Yogyakarta, 19 Juni 2026 — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta terus memperkuat posisinya sebagai perguruan tinggi seni yang adaptif terhadap perkembangan teknologi melalui penyelenggaraan Lokakarya Seni: Teknologi dan Pasca-Humanisme. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-42 ISI Yogyakarta tahun 2026 yang mengusung tema besar “Redefining Arts Impact: Seni, Kemanusiaan, dan Kreativitas di Era Artificial Intelligence.”
Lokakarya akan diselenggarakan pada Senin, 22 Juni 2026 pukul 10.00–12.00 WIB bertempat di Ruang Komputer Jurusan Desain Lantai 3, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Yogyakarta. Kegiatan ini menghadirkan Rangga Purbaya sebagai narasumber yang akan mengajak peserta mengeksplorasi hubungan antara perkembangan teknologi, praktik artistik, serta perubahan cara manusia memahami kreativitas pada era pasca-digital.
Melalui tema Teknologi dan Pasca-Humanisme, lokakarya ini membuka ruang dialog kritis mengenai posisi manusia di tengah perkembangan teknologi, terutama ketika kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), algoritma, dan sistem digital semakin terlibat dalam proses penciptaan seni. Isu pasca-humanisme menjadi penting karena perkembangan teknologi tidak hanya mengubah alat berkarya, tetapi juga memengaruhi cara seniman berpikir, mencipta, berkolaborasi, dan memaknai hubungan antara manusia, mesin, serta lingkungan.
Sebagai perguruan tinggi seni terbesar di Indonesia, ISI Yogyakarta memandang transformasi teknologi bukan sebagai ancaman bagi kreativitas manusia, melainkan sebagai medan eksplorasi baru. Kehadiran AI dan teknologi digital menjadi peluang bagi seniman untuk memperluas bahasa artistik tanpa meninggalkan nilai utama seni, yaitu sensitivitas rasa, pengalaman manusia, imajinasi, dan refleksi sosial.
Rektor ISI Yogyakarta, Dr. Irwandi, M.Sn., dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa perkembangan teknologi harus ditempatkan sebagai mitra dalam memperkuat ekosistem seni. Menurutnya, pendidikan seni memiliki peran strategis untuk memastikan kemajuan teknologi tetap berjalan berdampingan dengan nilai kemanusiaan.
“ISI Yogyakarta terus mendorong sivitas akademika untuk mampu membaca perubahan zaman. Teknologi, termasuk artificial intelligence, perlu dipahami sebagai ruang eksplorasi kreatif baru. Namun, pusat dari seluruh proses penciptaan seni tetap berada pada gagasan, kepekaan, dan nilai kemanusiaan yang dibawa oleh seniman,” ujar Rektor.
Lokakarya ini juga sejalan dengan arah pengembangan ISI Yogyakarta sebagai pusat pendidikan, penelitian, dan penciptaan seni berbasis inovasi. Melalui berbagai forum akademik dan artistik, ISI Yogyakarta terus mempertemukan tradisi seni, ilmu pengetahuan, teknologi, dan perspektif masa depan untuk menghasilkan seniman serta kreator yang mampu berkontribusi dalam perubahan global.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga laboratorium gagasan untuk melihat bagaimana teknologi dapat memperluas kemungkinan dalam seni rupa, desain, media baru, hingga praktik interdisipliner lainnya.
Penyelenggaraan lokakarya dalam momentum Dies Natalis ke-42 menjadi representasi komitmen ISI Yogyakarta dalam membangun ekosistem seni yang relevan dengan perkembangan zaman. Dengan mengangkat isu pasca-humanisme, ISI Yogyakarta menegaskan bahwa masa depan seni bukan sekadar tentang kemampuan mesin menghasilkan karya, tetapi bagaimana manusia tetap menghadirkan makna, empati, dan kreativitas dalam jejaring teknologi yang semakin kompleks.
Melalui berbagai agenda akademik dan artistik tersebut, ISI Yogyakarta terus memperkuat perannya sebagai pusat unggulan pendidikan tinggi seni yang merawat nilai budaya sekaligus memimpin eksplorasi kreativitas di era kecerdasan buatan.






