Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

ISI Yogyakarta Dorong Transformasi Kampus Seni yang Inklusif melalui Seminar Akademik “Estetika Tanpa Sekat”

ISI Yogyakarta Dorong Transformasi Kampus Seni yang Inklusif melalui Seminar Akademik “Estetika Tanpa Sekat”

Yogyakarta, 27 Oktober 2026 — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta terus memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi seni yang berkomitmen terhadap pengembangan keilmuan, kebebasan berekspresi, dan inklusivitas sosial. Melalui Fakultas Seni Pertunjukan (FSP), ISI Yogyakarta akan menyelenggarakan Seminar Akademik bertajuk “Estetika Tanpa Sekat: Seni, Akses, Aksesibilitas, dan Inklusi Sosial” pada Kamis, 5 November 2026, pukul 08.00–13.00 WIB, bertempat di Concert Hall ISI Yogyakarta.

Seminar ini menjadi forum akademik untuk mengkaji hubungan antara praktik kesenian, kebebasan berekspresi, kesetaraan akses, dan tanggung jawab sosial institusi pendidikan seni. Kegiatan tersebut sekaligus mencerminkan upaya ISI Yogyakarta dalam memperluas kontribusi pendidikan tinggi seni, tidak hanya melalui penciptaan karya dan pengembangan estetika, tetapi juga melalui penguatan nilai-nilai kemanusiaan, keberagaman, dan keadilan sosial.

Menghadirkan perspektif multidisiplin, seminar ini akan menghadirkan tiga narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi, yakni Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., dosen Universitas Gadjah Mada; Indiah Wahyu Andari, S.Psi., Direktur Rifka Annisa Women’s Crisis Center; serta Dr. Lephen Purwanto, S.Sn., M.Sn., M.Sc., dosen ISI Yogyakarta. Kehadiran ketiga narasumber diharapkan dapat memperkaya diskusi mengenai keterkaitan antara seni, kajian sosial, perlindungan kelompok rentan, dan pengembangan lingkungan akademik yang inklusif.

Melalui seminar ini, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta mengajak sivitas akademika untuk meninjau kembali makna kebebasan dalam praktik kesenian. Kebebasan artistik tidak hanya dipahami sebagai keleluasaan dalam menciptakan dan mengekspresikan gagasan, tetapi juga berkaitan dengan kesempatan yang setara bagi setiap individu untuk mengakses, menikmati, mempelajari, serta berpartisipasi dalam kehidupan seni dan budaya.

Pembahasan mengenai aksesibilitas dan inklusi sosial menjadi semakin penting seiring berkembangnya kesadaran bahwa pendidikan seni perlu menghadirkan ruang yang terbuka bagi keberagaman latar belakang, pengalaman, identitas, dan kemampuan individu. Dalam konteks tersebut, institusi pendidikan tinggi seni memiliki tanggung jawab untuk mendorong terciptanya ekosistem akademik dan artistik yang aman, partisipatif, serta menghargai martabat setiap manusia.

Penyelenggaraan seminar akademik ini juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dan lintas institusi dalam menjawab tantangan sosial kontemporer. Pertemuan perspektif seni, kajian akademik, dan pengalaman advokasi sosial diharapkan mampu menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bagaimana praktik kesenian dapat berkontribusi terhadap penguatan kesetaraan dan inklusi di masyarakat.

Bagi ISI Yogyakarta, pengembangan wacana seni yang inklusif merupakan bagian penting dari upaya memperkuat relevansi pendidikan tinggi seni di tengah perubahan sosial. Perguruan tinggi seni tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan dan penciptaan karya artistik, tetapi juga sebagai ruang produksi pengetahuan, dialog kritis, dan pengembangan gagasan yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Seminar ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat budaya akademik yang kritis, terbuka, dan kolaboratif di lingkungan ISI Yogyakarta. Melalui keterlibatan dosen dan mahasiswa dalam diskusi ilmiah, kegiatan ini juga membuka peluang pengembangan pendekatan pembelajaran serta praktik artistik yang semakin memperhatikan prinsip aksesibilitas dan keberagaman.

Lebih jauh, penyelenggaraan kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat positioning ISI Yogyakarta sebagai perguruan tinggi seni yang responsif terhadap isu-isu strategis, khususnya dalam menghubungkan pengembangan ilmu pengetahuan dan praktik kesenian dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, seni ditempatkan bukan semata-mata sebagai produk estetika, melainkan juga sebagai medium refleksi, komunikasi, dan transformasi sosial.

Seminar Akademik “Estetika Tanpa Sekat” terbuka bagi dosen dan mahasiswa dengan kapasitas peserta terbatas sebanyak 200 orang. Peserta akan memperoleh sejumlah fasilitas berupa sertifikat elektronik, materi pembelajaran eksklusif, seminar kit, serta kesempatan memperluas jejaring akademik dan profesional.

Pendaftaran dapat dilakukan melalui tautan https://forms.gle/p5eiuqWPmLXnNQF68 atau dengan memindai kode QR pada poster kegiatan. Informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui narahubung Alifia di nomor 0838-2714-8283.

Melalui penyelenggaraan seminar ini, ISI Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan pendidikan tinggi seni yang unggul secara akademik, progresif dalam pemikiran, serta berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan dan inklusi sosial. Komitmen tersebut menjadi fondasi penting dalam memperkuat peran ISI Yogyakarta sebagai pusat pengembangan seni dan budaya yang relevan, berdaya saing, dan berdampak bagi masyarakat.

Cari
Kategori

Bagikan postingan ini

Tinggalkan Balasan