YOGYAKARTA — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menyelenggarakan Lokakarya Seni bertajuk “Teknologi dan Pasca-Humanisme” pada 22 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari program aktivasi Pameran Dies Natalis ke-42 ISI Yogyakarta yang berlangsung pada 20–26 Juni 2026.
Lokakarya tersebut dihadirkan sebagai ruang pembelajaran, praktik artistik, dan refleksi kritis mengenai perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam kaitannya dengan seni, arsip sejarah, memori, dan kemanusiaan. Melalui kegiatan ini, ISI Yogyakarta mengajak mahasiswa, seniman, dan masyarakat umum untuk melihat teknologi tidak hanya sebagai perangkat produksi visual, tetapi juga sebagai medan wacana yang memengaruhi cara manusia memahami identitas, ingatan, dan sejarah.
Mengangkat pendekatan pasca-humanisme, lokakarya ini membahas ulang posisi manusia di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin cepat dan kompleks. Peserta diajak menelaah hubungan antara manusia, mesin, memori, dan representasi visual yang kini semakin banyak dipengaruhi oleh sistem algoritmik.
Ketua Panitia Dies Natalis ke-42 ISI Yogyakarta menyampaikan bahwa lokakarya ini merupakan bagian dari komitmen kampus dalam menghadirkan ruang dialog yang relevan dengan perubahan zaman. Menurutnya, seni memiliki peran penting untuk membaca perkembangan sosial dan teknologi secara kritis, kreatif, sekaligus reflektif.
“Melalui lokakarya ini, peserta tidak hanya diperkenalkan pada teknologi AI sebagai alat produksi visual, tetapi juga diajak memahami berbagai implikasi etis, historis, dan kemanusiaan yang menyertainya. Seni menjadi medium untuk mempertanyakan sekaligus merespons perubahan yang terjadi di era digital,” ujarnya.


Kegiatan ini menghadirkan seniman dan peneliti visual Rangga Purbaya sebagai narasumber utama. Dalam sesi praktik, peserta menggunakan arsip sejarah Indonesia sebagai material eksplorasi visual dengan bantuan platform AI Artbreeder. Proses tersebut membuka ruang bagi peserta untuk memahami bagaimana citra berbasis kecerdasan buatan dapat dibentuk, dimodifikasi, sekaligus dikritisi dalam konteks seni kontemporer.
Rangga Purbaya dikenal sebagai seniman yang banyak mengangkat isu sejarah, memori, dan identitas melalui berbagai medium, antara lain fotografi, video, instalasi, dan seni performans. Pengalaman artistiknya dalam menelusuri arsip serta peristiwa sosial-politik menjadi pijakan penting dalam membimbing peserta untuk melihat teknologi bukan semata-mata sebagai instrumen teknis, melainkan sebagai ruang negosiasi makna dan pengalaman manusia.
Materi lokakarya disusun melalui kombinasi praktik, diskusi, dan refleksi bersama. Peserta diperkenalkan pada konsep pasca-humanisme, pemanfaatan arsip sejarah sebagai sumber penciptaan artistik, penggunaan AI Artbreeder dalam proses visual, serta pembacaan kritis terhadap etika penggunaan kecerdasan buatan dalam produksi karya seni.
Melalui pendekatan tersebut, peserta didorong untuk menghasilkan eksperimen artistik yang tidak hanya menonjol secara teknis, tetapi juga memiliki kesadaran terhadap konteks sosial, budaya, dan sejarah. Lokakarya ini juga menjadi ruang untuk memahami bagaimana teknologi dapat memengaruhi pembentukan narasi visual, termasuk dalam membaca kembali arsip dan memori kolektif.

Antusiasme peserta menunjukkan meningkatnya perhatian generasi muda terhadap pemanfaatan teknologi dalam praktik seni. Mereka memperoleh pengalaman langsung dalam menggabungkan metode artistik, riset sejarah, dan teknologi digital untuk menghadirkan perspektif baru mengenai hubungan manusia dan mesin.
Bagi ISI Yogyakarta, penyelenggaraan lokakarya ini menjadi bagian dari upaya memperkuat peran perguruan tinggi seni sebagai ruang produksi pengetahuan yang responsif terhadap perkembangan teknologi, namun tetap kritis terhadap dampaknya bagi kehidupan manusia. Seni ditempatkan bukan hanya sebagai produk estetik, tetapi juga sebagai sarana refleksi, pembacaan zaman, dan pembentukan kesadaran publik.
Melalui Lokakarya “Teknologi dan Pasca-Humanisme”, ISI Yogyakarta menegaskan posisinya sebagai institusi pendidikan seni yang aktif mendorong dialog lintas disiplin antara seni, teknologi, sejarah, dan kemanusiaan. Kegiatan ini sekaligus memperkaya rangkaian Dies Natalis ke-42 ISI Yogyakarta sebagai momentum untuk merayakan kreativitas, pemikiran kritis, dan kontribusi seni dalam membaca masa depan.





