Bangkok, Thailand – Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta memperkuat kiprah internasionalnya melalui partisipasi aktif dalam Silpakorn University International Conference in Total Art and Science (SICTAS) 2026 yang diselenggarakan pada 16-21 Juni 2026 di Bangkok Art and Culture Centre (BACC), Bangkok, Thailand. Mengusung tema “Art, Music and Design for Sustainability”, forum ini menjadi ruang strategis bagi perguruan tinggi seni untuk mempertemukan gagasan akademik, praktik artistik, inovasi desain, pendidikan musik, dan agenda keberlanjutan dalam satu percakapan global.
Kehadiran ISI Yogyakarta dalam SICTAS 2026 tidak hanya berlangsung sebagai partisipasi individual dosen, tetapi juga sebagai bagian dari jejaring kelembagaan internasional. Pada penyelenggaraan tahun ini, ISI Yogyakarta menjadi salah satu co-host institution bersama Silpakorn University dan sejumlah mitra akademik dunia, antara lain Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA) – University of the Arts Singapore, National University of Singapore, Shanghai Academy of Fine Arts – Shanghai University, Silliman University, University of Illinois Urbana-Champaign, dan Wuhan University.
Posisi tersebut menegaskan peran ISI Yogyakarta sebagai perguruan tinggi seni Indonesia yang aktif membangun kolaborasi lintas negara, lintas disiplin, dan lintas ekosistem kreatif. Melalui forum ini, ISI Yogyakarta membawa perspektif seni Indonesia ke ruang akademik internasional, sekaligus memperluas peluang pertukaran pengetahuan, riset, publikasi, mobilitas akademik, dan kerja sama kreatif di kawasan Asia maupun jejaring global.
SICTAS 2026 dirancang sebagai platform internasional untuk mempresentasikan hasil penelitian, bertukar pengetahuan, serta memperkuat integrasi seni, musik, desain, dan disiplin terkait. Di dalamnya, keberlanjutan dipahami secara luas, tidak hanya sebagai isu lingkungan, tetapi juga sebagai agenda sosial, budaya, teknologi, pendidikan, kesejahteraan emosional, hingga pengembangan komunitas. Rangkaian programnya turut menghadirkan keynote speakers internasional, panel diskusi, lebih dari 80 presentasi akademik, serta Silpakorn Showcase yang mengubah BACC menjadi ruang pertukaran gagasan, karya, dan inspirasi lintas negara.
Dalam agenda ilmiah SICTAS 2026, empat dosen ISI Yogyakarta tampil melalui presentasi oral dan poster. Lily Elserisa mempresentasikan “Visual Construction of Intergenerational Care in ‘Granny Loves to Dance’ Children’s Picture Book” pada Track 1 bertema “Visual Arts and Emotional Well-being for Sustainable Communities”. Kajian ini menempatkan buku gambar anak sebagai medium visual untuk membaca relasi antargenerasi, kepedulian, dan kesejahteraan emosional dalam komunitas berkelanjutan.
Taufik Ivan Irwansyah hadir melalui paper “Walking with the Speculative Objects as Artistic Research” pada Track 2 bertema “Interdisciplinary Aesthetics and New Media for Sustainable Futures”. Paparan tersebut memperlihatkan bagaimana riset artistik dapat bekerja sebagai metode penciptaan pengetahuan, terutama ketika objek, spekulasi, pengalaman tubuh, dan media baru dipertemukan untuk merumuskan kemungkinan masa depan yang lebih berkelanjutan.
Dari bidang musik dan pendidikan, Oriana Tio Parahita Nainggolan mempresentasikan “Developing Piano Learning Readiness in Children: A Video-Based Study of Dalcroze Eurhythmics in Early Childhood Music Education”. Riset ini memperluas diskusi mengenai pembelajaran piano pada anak usia dini melalui pendekatan Dalcroze Eurhythmics, sekaligus menegaskan kontribusi pendidikan musik dalam membangun kesiapan belajar, kepekaan tubuh, ritme, dan kreativitas anak.
Sementara itu, Fortunata Tyasrinestu berpartisipasi melalui poster “The Melancholy of Adults in Nostalgia for Javanese Children Song”. Karya ilmiah ini mengangkat memori, nostalgia, dan warisan lagu anak Jawa sebagai medan pembacaan budaya yang relevan bagi masyarakat kontemporer. Kehadiran tema tersebut memperkaya percakapan SICTAS 2026 dengan perspektif lokal Indonesia yang berakar pada tradisi, namun tetap terbuka untuk dialog global.
Keempat kontribusi tersebut menunjukkan keluasan mandat akademik ISI Yogyakarta sebagai institusi seni yang bergerak di ranah seni rupa dan desain, media baru, riset artistik, pendidikan musik, kajian budaya, serta praktik kreatif berbasis pengetahuan. Partisipasi ini sekaligus memperlihatkan bahwa seni tidak hanya diposisikan sebagai ekspresi estetik, tetapi juga sebagai perangkat riset, pendidikan, penguatan komunitas, pemajuan kebudayaan, dan respons terhadap tantangan keberlanjutan.
Bagi ISI Yogyakarta, SICTAS 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat rekognisi internasional, memperluas jejaring akademik, dan meneguhkan kontribusi perguruan tinggi seni Indonesia dalam percakapan global mengenai masa depan seni. Melalui forum ini, ISI Yogyakarta terus mendorong dosen dan sivitas akademika untuk hadir di panggung internasional, membangun kolaborasi setara, serta mengembangkan pengetahuan seni yang relevan bagi kemanusiaan dan keberlanjutan.
Partisipasi ISI Yogyakarta dalam SICTAS 2026 juga menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan reputasi kelembagaan melalui karya, riset, dan kolaborasi. Di tengah perubahan lanskap pendidikan tinggi seni dunia, kehadiran ISI Yogyakarta di Bangkok menegaskan bahwa perguruan tinggi seni Indonesia memiliki kapasitas untuk berkontribusi pada isu-isu global, sekaligus menawarkan kekayaan perspektif Nusantara dalam merancang masa depan seni, musik, dan desain yang lebih inklusif dan berkelanjutan.







