YOGYAKARTA, 13 Juni 2026 – Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali meneguhkan posisinya sebagai perguruan tinggi seni terdepan melalui penyelenggaraan pameran seni rupa bertajuk “Post-Machine Algorithm: Resonansi Rasa dalam Jejaring Biner” di Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta. Pameran yang menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis Ke-42 ISI Yogyakarta ini akan dibuka pada 20 Juni 2026 pukul 19.00 WIB dan berlangsung hingga 26 Juni 2026.
Mengusung semangat Dies Natalis Ke-42, “Redefining Arts Impact: Seni, Kemanusiaan, dan Kreativitas di Era Artificial Intelligence”, pameran ini menghadirkan ruang refleksi kritis mengenai hubungan antara manusia, seni, dan teknologi di tengah perkembangan kecerdasan buatan yang semakin masif.
Melalui karya-karya yang dipamerkan, para seniman diajak untuk mengeksplorasi bagaimana praktik artistik tetap menjadi ruang yang menyimpan intuisi, pengalaman batin, emosi, serta jejak kemanusiaan yang tidak sepenuhnya dapat direplikasi oleh sistem algoritmik. Pameran ini tidak hanya menampilkan karya sebagai produk visual, tetapi juga menempatkan seni sebagai medium dialog yang mempertanyakan, merespons, sekaligus menegosiasikan perubahan zaman.
Tema Post-Machine Algorithm lahir dari kesadaran bahwa perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan telah mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, dan berkreasi. Dalam konteks tersebut, seni hadir sebagai ruang untuk membaca ulang posisi manusia di tengah jejaring biner yang semakin kompleks.
Pameran ini menawarkan perspektif bahwa di balik kecepatan komputasi dan kemampuan analitik mesin, terdapat dimensi rasa, empati, intuisi, serta pengalaman hidup yang menjadi fondasi utama praktik kesenian. Ketegangan antara rasa dan logika, manusia dan algoritma, menjadi titik berangkat yang diolah para perupa menjadi berbagai bentuk ekspresi visual yang reflektif dan kritis.
Kurator pameran, Dr. Nadiyah Tunnikmah, S.Sn., M.A., Lily Elserisa, M.Sn., dan Khoirul Anam, S.Sn., M.A., merancang pameran sebagai ruang perjumpaan berbagai gagasan tentang masa depan seni di era pasca-digital. Melalui pendekatan kuratorial tersebut, publik diajak memahami bahwa perkembangan teknologi tidak selalu harus dipandang sebagai ancaman terhadap kreativitas, melainkan sebagai medan baru yang membuka peluang kolaborasi, adaptasi, sekaligus refleksi kritis.
Sebagai institusi pendidikan tinggi seni yang terus mendorong inovasi, ISI Yogyakarta memandang isu kecerdasan buatan sebagai bagian penting dari perkembangan ekosistem seni kontemporer. Oleh karena itu, berbagai agenda Dies Natalis Ke-42 tidak hanya menghadirkan perayaan akademik dan kebudayaan, tetapi juga menjadi ruang diskusi strategis mengenai masa depan seni, pendidikan, dan kemanusiaan di era digital.
Penyelenggaraan pameran ini sekaligus memperlihatkan komitmen ISI Yogyakarta dalam mengembangkan praktik pendidikan seni yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan. Di tengah transformasi global yang dipicu oleh kemajuan kecerdasan buatan, ISI Yogyakarta terus memperkuat perannya sebagai pusat pengembangan seni, budaya, riset kreatif, dan pemikiran kritis yang relevan dengan tantangan zaman.
Melalui Post-Machine Algorithm: Resonansi Rasa dalam Jejaring Biner, ISI Yogyakarta mengundang akademisi, seniman, mahasiswa, pelaku industri kreatif, serta masyarakat luas untuk terlibat dalam percakapan mengenai masa depan kreativitas manusia. Pameran ini diharapkan menjadi ruang apresiasi sekaligus refleksi bersama tentang bagaimana seni dapat tetap menjadi penanda kemanusiaan di tengah dominasi teknologi dan algoritma.
Dengan menghadirkan wacana yang relevan dengan perkembangan global, pameran ini semakin memperkuat posisi ISI Yogyakarta sebagai perguruan tinggi seni yang tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga menjadi pusat produksi pengetahuan, gagasan, dan inovasi yang berkontribusi bagi perkembangan seni dan kebudayaan di tingkat nasional maupun internasional.






