Yogyakarta, 22 Juni 2026 — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali menegaskan posisinya sebagai perguruan tinggi seni terdepan yang adaptif terhadap perkembangan zaman melalui penyelenggaraan Pameran dan Penayangan Karya Seni Media Rekam bertajuk “Narrating Humanity: Kesadaran Sosial dan Kreativitas Seni Media Rekam di Era Artificial Intelligence.” dalam rangka Dies Natalis ke-42 ISI Yogyakarta.
Mengusung semangat besar Dies Natalis ke-42, “Redefining Arts Impact: Seni, Kemanusiaan, dan Kreativitas di Era Artificial Intelligence,” kegiatan ini menjadi ruang penting bagi ISI Yogyakarta untuk memperlihatkan bagaimana seni tetap memiliki peran strategis dalam menjaga nilai kemanusiaan di tengah percepatan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence.
Dekan Fakultas Seni Media Rekam (FSMR) ISI Yogyakarta, Dr. Edial Rusli, S.E., M.Sn., dalam sambutannya menyampaikan bahwa Dies Natalis bukan sekadar peringatan usia institusi, melainkan ruang refleksi, evaluasi, sekaligus penegasan arah masa depan. Pada usia ke-42, ISI Yogyakarta terus memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi seni yang tidak hanya melahirkan karya, tetapi juga menghadirkan pemikiran, nilai, dan keberdampakan bagi masyarakat.
Menurut Dekan FSMR, seni media rekam memiliki posisi yang sangat strategis di era digital. Fotografi, film, televisi, animasi, video, dan media digital tidak lagi hanya menjadi perangkat dokumentasi, tetapi juga telah berkembang menjadi bahasa peradaban. Melalui media rekam, manusia dapat membaca kehidupan, memahami realitas sosial, dan membangun kesadaran kemanusiaan.
“Kamera bukan sekadar alat untuk membidik objek, melainkan jendela untuk memahami manusia. Lensa bukan hanya perangkat optik, tetapi juga cara pandang. Editing bukan hanya proses teknis, tetapi juga proses etik,” demikian pesan Dekan FSMR dalam sambutannya.

Rangkaian kegiatan ini menghadirkan pameran karya, penayangan film, video, dan animasi, simposium internasional bertema “Artistic Intelligence,” workshop seni dan budaya, hingga layar tancap yang terbuka bagi masyarakat. Kegiatan tersebut mempertemukan mahasiswa, dosen, alumni, seniman, akademisi, praktisi, mitra, dan publik dalam satu ruang dialog kreatif.
Fakultas Seni Media Rekam (FSMR) ISI Yogyakarta sebagai pelaksana kegiatan menghadirkan karya dari berbagai program studi, yakni Fotografi, Film dan Televisi, Produksi Film dan Televisi, serta Animasi. Karya-karya tersebut merupakan hasil proses pembelajaran, eksplorasi kreatif, penelitian, dan refleksi terhadap berbagai fenomena sosial serta kemanusiaan di tengah era digital dan artificial intelligence.
Pada bidang fotografi, karya-karya yang ditampilkan mengangkat beragam perspektif tentang kehidupan manusia, relasi sosial, identitas budaya, perubahan lingkungan, hingga respons manusia terhadap perkembangan teknologi. Fotografi dalam pameran ini diposisikan bukan hanya sebagai medium perekam realitas, tetapi juga sebagai ruang kesaksian, tafsir, dan dialog antara fakta, teknologi, dan kemanusiaan.
Sementara itu, Program Studi Film dan Televisi menampilkan karya dalam bentuk skenario film, film pendek fiksi, dokumenter, film tari, dan video art. Karya-karya tersebut memperlihatkan bagaimana generasi muda dan para dosen membaca persoalan identitas, keluarga, privasi digital, lingkungan, relasi sosial, hingga dimensi spiritual manusia. Di tengah kemampuan teknologi yang semakin canggih dalam menghasilkan gambar dan cerita, karya-karya film tersebut menegaskan bahwa kemampuan manusia untuk merasakan, berempati, dan memberi makna tetap menjadi fondasi utama seni.
Program Studi Produksi Film dan Televisi menghadirkan karya dokumenter, film eksperimental, film fiksi, poster film, ilustrasi komik, dan video pariwisata. Karya-karya tersebut menunjukkan perluasan medan kerja seni media rekam, tidak hanya pada industri film dan televisi, tetapi juga pada dokumentasi budaya, penguatan pariwisata, industri kreatif, dan pengembangan konten visual berbasis kolaborasi dengan mitra.

Adapun Program Studi Animasi menghadirkan 39 karya dalam berbagai bentuk, mulai dari gim, animasi pendek, animasi iklan, desain karakter, ilustrasi digital, buku cerita interaktif, story bible, hingga animasi interaktif berbasis motion capture. Karya-karya ini memperlihatkan bahwa artificial intelligence dapat menjadi mitra eksplorasi kreatif, selama gagasan, empati, kesadaran sosial, dan nilai kemanusiaan tetap menjadi pusat penciptaan.
Dekan Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya FSMR dalam membangun ekosistem seni media rekam yang adaptif, inovatif, sekaligus humanis. Sebagai fakultas yang menaungi bidang fotografi, film, televisi, animasi, dan media digital, FSMR memiliki tanggung jawab untuk terus mengembangkan kreativitas yang berpijak pada nilai akademik, kepekaan sosial, kemajuan teknologi, dan tanggung jawab etis.
Kehadiran mitra, seniman, dan akademisi internasional juga memperkuat posisi ISI Yogyakarta sebagai kampus seni yang aktif membangun percakapan lintas budaya dan lintas negara. Melalui keterlibatan Project Eleven serta jejaring internasional lainnya, kegiatan ini menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai hubungan seni, teknologi, dan pengalaman manusia.
Founder Project Eleven, Konfir Kabo, menyampaikan bahwa seni bukan hanya bentuk ekspresi, tetapi ruang aktif tempat gagasan, pertanyaan, dan masa depan dinegosiasikan. Menurutnya, di tengah perubahan besar produksi kreatif akibat kecerdasan buatan dan sistem digital, peran seniman justru semakin penting untuk memberi arah melalui kepekaan, pemikiran kritis, dan pengalaman hidup.
Pameran dan penayangan karya ini tidak hanya menjadi perayaan Dies Natalis, tetapi juga pernyataan akademik dan kultural ISI Yogyakarta dalam menghadapi tantangan zaman. Melalui “Narrating Humanity,” ISI Yogyakarta menegaskan bahwa perkembangan artificial intelligence harus dibaca secara kritis, kreatif, dan etis, tanpa melepaskan seni dari akar kemanusiaannya.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat branding ISI Yogyakarta sebagai perguruan tinggi seni yang mampu merespons perubahan global, membangun jejaring internasional, mengembangkan ekosistem kreatif, serta melahirkan karya dan pemikiran yang relevan bagi masyarakat. Dengan demikian, ISI Yogyakarta terus memantapkan perannya sebagai pusat unggulan seni dan budaya yang berdaya saing global, sekaligus tetap berpijak pada nilai kemanusiaan, kreativitas, dan tanggung jawab sosial.







