Yogyakarta, 1 Mei 2026 – Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi seni yang tidak hanya berfokus pada pengembangan praktik artistik, tetapi juga menjadi pusat inovasi berbasis riset yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Melalui Program Bestari Saintek yang didukung pendanaan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dosen ISI Yogyakarta, Dr. Citra Aryandari, mengembangkan riset bertajuk “Living Lab Sonic Heritage: Preservasi Instrumen Tradisional Indonesia Berbasis Sampling untuk Keberlanjutan Budaya dan Ekologi.”
Riset tersebut hadir sebagai respons terhadap berbagai tantangan yang dihadapi warisan musik tradisional Indonesia, mulai dari hilangnya pengetahuan para maestro, minimnya dokumentasi digital berkualitas arsip, terbatasnya akses generasi muda terhadap instrumen tradisional, hingga meningkatnya tekanan terhadap lingkungan akibat penggunaan bahan baku kayu untuk produksi instrumen musik.
Melalui pendekatan inovatif berbasis teknologi sampling digital, ISI Yogyakarta berupaya menghadirkan model preservasi baru yang mampu menjaga karakter bunyi instrumen tradisional Indonesia sekaligus memperluas akses pemanfaatannya bagi masyarakat, akademisi, seniman, industri kreatif, dan generasi muda.
Dalam riset ini, tim peneliti mengembangkan konsep Virtual Instrument Library, yaitu perpustakaan instrumen musik tradisional berbasis digital yang merekam dan mengarsipkan suara instrumen dengan kualitas tinggi serta dilengkapi metadata etnomusikologis yang komprehensif. Hasil dokumentasi tersebut memungkinkan karakter bunyi instrumen tradisional tetap dapat dipelajari, diteliti, dan dimanfaatkan tanpa harus selalu bergantung pada instrumen fisik.
Program ini juga melibatkan kolaborasi strategis dengan Yayasan Citra Jejak Bangsa dan PT Musica Publisher Indonesia, sehingga memperkuat sinergi antara dunia akademik, pelaku budaya, dan industri kreatif dalam upaya menjaga keberlanjutan warisan budaya Indonesia.
Sebagai perguruan tinggi seni terkemuka di Indonesia, ISI Yogyakarta memandang bahwa pelestarian budaya tidak lagi cukup dilakukan melalui dokumentasi konvensional. Transformasi digital menjadi kebutuhan mendesak agar pengetahuan dan praktik budaya dapat diwariskan kepada generasi berikutnya secara lebih efektif, inklusif, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Melalui riset Living Lab Sonic Heritage, ISI Yogyakarta mengembangkan model pelestarian yang tidak hanya berorientasi pada aspek budaya, tetapi juga memperhatikan dimensi ekologis. Dengan tersedianya instrumen virtual berkualitas tinggi, kebutuhan eksploitasi bahan baku kayu untuk tujuan pembelajaran, eksperimen, maupun produksi kreatif tertentu dapat dikurangi. Pendekatan ini membuka peluang baru bagi praktik seni yang lebih ramah lingkungan tanpa menghilangkan nilai autentik warisan musikal Nusantara.
Fokus riset yang berada dalam rumpun ekonomi kreatif tersebut juga diharapkan mampu mendorong lahirnya berbagai inovasi turunan, mulai dari pengembangan perangkat lunak musik, produksi konten digital berbasis budaya, industri kreatif berbasis suara tradisional, hingga penguatan ekosistem riset dan pendidikan seni di Indonesia.
Selain menghasilkan Virtual Instrument Library, penelitian ini juga menargetkan luaran berupa arsip audio berkualitas tinggi, metadata etnomusikologi, artikel ilmiah, hak kekayaan intelektual (HKI), serta platform digital yang dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat.
Dampak yang diharapkan dari program ini tidak hanya sebatas pada pelestarian budaya, tetapi juga peningkatan apresiasi generasi muda terhadap kekayaan musik tradisional Indonesia. Kehadiran perpustakaan instrumen virtual yang interaktif dan edukatif diyakini dapat menjadi jembatan antara tradisi dan teknologi, sekaligus memperluas ruang pembelajaran musik Nusantara di era digital.
Keberhasilan ISI Yogyakarta memperoleh dukungan Program Bestari Saintek LPDP menunjukkan semakin kuatnya pengakuan terhadap kapasitas perguruan tinggi seni dalam menghasilkan riset strategis yang menjawab tantangan global. Di tengah transformasi digital dan isu keberlanjutan lingkungan yang semakin mengemuka, ISI Yogyakarta membuktikan bahwa seni, teknologi, budaya, dan sains dapat berjalan beriringan untuk menghasilkan solusi inovatif yang berdampak luas.
Melalui riset ini, ISI Yogyakarta tidak hanya menjaga bunyi dan pengetahuan instrumen tradisional Indonesia agar tetap hidup, tetapi juga membangun fondasi baru bagi masa depan warisan budaya Nusantara yang lebih berkelanjutan, adaptif, dan relevan bagi generasi mendatang. Dengan demikian, ISI Yogyakarta terus memperkuat posisinya sebagai pusat unggulan pendidikan tinggi seni yang berkontribusi nyata terhadap pembangunan budaya, ekonomi kreatif, dan keberlanjutan Indonesia.





