Yogyakarta, 13 Juni 2026 — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta bersama Project Eleven menyelenggarakan Asia Pacific Art Forum (APAF) 2026 bertema “Artistic Intelligence” sebagai ruang pertemuan akademik, artistik, dan jejaring internasional seni kontemporer di kawasan Asia-Pasifik. Forum ini menegaskan peran ISI Yogyakarta sebagai perguruan tinggi seni yang tidak hanya berfokus pada pendidikan dan penciptaan karya, tetapi juga menjadi pusat produksi pengetahuan, riset artistik, diplomasi budaya, dan kolaborasi lintas negara.
APAF 2026 merupakan penyelenggaraan tahun kedua setelah forum ini diinisiasi pada 2025 sebagai kerja sama antara ISI Yogyakarta dan Project Eleven. Pada edisi perdana, APAF 2025 mengangkat tema “Pedagogy and Practice” dan mempertemukan perwakilan institusi seni Indonesia serta internasional untuk membahas pendidikan seni kontemporer dan riset berbasis praktik. Tahun ini, APAF memperluas cakupan gagasan melalui tema “Artistic Intelligence” atau Kecerdasan Artistik, sebuah kerangka pemikiran yang menempatkan praktik seni sebagai bentuk pengetahuan yang berakar pada pengalaman, intuisi, tubuh, memori, relasi sosial, dan konteks budaya.
Penyelenggaraan APAF 2026 juga menjadi bagian penting dari penguatan agenda internasional ISI Yogyakarta dalam rangka Dies Natalis ke-42. ISI Yogyakarta sebelumnya menegaskan bahwa kerja sama dengan Project Eleven diarahkan untuk memperkuat agenda global kampus, termasuk melalui residensi Australian Art Orchestra dan simposium internasional Project Eleven atau APAF yang dijadwalkan berlangsung pada Juni 2026.
Melalui forum ini, ISI Yogyakarta mempertemukan tiga fakultas utama, yaitu Fakultas Seni Rupa dan Desain, Fakultas Seni Pertunjukan, dan Fakultas Seni Media Rekam, dalam satu ekosistem kegiatan yang mencakup pameran, seminar panel, residensi, lokakarya, pertunjukan, masterclass, serta pertemuan jejaring seni Indonesia–Australia. Keterlibatan lintas fakultas tersebut menunjukkan kapasitas ISI Yogyakarta sebagai kampus seni yang mampu menghubungkan tradisi, teknologi, riset, praktik artistik, dan jejaring global secara terpadu.
Tema “Artistic Intelligence” menjadi relevan di tengah perkembangan kecerdasan buatan dan teknologi komputasional yang semakin memengaruhi cara manusia mencipta, membaca, dan mendistribusikan karya seni. Dalam dokumen konsep APAF 2026, kecerdasan artistik diposisikan melampaui kreativitas semata. Ia mencakup pengetahuan tacit, improvisasi, penalaran spasial dan sonik, transmisi ritual, serta imajinasi etis. Jika kecerdasan mesin memproses data, kecerdasan artistik memproses pengalaman dan mengubah memori, material, serta konteks sosial menjadi bentuk estetik dan simbolik.
Rektor ISI Yogyakarta, Dr. Irwandi, M.Sn., dalam konteks Dies Natalis ke-42 sebelumnya menekankan bahwa kemajuan teknologi, termasuk artificial intelligence, perlu selalu dibaca melalui perspektif etika, rasa, pengalaman manusia, dan nilai kebudayaan. Sikap tersebut sejalan dengan posisi APAF 2026 yang menempatkan seni sebagai kekuatan reflektif dan kritis dalam membaca masa depan peradaban.
Rangkaian APAF 2026 diawali dengan sejumlah agenda pra-simposium, termasuk Australian Art Orchestra Resident Ensemble & Smoke Between Mountains presentation pada 14–19 Juni 2026 di Teater Arena Fakultas Seni Pertunjukan, lokakarya Chamber Made, networking session bersama Australia Indonesia Art Forum di Jogja National Museum, serta penampilan Monica Lim dan Patrick Hartono dalam rangkaian ARTJOG. Australian Art Orchestra juga dijadwalkan tampil di Galeri R.J. Katamsi ISI Yogyakarta pada 20 Juni 2026 dan di Jogja National Museum pada 21 Juni 2026.
Kehadiran Australian Art Orchestra memperkuat dimensi internasional forum ini. Australian Art Orchestra, yang didirikan oleh Paul Grabowsky AO pada 1994 dan kini dipimpin Aaron Choulai, dikenal sebagai salah satu ensemble kontemporer terkemuka Australia yang mengeksplorasi improvisasi, komposisi, tradisi, avant-garde, musik elektronik, dan pendekatan lintas budaya.
Pada Fakultas Seni Rupa dan Desain, agenda utama berlangsung pada 22 Juni 2026 di Gedung Sasana Ajiyasa ISI Yogyakarta. Kegiatan ini mencakup pembukaan resmi oleh Rektor ISI Yogyakarta, keynote oleh Prof. Marie Sierra, serta seminar panel yang menghadirkan Dr. Elly Kent, Dr. Alexandra Roginski, Sarah Louise Clayton, dan perwakilan dosen ISI Yogyakarta. Forum ini juga dilengkapi lokakarya bertema “If Artworks Could Speak: Critique in Art and Cultural Discourse” bersama Suwarno Wisetrotomo dan “Ecological Practice and Cultural Context” bersama Rahmat Dongaji.
Di Fakultas Seni Pertunjukan, simposium berlanjut pada 23 Juni 2026 dengan seminar panel yang menghadirkan Patrick Hartono, Sri Hanuraga, Aaron Choulai, Miyama McQueen-Tokita, dan perwakilan dosen ISI Yogyakarta. Agenda ini memperkuat pembacaan seni pertunjukan sebagai ruang eksperimentasi antara tradisi, teknologi, musik kontemporer, praktik lintas budaya, dan pengetahuan performatif. Lokakarya yang digelar mencakup “Traditional Music in the Technological Era” bersama Presiden Tidore dan “Performative Tradition: Re-reading Cultural Ritual as Contemporary Art” bersama Abdi Karya.
Sementara itu, Fakultas Seni Media Rekam menjadi tuan rumah simposium hari ketiga pada 24 Juni 2026 di Gedung Audio Visual FSMR ISI Yogyakarta. Seminar panel menghadirkan Ferdiansyah, Silviana Amanda Aurelia Tahalea, Dr. Haisang Javanalikhikara dari Chulalongkorn University, Fassih Keiso, serta dosen FSMR ISI Yogyakarta. Program ini dilengkapi lokakarya “Writing and Developing Artistic Concepts in Art and Culture” bersama Safir Maki dan “Visual Recording as an Ethnographic Medium in Indonesian Culture” bersama Wahyudin. Rangkaian simposium ditutup dengan keynote oleh Empu Ageng Oscar Motuloh melalui tema “Mata Waktu”.
Selain simposium, APAF 2026 juga menghadirkan pameran “Ways of Seeing” di Galeri R.J. Katamsi ISI Yogyakarta pada 20–27 Juni 2026. Pameran ini melibatkan Fakultas Seni Media Rekam di lantai pertama, Fakultas Seni Rupa dan Desain di lantai kedua, serta pameran tunggal Fassih Keiso di lantai ketiga. Kehadiran pameran ini memperluas forum dari ruang diskusi akademik menuju pengalaman visual, kuratorial, dan artistik yang dapat diakses publik.
Keterlibatan Project Eleven dalam APAF 2026 memperkuat hubungan ISI Yogyakarta dengan jejaring seni kontemporer Australia. Project Eleven merupakan inisiatif yang didirikan keluarga Kabo pada 2016 untuk mendukung seniman dan proyek yang mendorong gagasan baru, produksi karya, pembukaan pasar, serta kolaborasi lintas budaya dalam seni kontemporer.
APAF 2026 juga didukung Pemerintah Indonesia melalui Dana Indonesiana. Dana Indonesiana merupakan program fasilitasi dana hibah kebudayaan yang diberikan kepada kelompok kebudayaan atau perseorangan dan dikelola untuk mendukung pemajuan kebudayaan nasional. Dukungan ini menunjukkan bahwa forum seni bertaraf internasional di lingkungan ISI Yogyakarta berada dalam arus besar penguatan ekosistem kebudayaan Indonesia.
Melalui APAF 2026, ISI Yogyakarta menegaskan posisi strategisnya sebagai perguruan tinggi seni yang mampu mempertemukan pendidikan, riset, penciptaan, kurasi, teknologi, tradisi, dan diplomasi budaya. Forum ini tidak hanya memperluas jejaring akademik dan artistik ISI Yogyakarta di kawasan Asia-Pasifik, tetapi juga memperlihatkan bahwa kampus seni memiliki peran penting dalam merumuskan pemahaman baru tentang kecerdasan di era artifisial.
Dengan mengangkat Kecerdasan Artistik, ISI Yogyakarta menunjukkan bahwa seni tetap menjadi ruang penting untuk membaca kompleksitas manusia, merawat kebudayaan, dan membangun masa depan yang lebih peka terhadap nilai kemanusiaan. APAF 2026 menjadi penanda bahwa ISI Yogyakarta terus bergerak sebagai pusat unggulan seni Indonesia yang relevan dalam percakapan global, sekaligus menjadi simpul penting bagi pertemuan seniman, akademisi, kurator, peneliti, mahasiswa, dan komunitas seni lintas negara.






