Yogyakarta, 11 Juni 2026 — Film dokumenter pendek “DJUM” karya mahasiswa Program Studi S-1 Film dan Televisi, Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, berhasil meraih penghargaan “Best Production with Strong Social Message and Humanitarian Contribution Award” pada Golden FEMI Film Festival 2026 di Sofia, Bulgaria.
Penghargaan ini menjadi capaian membanggakan bagi ISI Yogyakarta karena karya yang lahir dari proses pembelajaran akademik mampu bersaing di tingkat internasional. Pada Golden FEMI Film Festival 2026, “DJUM” menjadi salah satu karya yang mendapat pengakuan di antara lebih dari 9.600 film dari 130 negara.
Film berdurasi 18 menit 46 detik ini disutradarai oleh Ahmad Brilian Maulana Vitjayanto dan diproduksi oleh Selat Sunda Creative. “DJUM” mengangkat kisah Jumadi, seorang pengepul sampah berusia 69 tahun yang telah mengabdikan hidupnya selama lebih dari empat dekade untuk keluarga. Melalui kehidupan Jumadi, film ini menghadirkan potret tentang cinta, pengorbanan, kerja keras, dan keteguhan seorang ayah dalam menghadapi berbagai ujian hidup.
Kekuatan utama “DJUM” terletak pada kemampuannya mengolah cerita sederhana menjadi pesan kemanusiaan yang kuat. Film ini tidak hanya merekam realitas sosial, tetapi juga menghadirkan nilai empati, keberpihakan, dan refleksi tentang martabat manusia. Atas kekuatan pesan tersebut, “DJUM” dinilai layak menerima penghargaan yang menekankan aspek kontribusi sosial dan kemanusiaan dalam produksi film.



Pada malam penganugerahan di Sofia, Bulgaria, penghargaan untuk “DJUM” diterima secara simbolis oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Sofia yang mewakili para sineas Indonesia. Kehadiran KBRI Sofia menjadi bentuk dukungan diplomasi budaya Indonesia melalui medium film, sekaligus memperkuat peran karya seni sebagai jembatan persahabatan antarbangsa.
Prestasi ini menambah daftar pencapaian internasional “DJUM”. Sebelumnya, film tersebut telah menjadi Finalis Festival Film Dokumenter 2025, semifinalis Tianjin International Academic Film Festival di Tiongkok, serta terpilih dalam sejumlah festival film internasional lainnya.
Keberhasilan “DJUM” menunjukkan bahwa lingkungan akademik ISI Yogyakarta mampu melahirkan karya seni yang tidak hanya kuat secara artistik, tetapi juga relevan secara sosial dan berdaya saing global. Capaian ini sekaligus meneguhkan posisi ISI Yogyakarta sebagai perguruan tinggi seni yang konsisten mendorong mahasiswa untuk menghasilkan karya kreatif, kritis, dan berkontribusi bagi masyarakat.
Melalui prestasi ini, ISI Yogyakarta terus memperkuat reputasinya sebagai ruang pendidikan seni yang membuka peluang bagi mahasiswa untuk berproses, bereksperimen, dan membawa cerita lokal Indonesia ke panggung dunia. Penghargaan “DJUM” menjadi bukti bahwa karya yang berangkat dari pengalaman sosial masyarakat dapat memiliki daya ungkap universal dan diapresiasi oleh publik internasional.
Selamat kepada Ahmad Brilian Maulana Vitjayanto dan seluruh kru produksi “DJUM” atas capaian membanggakan ini. Semoga prestasi tersebut menjadi inspirasi bagi mahasiswa ISI Yogyakarta untuk terus berkarya, menjaga kepekaan sosial, dan mengharumkan nama Indonesia melalui seni.








