangan industri.

Kompetisi di bidang fesyen menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk menguji kemampuan tersebut di luar lingkungan akademik. Melalui kompetisi, mahasiswa berhadapan dengan tuntutan untuk menerjemahkan gagasan menjadi karya yang memiliki karakter visual, fungsi, kebaruan, sekaligus relevansi dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan pasar.

Capaian Resza menunjukkan bahwa pembelajaran seni di perguruan tinggi dapat berkembang melampaui penciptaan karya sebagai ekspresi personal. Pengetahuan dan keterampilan artistik juga dapat diarahkan untuk menghasilkan produk kreatif yang mempunyai potensi sosial, budaya, dan ekonomi.

Program Studi D4 Desain Mode Kriya Batik ISI Yogyakarta merupakan program pendidikan vokasi yang mengembangkan dua bidang utama, yakni batik dan fashion. Lulusannya diproyeksikan memiliki kompetensi antara lain sebagai desainer batik dan fesyen serta wirausahawan di bidang batik dan fesyen.

Karakter pendidikan tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memahami batik tidak semata-mata sebagai produk tradisi, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan, material, teknik, dan identitas visual yang dapat terus dikembangkan mengikuti perubahan zaman.

Pendekatan tersebut menjadi penting ketika industri fesyen bergerak semakin dinamis. Desainer dituntut tidak hanya memiliki kemampuan membuat produk yang menarik secara visual, tetapi juga mampu membangun identitas, memahami karakter material, membaca kebutuhan pengguna, dan menerjemahkan nilai budaya ke dalam bahasa desain yang lebih aktual.

Penguatan keterhubungan antara pendidikan dengan dunia industri juga telah menjadi bagian dari pengembangan program studi. Dalam proses peningkatan dari program Diploma Tiga Batik dan Fashion menjadi Sarjana Terapan Desain Mode Kriya Batik, sejumlah langkah dilakukan melalui penyusunan kurikulum bersama dunia industri dan dunia kerja, program industri mengajar, peningkatan kompetensi dosen, serta kegiatan pameran bersama.

Prestasi mahasiswa dalam kompetisi seperti yang diraih Resza menjadi salah satu bentuk aktualisasi dari proses tersebut.

Bagi ISI Yogyakarta, keberhasilan mahasiswa memasuki berbagai ruang kompetisi memiliki arti strategis. Prestasi tidak hanya menjadi pencapaian individual, tetapi juga memperlihatkan kapasitas perguruan tinggi seni dalam mempersiapkan generasi kreatif yang mampu membawa kekayaan budaya Indonesia memasuki ekosistem industri kreatif.

Batik memiliki ruang pengembangan yang luas ketika dipertemukan dengan desain, fesyen, kewirausahaan, teknologi produksi, hingga strategi komunikasi dan pemasaran. Karena itu, pendidikan seni memiliki posisi penting dalam menjaga kesinambungan budaya sekaligus menciptakan inovasi baru yang memungkinkan kekayaan budaya terus hidup dan diterima oleh generasi berikutnya.

Melalui proses pendidikan, mahasiswa ISI Yogyakarta didorong untuk tidak berhenti pada kemampuan teknis menghasilkan karya. Mereka juga diharapkan mampu membangun perspektif, menemukan karakter penciptaan, mengembangkan inovasi, serta memahami kemungkinan karya untuk memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.

Prestasi Resza dalam Modest Fashion Designer Competition SEMESTA 2026 memperlihatkan salah satu hasil dari proses tersebut: ketika pengetahuan seni, kemampuan desain, keterampilan kriya, dan pemahaman budaya bertemu dalam sebuah karya yang mampu berkompetisi di ruang publik.

Capaian mahasiswa dalam berbagai bidang menjadi modal penting bagi ISI Yogyakarta untuk terus memperkuat posisinya sebagai perguruan tinggi seni yang menghasilkan sumber daya manusia kreatif dan kompetitif.

Di tengah perkembangan ekonomi kreatif yang semakin membutuhkan inovasi dan diferensiasi, pendidikan seni mempunyai peran strategis karena Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi berbagai bentuk karya, produk, dan pengetahuan baru.

ISI Yogyakarta melalui berbagai bidang seni, desain, kriya, dan media terus mendorong mahasiswa untuk menjadikan kekayaan tersebut sebagai sumber penciptaan sekaligus menjawab tantangan zaman.

Keberhasilan Resza Dwinki S. menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Prestasi ini diharapkan tidak hanya menjadi penyemangat bagi dirinya untuk melangkah lebih jauh dalam dunia desain mode, tetapi juga menginspirasi mahasiswa lainnya untuk aktif mengembangkan kompetensi, mengikuti kompetisi, memperluas jejaring, serta membawa karya-karya terbaik mereka ke ruang yang lebih luas.

Melalui berbagai capaian mahasiswa, ISI Yogyakarta terus menunjukkan bahwa pendidikan seni memiliki kontribusi nyata dalam mempertemukan tradisi dan inovasi, kebudayaan dan industri, serta kreativitas dan kebermanfaatan.

Prestasi tersebut sekaligus memperkuat komitmen ISI Yogyakarta untuk terus melahirkan insan kreatif yang mampu berkarya, berprestasi, dan memberikan dampak melalui seni dan budaya.

Search
Kategori

Share this post