Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Mengangkat Tradisi ke Panggung Simfoni, ISI Yogyakarta Hadirkan Inovasi Seni Berbasis Budaya Nusantara

Mengangkat Tradisi ke Panggung Simfoni, ISI Yogyakarta Hadirkan Inovasi Seni Berbasis Budaya Nusantara

Yogyakarta, 27 Oktober 2026 — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali menunjukkan peran strategisnya sebagai perguruan tinggi seni dalam mengembangkan inovasi artistik yang berakar pada kekayaan budaya Nusantara. Melalui Program Inovasi Seni Nusantara 2026, Eki Satria, S.Sn., M.Sn., dosen Program Studi Musik, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, berkolaborasi dengan Pondok Pesantren Budaya Kaliopak menghadirkan pertunjukan bertajuk Simfoni Slawat Prabu Mataram. Pergelaran yang mempertemukan tradisi selawat Jawa dengan musik orkestra dan eksplorasi musikal kontemporer ini akan berlangsung pada Jumat, 30 Oktober 2026, pukul 18.00–21.00 WIB, di Auditorium Lantai 2 Grha Budaya, Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta.

Pertunjukan ini menjadi salah satu wujud kontribusi ISI Yogyakarta dalam menghadirkan inovasi seni yang tidak hanya berorientasi pada penciptaan karya, tetapi juga pada pelestarian, pengembangan, dan aktualisasi nilai-nilai budaya dalam kehidupan masyarakat. Melalui pendekatan musikal lintas tradisi, Simfoni Slawat Prabu Mataram menawarkan pengalaman artistik yang menghubungkan kekayaan spiritual Islam Jawa dengan estetika musik simfoni modern.

Mengangkat tradisi Sholawat Emprak yang tumbuh dan berkembang dalam kebudayaan Islam Jawa, karya ini menjadikan keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai sumber inspirasi artistik sekaligus refleksi atas berbagai persoalan kehidupan kontemporer. Nilai-nilai kebijaksanaan, keadilan, kemanusiaan, dan kehidupan yang beradab diterjemahkan melalui bahasa musik sebagai medium komunikasi budaya yang dapat menjangkau masyarakat lintas generasi.

Dalam pergelaran tersebut, Eki Satria bertindak sebagai konduktor yang memimpin kolaborasi musikal antara Slawat Emprak Kaliopak, Surawira Symphony Orchestra, dan Paduan Suara Laraswara. Pertunjukan juga menghadirkan pianis Gardika Gigih dan violinis Meulied Nahla, yang memperkaya eksplorasi musikal melalui perpaduan karakter musik tradisional dan instrumen orkestra. Selain pertunjukan musik, KH. M. Jadul Maula dijadwalkan menyampaikan pidato kebudayaan yang memperkuat dimensi pemikiran, spiritualitas, dan refleksi sosial dalam keseluruhan rangkaian acara.

Kolaborasi ini memperlihatkan bagaimana tradisi lokal dapat dikembangkan melalui pendekatan penciptaan seni yang inovatif tanpa kehilangan akar identitas budayanya. Pertemuan antara ekspresi musikal tradisional, komposisi orkestra, dan gagasan kebudayaan menjadi ruang dialog kreatif yang memperkaya praktik seni pertunjukan Indonesia. Pendekatan tersebut sekaligus memperlihatkan potensi seni sebagai sarana untuk mempertemukan pengetahuan akademik, kreativitas seniman, dan pengalaman budaya masyarakat.

Keterlibatan dosen ISI Yogyakarta dalam pengembangan karya ini semakin mempertegas peran perguruan tinggi sebagai pusat penciptaan dan pengembangan pengetahuan seni yang memiliki relevansi langsung dengan kehidupan masyarakat. Inovasi yang dihadirkan tidak semata-mata berupa penggabungan bentuk musikal yang berbeda, tetapi juga upaya menghadirkan kembali warisan budaya dalam format pertunjukan yang komunikatif, kontekstual, dan terbuka terhadap perkembangan zaman.

Simfoni Slawat Prabu Mataram juga menjadi bagian dari rangkaian puncak peringatan Dua Windu Pondok Pesantren Budaya Kaliopak. Momentum ini memperlihatkan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi seni dan komunitas budaya dalam menjaga kesinambungan tradisi sekaligus membuka ruang penciptaan karya-karya baru. Kolaborasi semacam ini menjadi bagian penting dari penguatan ekosistem seni yang menghubungkan dunia akademik, pelaku seni, lembaga kebudayaan, dan masyarakat.

Bagi ISI Yogyakarta, keterlibatan dalam program tersebut sekaligus mencerminkan komitmen institusi untuk terus mengembangkan praktik pendidikan seni yang berdampak. Kompetensi akademik dan artistik dosen tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan pembelajaran, tetapi juga melalui penciptaan karya yang memperluas apresiasi publik, memperkuat identitas budaya, dan memberikan kontribusi bagi perkembangan seni pertunjukan nasional.

Melalui Simfoni Slawat Prabu Mataram, ISI Yogyakarta semakin mengukuhkan posisinya sebagai perguruan tinggi seni yang berperan aktif dalam mempertemukan tradisi dan modernitas. Kehadiran karya ini diharapkan dapat membuka perspektif baru mengenai pengembangan musik berbasis warisan budaya Nusantara sekaligus memperkuat posisi seni Indonesia sebagai sumber inspirasi, pengetahuan, dan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan kontemporer.

Pertunjukan ini terbuka untuk masyarakat umum tanpa dipungut biaya, dengan ketentuan reservasi melalui platform Yesplis. Pendaftaran telah dibuka sejak Jumat, 23 Oktober 2026, pukul 09.00 WIB, dengan ketentuan satu akun email hanya dapat memesan satu tiket. Penonton yang telah memperoleh e-tiket wajib menunjukkannya saat memasuki lokasi pertunjukan. Informasi dan pemeriksaan ketersediaan tiket dapat diakses melalui https://www.yesplis.com/event/simfonislawat.

Cari
Kategori

Bagikan postingan ini

Tinggalkan Balasan