Yogyakarta, 2 September 2025 — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta mencatat Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) sebesar 82,57 pada Survei Kepuasan Masyarakat periode Januari–Agustus 2025. Capaian tersebut menempatkan layanan informasi ISI Yogyakarta dalam kategori B atau Baik, berdasarkan pengukuran terhadap 14 unsur pelayanan publik.
Hasil ini menjadi salah satu indikator penting dalam memperkuat tata kelola kelembagaan ISI Yogyakarta sebagai perguruan tinggi seni negeri yang tidak hanya berfokus pada pengembangan pendidikan, penciptaan, dan pengkajian seni, tetapi juga pada kualitas layanan publik, keterbukaan informasi, serta peningkatan pengalaman masyarakat dalam mengakses layanan kampus.
Survei Kepuasan Masyarakat tersebut disusun oleh Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) ISI Yogyakarta. Survei dilakukan secara daring kepada masyarakat yang mengakses layanan informasi ISI Yogyakarta melalui Pusat Layanan Terpadu atau PANDU. Pada periode Januari–Agustus 2025, survei ini melibatkan 365 responden dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, mahasiswa, guru, pegawai swasta, wiraswasta, PNS/TNI/Polri, alumni, seniman, hingga masyarakat umum.
Rektor ISI Yogyakarta, Dr. Irwandi, S.Sn., M.Sn., dalam pengantar laporan menyampaikan bahwa survei ini menjadi bagian dari upaya institusi untuk mengetahui tingkat kepuasan pengguna layanan publik. Hasil survei tersebut diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi sekaligus motivasi bagi ISI Yogyakarta untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Pengukuran IKM dilakukan terhadap 14 unsur layanan, meliputi prosedur pelayanan, persyaratan pelayanan, kejelasan petugas layanan, kedisiplinan petugas, tanggung jawab petugas, kemampuan petugas, kecepatan pelayanan, keadilan mendapatkan layanan, kesopanan dan keramahan petugas, kewajaran biaya, kepastian biaya, kepastian jadwal pelayanan, kenyamanan lingkungan, serta keamanan pelayanan.
Dari seluruh unsur yang dinilai, aspek kesopanan dan keramahan petugas memperoleh nilai tertinggi, yaitu 3,36. Unsur lain yang juga menonjol adalah kenyamanan lingkungan dengan nilai 3,35, keamanan pelayanan dengan nilai 3,33, serta kedisiplinan petugas layanan dengan nilai 3,32. Capaian ini menunjukkan bahwa layanan ISI Yogyakarta dinilai tidak hanya dari aspek administratif, tetapi juga dari kualitas interaksi, rasa aman, kenyamanan, dan profesionalitas petugas dalam melayani masyarakat.
Ruang lingkup survei mencakup sejumlah layanan strategis yang berhubungan langsung dengan kebutuhan sivitas akademika dan masyarakat, antara lain layanan penerimaan mahasiswa baru, registrasi, peminjaman sarana dan prasarana kegiatan kemahasiswaan, pencairan dana kegiatan kemahasiswaan, pengajuan beasiswa, pengajuan kegiatan ko-kurikuler dan ekstrakurikuler, akses internet, pengajuan mahasiswa berprestasi, perpustakaan, wisuda, serta layanan alumni dan karier.
Cakupan layanan tersebut memperlihatkan bahwa ISI Yogyakarta terus berupaya membangun ekosistem layanan yang mendukung proses pendidikan seni secara menyeluruh. Sebagai perguruan tinggi seni, kualitas layanan publik menjadi bagian penting dari reputasi akademik, karena berdampak langsung pada kelancaran proses belajar, pengembangan prestasi mahasiswa, penguatan jejaring alumni, serta akses masyarakat terhadap informasi kelembagaan.
Capaian IKM 82,57 juga menunjukkan bahwa ISI Yogyakarta terus memperkuat prinsip akuntabilitas dan keterbukaan informasi publik. Melalui layanan berbasis daring, masyarakat dapat memberikan penilaian, masukan, dan aspirasi secara lebih mudah. Mekanisme ini menjadi bagian dari komitmen ISI Yogyakarta untuk menghadirkan pelayanan yang adaptif, transparan, dan responsif terhadap kebutuhan pemangku kepentingan.
Keberagaman latar belakang responden turut menunjukkan luasnya jangkauan layanan informasi ISI Yogyakarta. Layanan kampus tidak hanya diakses oleh mahasiswa aktif, tetapi juga oleh calon mahasiswa, pelajar, orang tua, alumni, tenaga profesional, pelaku seni, dan masyarakat umum. Hal ini memperkuat posisi ISI Yogyakarta sebagai rujukan pendidikan tinggi seni yang memiliki peran penting dalam ekosistem seni, budaya, dan pendidikan di Indonesia.
Berdasarkan hasil kajian dalam laporan tersebut, seluruh unsur penilaian pada periode Januari–Agustus 2025 memperoleh kategori baik. ISI Yogyakarta juga menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan sarana layanan, kualitas pelayanan, serta kapasitas sumber daya manusia yang bertugas melayani masyarakat. Upaya berkelanjutan ini diarahkan agar nilai kepuasan masyarakat dapat terus meningkat menuju kategori sangat baik.
Melalui capaian ini, ISI Yogyakarta menegaskan bahwa reputasi perguruan tinggi seni tidak hanya dibangun melalui prestasi akademik, karya seni, riset, dan kolaborasi, tetapi juga melalui kualitas layanan publik yang profesional dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Dengan tata kelola layanan yang semakin kuat, ISI Yogyakarta terus memantapkan perannya sebagai pusat pendidikan seni unggulan yang terbuka, responsif, dan berdampak bagi masyarakat.






