Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

FSRD ISI Yogyakarta Perkuat Jejaring Seni Asia-Pasifik melalui APAF 2026 “Artistic Intelligence”

FSRD ISI Yogyakarta Perkuat Jejaring Seni Asia-Pasifik melalui APAF 2026 “Artistic Intelligence”

Yogyakarta, 22 Juni 2026 — Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menjadi tuan rumah penyelenggaraan hari pertama Asia Pacific Art Forum (APAF) 2026 pada Senin, 22 Juni 2026, di Gedung Sasana Ajiyasa, FSRD ISI Yogyakarta. Forum internasional ini mengusung tema “Artistic Intelligence” atau “Kecerdasan Artistik”.

APAF 2026 mempertemukan akademisi, peneliti, kurator, dan seniman dari Indonesia dan Australia untuk membahas peran seni sebagai ruang produksi pengetahuan, dialog lintas budaya, serta respons kreatif terhadap perkembangan zaman. Kegiatan ini menjadi bagian dari kolaborasi antara ISI Yogyakarta dan Project Eleven dalam memperkuat jejaring akademik dan artistik di kawasan Asia-Pasifik.

Acara dibuka secara resmi oleh Rektor ISI Yogyakarta bersama Founder Project Eleven, Konfir Kabo, dan Dekan FSRD ISI Yogyakarta. Pembukaan dilanjutkan dengan keynote lecture oleh Professor Marie Sierra, Dean of the Faculty of Fine Arts and Music, The University of Melbourne.

Dalam paparannya, Marie Sierra menekankan bahwa kecerdasan artistik merupakan kemampuan manusia dalam mengolah imajinasi, pengalaman, dan nilai-nilai budaya menjadi pengetahuan yang bermakna. Menurutnya, kecerdasan artistik semakin penting di era kecerdasan buatan karena seni mampu menghadirkan perspektif kreatif, inklusif, dan berpusat pada pengalaman manusia.

Tema “Artistic Intelligence” diangkat sebagai respons terhadap kecenderungan pemaknaan kecerdasan yang selama ini lebih banyak dikaitkan dengan logika, data, dan komputasi. Melalui forum ini, seni dipahami sebagai cara mengetahui yang berakar pada pengalaman, intuisi, afeksi, relasi sosial, dan konteks budaya.

Pada Seminar Panel I yang dimoderatori oleh Dr. I Gede Arya Sucitra, S.Sn., M.A., hadir tiga pembicara, yaitu Dr. Elly Kent dari The Australian National University, Dr. Tisna Sanjaya dari Institut Teknologi Bandung, dan Mang Moel dari Mogus Studio Yogyakarta. Ketiganya membahas praktik seni sebagai medium yang menjembatani pengalaman, identitas lintas budaya, kreativitas, imajinasi, serta kesadaran lingkungan.

Sementara itu, Seminar Panel II yang dimoderatori oleh A. Sudjud Dartanto, S.Sn., M.Hum., menghadirkan Jumaldi Alfi dari Sarang Space Yogyakarta, Dr. Alexandra Roginski dari Museum Victoria Melbourne, serta Brigitta Isabella, M.A. dari FSRD ISI Yogyakarta. Diskusi panel ini mengulas seni sebagai ruang produksi pengetahuan berbasis pengalaman dan konteks lokal, termasuk upaya menghubungkan kembali koleksi Indonesia di museum dengan sejarah serta komunitas asalnya.

PIC Simposium APAF 2026 FSRD ISI Yogyakarta, Yasin Surya Wijaya, S.Pd., M.A., menyampaikan bahwa simposium ini menunjukkan pentingnya kecerdasan artistik dalam membaca tantangan kontemporer.

“Melalui simposium ini, kita melihat bahwa kecerdasan artistik tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menciptakan karya seni, tetapi juga dengan cara seni menghasilkan pengetahuan, membangun dialog lintas budaya, serta merawat hubungan antara manusia, sejarah, dan lingkungannya,” ujar Yasin.

Ia menambahkan, paparan para narasumber memperlihatkan bahwa praktik artistik memiliki peran penting dalam menghadapi isu identitas budaya, pelestarian warisan, hingga persoalan sosial dan lingkungan. Karena itu, FSRD ISI Yogyakarta berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang pertukaran gagasan yang mempertemukan perspektif lokal dan global dalam pengembangan seni, desain, dan kebudayaan.

Melalui APAF 2026, ISI Yogyakarta meneguhkan posisinya sebagai perguruan tinggi seni yang aktif membangun jejaring internasional, memperluas ekosistem riset artistik, serta mendorong seni sebagai kekuatan intelektual dan kultural. Forum ini juga menjadi ruang strategis untuk membuka peluang kolaborasi lebih luas antara institusi pendidikan seni, komunitas, museum, kurator, seniman, dan pelaku budaya di kawasan Asia-Pasifik.

Cari
Kategori

Bagikan postingan ini

id_IDID