Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Perkuat Pengabdian Seni Budaya di Rasulan Banaran VIII

Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Perkuat Pengabdian Seni Budaya di Rasulan Banaran VIII

Gunungkidul — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta melalui Fakultas Seni Pertunjukan turut memeriahkan kegiatan Rasulan atau Bersih Desa Padukuhan Banaran VIII, Kapanewon Playen, Kabupaten Gunungkidul, Selasa (2/6). Keterlibatan sivitas akademika ISI Yogyakarta dalam kegiatan tersebut menjadi wujud nyata pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat sekaligus ruang diseminasi hasil pembelajaran seni pertunjukan di tengah masyarakat.

Kegiatan ini melibatkan dosen dan mahasiswa lintas program studi di lingkungan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta. Sejumlah program studi yang berpartisipasi antara lain Program Studi Musik, S1 Pendidikan Musik, D4 Penyajian Musik, S1 Penciptaan Musik, Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan, serta Program Studi Etnomusikologi. Kehadiran para dosen dan mahasiswa ISI Yogyakarta mendapat sambutan hangat dari masyarakat yang memadati lokasi kegiatan Rasulan Banaran VIII.

Rasulan merupakan tradisi masyarakat Gunungkidul yang dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur, sekaligus menjadi ruang perjumpaan sosial, budaya, dan seni masyarakat desa. Dalam konteks tersebut, kehadiran ISI Yogyakarta tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga memperkuat hubungan antara kampus seni dan masyarakat melalui pendekatan kebudayaan yang hidup dan dekat dengan keseharian warga.

Penampilan Jur@sik Orkestra ISI Yogyakarta

Rangkaian pertunjukan diawali dengan penampilan solo gitar oleh Dwi Hansen, musisi asal Ngleri. Melalui sajian instrumental yang komunikatif, penampilan tersebut membuka suasana acara dengan nuansa musikal yang akrab bagi masyarakat. Setelah itu, Kustap, S.Sn., M.Sn., dosen Program Studi Musik ISI Yogyakarta, turut menampilkan permainan solo gitar yang memperlihatkan kekayaan ekspresi dan teknik musikal dalam format pertunjukan yang artistik.

Selain sajian musik, kegiatan Rasulan Banaran VIII juga dimeriahkan oleh penampilan Modern Dance dari mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan. Kehadiran tari modern dalam ruang tradisi masyarakat tersebut memperlihatkan bahwa seni pertunjukan dapat hadir secara dinamis, lintas bentuk, dan tetap berpijak pada semangat kebersamaan dengan masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, tim pengabdian dan mahasiswa ISI Yogyakarta juga membawakan sejumlah repertoar yang akrab di telinga masyarakat. Beberapa lagu yang ditampilkan antara lain “Dari Sabang Sampai Merauke”, “Sinarengan”, “Caping Gunung”, “Kartonyono Medot Janji”, “Rungkad”, “Pantun Janda”, “Iming-iming”, “Juragan Empang”, “Bojo Galak”, “Anak Lanang”, serta “Koyo Jogja Istimewa”.

Pilihan repertoar yang beragam, mulai dari lagu nasional, lagu daerah, hingga lagu populer Jawa, berhasil membangun suasana meriah. Masyarakat yang hadir turut menikmati pertunjukan dan ikut bernyanyi bersama, sehingga kegiatan tersebut menjadi ruang interaksi yang cair antara sivitas akademika ISI Yogyakarta dan warga Banaran VIII.

Dokumentasi Humas FSP ISI Yogyakarta_Dari kiri: Dukuh Banaran VIII, Very; Anggota DPRD Kabupaten Gunungkidul, Ridha Mustofa; Wakil Dekan III Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta; Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gunungkidul, Nunuk Setyowati; suami Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gunungkidul; Parno (Purnatugas Karyawan Perpustakaan ISI Yogyakarta); dan Ketua RW Banaran VIII.

Kegiatan ini juga dihadiri sejumlah tokoh dan pemangku kepentingan, antara lain Dukuh Banaran VIII Very, Anggota DPRD Kabupaten Gunungkidul Ridha Mustofa, Wakil Dekan III Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gunungkidul Nunuk Setyowati, Parno selaku purnatugas karyawan Perpustakaan ISI Yogyakarta, serta Ketua RW Banaran VIII.

Melalui kegiatan ini, ISI Yogyakarta menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi seni yang tidak hanya menjalankan pendidikan di ruang akademik, tetapi juga hadir langsung di tengah masyarakat. Keterlibatan dosen dan mahasiswa dalam tradisi Rasulan menjadi bagian dari komitmen ISI Yogyakarta untuk memperkuat pengabdian berbasis seni, pelestarian budaya, serta pemberdayaan masyarakat melalui praktik seni pertunjukan.

Partisipasi Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta dalam Rasulan Banaran VIII juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi lintas program studi. Melalui kolaborasi tersebut, seni musik, tari, pendidikan seni, dan etnomusikologi dapat bertemu dalam satu ruang kebudayaan yang memperkaya pengalaman belajar mahasiswa sekaligus memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Dengan hadir dalam kegiatan budaya masyarakat, ISI Yogyakarta terus memperluas perannya sebagai pusat pendidikan, penciptaan, pengkajian, dan pengabdian seni. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa perguruan tinggi seni memiliki posisi strategis dalam menjaga kesinambungan tradisi, mengembangkan kreativitas, serta membangun hubungan yang produktif antara ilmu pengetahuan, seni, dan kehidupan sosial masyarakat.

Cari
Kategori

Bagikan postingan ini

Tinggalkan Balasan

id_IDID