Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Kolaborasi FSP ISI Yogyakarta Menggema di Pembukaan ARTJOG 2026 melalui Pertunjukan “GUILTY”

Kolaborasi FSP ISI Yogyakarta Menggema di Pembukaan ARTJOG 2026 melalui Pertunjukan “GUILTY”

Yogyakarta, 19 Juni 2026 — Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali menegaskan perannya sebagai pusat pendidikan, penciptaan, dan kolaborasi seni bertaraf internasional melalui keterlibatan 30 mahasiswa dalam pertunjukan kolaboratif bertajuk “GUILTY” pada pembukaan ARTJOG 2026. Pertunjukan tersebut berlangsung pada Jumat, 19 Juni 2026, pukul 19.00 WIB, di Jogja National Museum, Yogyakarta.

Kehadiran mahasiswa ISI Yogyakarta dalam salah satu panggung pembuka festival seni kontemporer bergengsi tersebut menjadi penanda penting bahwa proses pendidikan seni di ISI Yogyakarta tidak berhenti di ruang kelas. Mahasiswa didorong untuk mengalami langsung praktik artistik profesional, berinteraksi dengan seniman lintas negara, serta memahami dinamika penciptaan karya dalam ekosistem seni kontemporer yang terus berkembang.

Dalam pertunjukan “GUILTY”, 30 mahasiswa yang tergabung dalam kelompok kreativitas mahasiswa vokal klasik Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta tampil bersama seniman dan musisi lintas negara, yaitu Monica Lim dari Australia, Patrick Hartono, serta Morgan May dari Australia. Kolaborasi ini menghadirkan pertemuan antara disiplin vokal klasik, musik eksperimental, teknologi bunyi, dan gagasan artistik kontemporer.

Keterlibatan mahasiswa FSP ISI Yogyakarta dalam pertunjukan ini merupakan bagian dari inisiatif kolaboratif yang didukung oleh Project Eleven dan ISI Yogyakarta. Agenda tersebut juga berkaitan dengan rangkaian Pre-Symposium Asia Pacific Art Forum (APAF) 2026 yang mempertemukan pemikiran intelektual, pedagogis, dan artistik dari Indonesia dan Australia.

Wakil Dekan Bidang III FSP ISI Yogyakarta menyampaikan bahwa kolaborasi ini menjadi ruang pembelajaran penting bagi mahasiswa untuk memasuki praktik seni profesional berskala internasional.

“Kolaborasi ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan ruang belajar bagi mahasiswa kami untuk menyelami dialektika antara tradisi vokal klasik dengan musik eksperimental kontemporer yang dipandu oleh para praktisi seni kelas dunia,” ujarnya.

Menurutnya, pengalaman tampil di panggung ARTJOG memberikan kesempatan strategis bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan artistik, menguji kemampuan teknis, serta membangun kepekaan kolaboratif. Melalui proses tersebut, mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki keterampilan musikal, tetapi juga kemampuan membaca konteks, bekerja lintas budaya, dan merespons perkembangan seni global.

ARTJOG 2026 sendiri berlangsung pada 19 Juni hingga 30 Agustus 2026 di Jogja National Museum dengan mengusung payung tema “Ars Longa: Generatio”. Tema ini memperluas pembacaan terhadap keberlanjutan seni, pertemuan antargenerasi, serta peran seni dalam merespons perubahan sosial dan kebudayaan. Dalam konteks tersebut, kehadiran mahasiswa ISI Yogyakarta melalui “GUILTY” memperlihatkan bagaimana generasi muda seniman Indonesia terlibat aktif dalam percakapan seni kontemporer yang lebih luas.

Bagi ISI Yogyakarta, partisipasi ini memiliki nilai strategis dalam penguatan reputasi kelembagaan. Sebagai perguruan tinggi seni negeri yang menyelenggarakan pendidikan seni secara komprehensif, ISI Yogyakarta terus memperluas ruang aktualisasi mahasiswa melalui jejaring festival, residensi, forum akademik, dan kolaborasi internasional. Keterlibatan langsung mahasiswa dalam ARTJOG menjadi bukti bahwa kampus seni dapat berperan sebagai laboratorium penciptaan, pusat produksi pengetahuan, sekaligus penghubung antara pendidikan tinggi seni dan ekosistem kreatif global.

Kolaborasi “GUILTY” juga sejalan dengan semangat Dies Natalis ke-42 ISI Yogyakarta yang mengusung tema “Redefining Arts Impact: Seni, Kemanusiaan, dan Kreativitas di Era Artificial Intelligence.” Melalui tema tersebut, ISI Yogyakarta menempatkan seni sebagai kekuatan reflektif dan transformatif dalam menghadapi perubahan zaman, termasuk perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, dan praktik kreatif lintas disiplin.

Dengan tampilnya mahasiswa FSP ISI Yogyakarta bersama seniman internasional di pembukaan ARTJOG 2026, ISI Yogyakarta semakin meneguhkan posisinya sebagai perguruan tinggi seni yang progresif, terbuka terhadap kerja sama global, dan berkomitmen mencetak talenta seni yang siap berkontribusi di tingkat nasional maupun internasional.

Melalui agenda ini, FSP ISI Yogyakarta tidak hanya menghadirkan karya pertunjukan, tetapi juga memperlihatkan arah pendidikan seni yang berbasis pengalaman, kolaborasi, dan keberanian bereksperimen. Kehadiran mahasiswa dalam panggung prestisius tersebut menjadi representasi nyata bahwa ISI Yogyakarta terus bergerak sebagai kampus seni yang menghubungkan tradisi, inovasi, teknologi, dan kemanusiaan dalam satu ekosistem penciptaan yang berdampak.

Cari
Kategori

Bagikan postingan ini

Tinggalkan Balasan

id_IDID