Yogyakarta, 23 Juni 2026 — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta melalui Fakultas Seni Rupa dan Desain menyelenggarakan The 10th Art, Craft, and Design in Southeast Asia (ARCADESA) International Symposium 2026 pada 23–24 Juni 2026 di Gedung Ajiyasa, Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta. Mengangkat tema “Art Diplomacy: Creative Collaboration for Global Humanity”, simposium internasional ini menjadi ruang pertemuan akademik dan kreatif bagi akademisi, seniman, desainer, peneliti, praktisi, serta mahasiswa dari berbagai negara.
Penyelenggaraan ARCADESA 2026 mempertegas komitmen ISI Yogyakarta dalam membangun jejaring seni, kriya, dan desain di tingkat internasional. Memasuki edisi ke-10, ARCADESA terus berkembang sebagai forum akademik yang mempertemukan gagasan, riset, praktik artistik, dan inisiatif kolaboratif lintas negara, khususnya dalam konteks Asia Tenggara dan jejaring global.
Tema diplomasi seni yang diangkat pada ARCADESA 2026 menjadi respons terhadap dinamika dunia kontemporer yang semakin terhubung, namun juga menghadapi tantangan kompleks, mulai dari polarisasi sosial, ketegangan geopolitik, disrupsi teknologi, hingga kebutuhan akan pendekatan kemanusiaan yang lebih inklusif. Melalui forum ini, seni, kriya, dan desain ditempatkan tidak hanya sebagai praktik estetik, tetapi juga sebagai medium diplomasi budaya yang mampu membangun dialog, memperkuat empati, dan menjembatani perbedaan antarbangsa.
Ketua Panitia ARCADESA 2026, Dr. I Gede Arya Sucitra, S.Sn., M.A., menyampaikan bahwa simposium ini merupakan momentum penting untuk memperluas pertukaran pengetahuan dan kerja sama internasional di bidang seni, kriya, dan desain. Menurutnya, ARCADESA 2026 diharapkan dapat menjadi ruang yang mempertemukan berbagai perspektif kreatif untuk membangun masa depan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
“Melalui kolaborasi kreatif dan pertukaran pengetahuan lintas budaya, ARCADESA 2026 diharapkan menjadi ruang yang mempertemukan berbagai perspektif untuk membangun masa depan yang lebih inklusif, empatik, dan berkelanjutan,” ujar Dr. I Gede Arya Sucitra.

Ia menambahkan, penyelenggaraan edisi ke-10 ARCADESA menjadi penanda penting atas konsistensi ISI Yogyakarta dalam menghadirkan forum akademik internasional yang relevan dengan perkembangan seni dan kebudayaan global. ARCADESA, menurutnya, tidak hanya berperan sebagai ruang presentasi ilmiah, tetapi juga sebagai wadah pembentukan jejaring, pertukaran gagasan, dan penguatan kerja sama antarinstitusi.
“Edisi ke-10 ini menandai komitmen berkelanjutan ISI Yogyakarta dalam menghadirkan platform pertukaran akademik, dialog kreatif, dan kolaborasi internasional. ARCADESA tidak hanya menjadi forum presentasi ilmiah, tetapi juga ruang untuk membangun jejaring, memperluas kerja sama, dan memperkuat kontribusi seni bagi masyarakat global,” jelasnya.
ARCADESA 2026 diselenggarakan dalam format hibrida, yaitu secara luring di Gedung Ajiyasa ISI Yogyakarta dan secara daring melalui Zoom Meeting. Format ini membuka akses partisipasi yang lebih luas bagi peserta internasional. Dalam penyelenggaraannya, forum ini juga diikuti sekitar 50 presenter daring dari Malaysia, yang menunjukkan kuatnya relasi akademik dan semangat kolaborasi di kawasan Asia Tenggara.
Simposium internasional ini menghadirkan sejumlah pembicara kunci dari institusi bereputasi, yaitu Assoc. Prof. Ts. Dr. Azhar Abd Jamil dari Universiti Teknologi MARA (UiTM), Shah Alam, Malaysia; Assoc. Prof. Vichaya Mukdamanee, Ph.D. dari Silpakorn University, Thailand; Dr. Cissie Fu dari LASALLE College of the Arts, University of the Arts Singapore; Michael Höpfner dari Academy of Fine Arts Vienna, Austria; Prof. Dr. Mohd Fauzi bin Sedon dari Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Malaysia; serta Muhammad Sholahuddin, S.Sn., M.T. dari Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta.
Kehadiran para pembicara dari Malaysia, Thailand, Singapura, Austria, dan Indonesia menunjukkan kapasitas ISI Yogyakarta dalam mengembangkan ekosistem akademik seni yang terbuka, dialogis, dan berorientasi internasional. Melalui ARCADESA 2026, ISI Yogyakarta tidak hanya berperan sebagai tuan rumah, tetapi juga sebagai simpul penting dalam pengembangan pengetahuan seni, riset kreatif, dan diplomasi budaya.
Sejumlah isu strategis menjadi fokus pembahasan dalam ARCADESA 2026, antara lain diplomasi budaya melalui seni dan desain, pemanfaatan kecerdasan artifisial dalam praktik seni dan desain, kolaborasi kreatif lintas budaya, perilaku manusia dan dampak sosial seni, inovasi kriya berbasis warisan budaya, komunikasi visual dan diplomasi naratif, serta pendidikan seni dalam konteks pertukaran kreatif global.

Selain sesi pembicara utama, panel diskusi, dan presentasi paralel, ARCADESA 2026 juga menghadirkan berbagai program kreatif pendukung. Program tersebut meliputi lokakarya pengembangan buku komik, penciptaan konsep batik, kuliah Wayang Beber, kegiatan melukis, tur galeri, tur kampus, serta sesi jejaring profesional. Rangkaian kegiatan ini memperluas fungsi ARCADESA sebagai ruang akademik sekaligus laboratorium kreatif yang mempertemukan pengetahuan, keterampilan, praktik artistik, dan kolaborasi lintas budaya.
Dr. I Gede Arya Sucitra menyampaikan apresiasi kepada jajaran Rektorat ISI Yogyakarta, Fakultas Seni Rupa dan Desain, mitra institusi, panitia, reviewer, moderator, relawan, serta seluruh pihak yang mendukung penyelenggaraan ARCADESA 2026. Ia menilai, partisipasi dari berbagai negara menjadi bukti bahwa seni, kriya, dan desain memiliki daya hubung yang kuat dalam membangun diplomasi budaya dan kerja sama global.
“Partisipasi dari berbagai negara menunjukkan bahwa seni, kriya, dan desain memiliki daya hubung yang kuat dalam membangun diplomasi budaya dan kerja sama global. Melalui ARCADESA 2026, kami berharap kemitraan yang telah terbangun dapat semakin kuat, sekaligus membuka peluang baru untuk riset kolaboratif, publikasi akademik, pertukaran artistik, dan jejaring berkelanjutan,” ujarnya.
Penyelenggaraan ARCADESA 2026 juga diarahkan untuk menghasilkan luaran akademik dan kolaboratif yang berdampak. Luaran tersebut mencakup prosiding konferensi internasional, publikasi pada jurnal bereputasi, dokumentasi hasil lokakarya, serta penguatan kemitraan antara institusi pendidikan tinggi, komunitas kreatif, dan mitra internasional. Salah satu rencana publikasi yang disiapkan adalah penerbitan naskah terpilih pada Environment Behaviour Proceedings Journal (E-BPJ) Special Issue yang dijadwalkan terbit pada September 2026.
Melalui ARCADESA 2026, ISI Yogyakarta kembali menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi seni yang aktif menghubungkan pendidikan, riset, penciptaan karya, dan kerja sama internasional. Forum ini menjadi bagian dari upaya ISI Yogyakarta untuk menjadikan seni, kriya, dan desain sebagai kekuatan transformatif yang berkontribusi bagi kemanusiaan, keberlanjutan, dan dialog antarbangsa.
Sebagai edisi ke-10, ARCADESA 2026 menjadi penanda konsistensi ISI Yogyakarta dalam menghadirkan forum akademik internasional yang relevan dengan perkembangan zaman. Di tengah perubahan sosial, budaya, dan teknologi global, ISI Yogyakarta terus memperkuat posisinya sebagai pusat unggulan pendidikan seni yang mampu mempertemukan tradisi, inovasi, dan kolaborasi global.
Dengan terselenggaranya ARCADESA International Symposium 2026, ISI Yogyakarta menunjukkan bahwa perguruan tinggi seni memiliki peran strategis dalam memperluas diplomasi budaya, membangun kerja sama internasional, dan menghadirkan perspektif kemanusiaan melalui kekuatan seni dan kreativitas.






