Yogyakarta, 27 Maret 2026 – ISI Yogyakarta kembali menegaskan posisinya sebagai pusat pengembangan seni rupa nasional melalui penyelenggaraan pameran bertajuk “Lanskap” di Galeri R.J. Katamsi. Pameran ini menghadirkan pendekatan kritis terhadap tradisi lukisan lanskap, khususnya dalam kaitannya dengan sejarah estetika Mooi Indie yang berkembang sejak akhir abad ke-19.
Dikurasi oleh A. Anzieb dan dibuka secara resmi oleh KPH. Wironegoro pada Rabu, 1 April 2026 pukul 19.00 WIB, pameran ini menjadi ruang dialog antara sejarah seni lukis Indonesia dan praktik artistik kontemporer. Sejumlah seniman lintas generasi turut berpartisipasi, menghadirkan karya yang tidak hanya merepresentasikan keindahan visual, tetapi juga mengandung refleksi kritis terhadap konstruksi budaya dalam lanskap.
Secara historis, gaya Mooi Indie dikenal sebagai representasi visual keindahan alam Hindia Belanda yang banyak dipopulerkan oleh pelukis Eropa, serta diikuti oleh sejumlah pelukis pribumi seperti Raden Saleh Sjarif Bustaman, Abdullah Surio Subroto, hingga Basuki Abdullah. Namun, di balik estetika tersebut, muncul wacana kritis mengenai kemungkinan adanya praktik apropriasi budaya—di mana simbol, tradisi, dan identitas lokal direpresentasikan tanpa pengakuan yang memadai terhadap asal-usulnya.
Melalui pameran “Lanskap”, para seniman berupaya membuka kembali ruang tafsir tersebut dalam konteks kekinian. Lanskap tidak lagi dipahami sekadar sebagai objek visual, melainkan sebagai medan ideologis yang merekam relasi kuasa, sejarah, dan identitas. Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana seni rupa dapat berfungsi sebagai medium refleksi sekaligus kritik terhadap narasi dominan yang telah terbentuk selama berabad-abad.
Pameran yang berlangsung pada 2–8 April 2026 ini terbuka untuk publik setiap hari pukul 10.00–20.00 WIB. Kehadiran pameran ini sekaligus memperkuat peran ISI Yogyakarta sebagai institusi pendidikan tinggi seni yang aktif mendorong produksi pengetahuan berbasis praktik artistik, serta menjadi ruang strategis bagi diskursus seni rupa yang relevan dengan perkembangan global.
Lebih dari sekadar ajang apresiasi, “Lanskap” menjadi manifestasi komitmen ISI Yogyakarta dalam mengembangkan ekosistem seni yang kritis, reflektif, dan berdampak—sejalan dengan semangat kampus sebagai pusat inovasi budaya yang terus bergerak maju di tingkat nasional maupun internasional.






