Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Akademisi ISI Yogyakarta Suwarno Wisetrotomo Kurasi TATAH 2026, Tegaskan Seni Ukir Jepara sebagai Warisan Pengetahuan Bangsa

Akademisi ISI Yogyakarta Suwarno Wisetrotomo Kurasi TATAH 2026, Tegaskan Seni Ukir Jepara sebagai Warisan Pengetahuan Bangsa

Yogyakarta, 14 April 2026 — Peran akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali menonjol dalam panggung kebudayaan nasional. Dosen dan kurator seni rupa ISI Yogyakarta, Dr. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum., dipercaya menjadi salah satu kurator dalam Pameran TATAH 2026 bertajuk “Suluk–Sulur–Jepara”, sebuah pameran berbasis riset yang akan digelar di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, pada 20 April hingga 5 Juli 2026. Pameran ini menjadi ikhtiar penting untuk menghadirkan kembali seni ukir Jepara sebagai kekayaan budaya yang lahir dari sejarah panjang, kerja kreatif, dan ekosistem pengetahuan yang terus hidup.

Keterlibatan Dr. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum dalam TATAH 2026 menegaskan kapasitas akademisi ISI Yogyakarta bukan hanya sebagai pengajar di ruang kelas, melainkan juga sebagai penggerak wacana, pembaca kebudayaan, dan perumus arah pemaknaan seni di ruang publik. Dalam tim kuratorial, Dr. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum bersama kurator lain, Nano Warsono, M.Sn., dan Nurrohmad, S.Sn., mengawal sebuah pameran yang tidak berhenti pada presentasi visual karya ukir, tetapi bergerak lebih jauh sebagai pembacaan atas Jepara sebagai ruang budaya, ruang sejarah, dan ruang hidup bagi tradisi mengukir yang diwariskan lintas generasi.

Penegasan itu tampak kuat dalam penampilan Dr. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum sebagai narasumber dalam gelar wicara Metro TV pada Sabtu, 11 April 2026, yang mengangkat tema kebangkitan kembali kejayaan seni ukir Jepara melalui Pameran TATAH 2026. Dalam narasi yang mengemuka, pameran ini diposisikan bukan sebagai ajang promosi produk semata, melainkan sebagai ruang untuk mengembalikan seni ukir pada martabatnya sebagai laku budaya. Melalui forum tersebut, gagasan yang dibawa memperlihatkan bahwa seni ukir Jepara harus dipahami sebagai hasil dari proses panjang: perpaduan antara keterampilan, pengalaman material, kedalaman makna, etos kerja, dan ketekunan jiwa yang tidak lahir secara instan. Dalam kerangka itu, Ia menempatkan TATAH 2026 sebagai pameran yang memiliki fondasi konseptual kuat. Tema Suluk–Sulur–Jepara dibaca sebagai satu kesatuan cara pandang. “Suluk” menunjuk pada dimensi laku, pemahaman, dan etika dalam kerja seni; “Sulur” merepresentasikan pertumbuhan, kesinambungan, dan perkembangan bahasa visual; sedangkan “Jepara” hadir sebagai identitas budaya yang dibangun dari jejak sejarah, keterampilan kolektif, dan daya tahan sebuah ekosistem seni.

Melalui pembacaan ini, Dr. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum menghadirkan perspektif bahwa seni ukir Jepara bukan sekadar tradisi kerajinan, melainkan produk pengetahuan yang tumbuh dari kebudayaan yang matang. Narasi yang muncul dalam talkshow Metro TV juga memperkuat satu hal mendasar: ukir Jepara tidak bisa dibaca hanya dari hasil akhirnya. Yang justru penting adalah proses di belakangnya, mulai dari pengukir, perajin, periset, kurator, pemerintah daerah, penyedia material, hingga para penggerak yang menjaga kesinambungan ekosistemnya.

Sudut pandang inilah yang membuat peran Dr. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum sebagai akademisi ISI Yogyakarta menjadi sangat strategis. Ia membawa pendekatan intelektual dan kebudayaan ke dalam arena kuratorial, sehingga pameran tidak berhenti sebagai tontonan estetik, tetapi berkembang menjadi medium refleksi publik tentang bagaimana seni dilahirkan, diwariskan, dan dimaknai kembali dalam konteks Indonesia masa kini.

Bagi ISI Yogyakarta, kiprah para kurator dalam TATAH 2026 mempertegas kontribusi perguruan tinggi seni dalam membangun percakapan kebudayaan pada level nasional. Kehadiran akademisi ISI Yogyakarta dalam proyek kuratorial sebesar ini menunjukkan bahwa kampus seni memiliki peran penting dalam merawat warisan budaya sekaligus membawanya ke horizon pemaknaan yang lebih luas, lebih ilmiah, dan lebih relevan dengan perkembangan zaman.

Sumber: Metrotv

Cari
Kategori

Bagikan postingan ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDID