Yogyakarta, 3 Juni 2026 — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta meneguhkan perannya sebagai perguruan tinggi seni nasional yang unggul, kreatif, inovatif, inklusif, dan berdaya saing global melalui Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-42 yang digelar di Gedung Concert Hall ISI Yogyakarta. Mengusung tema “Redefining Art Impact: Seni, Kemanusiaan, dan Kreativitas di Era Artificial Intelligence,” momentum Dies Natalis tahun ini menjadi penanda penting bagi ISI Yogyakarta dalam merumuskan kembali dampak pendidikan seni di tengah perubahan besar teknologi, budaya digital, dan kecerdasan buatan.
Rektor ISI Yogyakarta, Dr. Irwandi, M.Sn., dalam pidatonya menegaskan bahwa perjalanan 42 tahun ISI Yogyakarta bukan hanya peringatan usia kelembagaan, melainkan refleksi atas kerja panjang dalam membangun tradisi akademik, memperkuat nilai kebudayaan, serta menghadirkan seni sebagai kekuatan transformasi sosial. Sejak berdiri pada tahun 1984 melalui peleburan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Akademi Musik Indonesia (AMI), dan Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI), ISI Yogyakarta tumbuh sebagai rumah besar pendidikan seni yang mempertemukan tradisi, inovasi, pemikiran kritis, dan praktik kreatif lintas disiplin.
Tema Dies Natalis ke-42 menjadi relevan karena perkembangan Artificial Intelligence telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, berkomunikasi, dan berkarya. ISI Yogyakarta memandang AI bukan sebagai ancaman yang harus ditolak, melainkan sebagai tantangan yang harus dipahami, dikritisi, dan diarahkan secara bijaksana. Dalam konteks ini, kampus seni memiliki peran penting untuk memastikan bahwa teknologi tetap berada dalam bingkai nilai kemanusiaan, etika, estetika, empati, dan kebudayaan.


“Seni tidak pernah hanya soal hasil akhir,” menjadi salah satu penekanan penting dalam pidato Rektor. Seni lahir dari pengalaman hidup, kegelisahan batin, konteks sosial, nilai budaya, dan refleksi kemanusiaan. Karena itu, pendidikan seni di era AI tidak hanya dituntut menghasilkan karya, tetapi juga melahirkan manusia kreatif yang mampu memberi arah etik, estetik, dan kultural bagi masyarakat.
Penguatan posisi ISI Yogyakarta sebagai perguruan tinggi seni bereputasi global ditandai dengan sejumlah capaian strategis. Pada tahun 2026, ISI Yogyakarta masuk dalam jajaran Top 500 QS World University Rankings by Subject 2026, dengan Fakultas Seni Rupa dan Desain menempati peringkat 151–200 dunia untuk subject Art & Design. Capaian ini semakin memperkuat pengakuan internasional terhadap kualitas akademik, karya, riset, dan ekosistem seni rupa serta desain yang dikembangkan ISI Yogyakarta.
Pada tahun yang sama, delapan program studi ISI Yogyakarta berhasil memperoleh akreditasi internasional dari FIBAA, lembaga akreditasi asal Jerman. Program studi tersebut meliputi Desain Interior, Desain Komunikasi Visual, Desain Produk, Seni Murni, Kriya, Tata Kelola Seni, Film dan Televisi, serta Fotografi. Di tingkat nasional, Program Studi Kriya meraih predikat Unggul dari BAN-PT, sedangkan Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan memperoleh akreditasi Unggul dari LAMDIK.
Reputasi ISI Yogyakarta juga diperkuat melalui prestasi mahasiswa di tingkat nasional dan internasional, antara lain dalam bidang desain interior, teater, musik, paduan suara, dan kompetisi seni lainnya. Dosen-dosen ISI Yogyakarta turut memperluas rekognisi internasional melalui program guest professor, lecture exchange, Erasmus+ mobility, DAAD Exchange Program, forum internasional di Rusia, serta short course Australia Awards di bidang kekayaan intelektual industri animasi.


Dalam bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, ISI Yogyakarta mencatat peningkatan signifikan. Pada tahun 2026, ISI Yogyakarta meraih 17 judul penelitian hibah Kemdiktisaintek dengan total pendanaan lebih dari Rp2,6 miliar. Pada bidang pengabdian kepada masyarakat, ISI Yogyakarta memperoleh 12 judul hibah, sehingga secara total tahun ini ISI Yogyakarta meraih 29 hibah nasional. Capaian ini menunjukkan bahwa seni, budaya, dan inovasi tidak hanya hadir sebagai ekspresi estetik, tetapi juga sebagai kekuatan riset dan pemberdayaan masyarakat.
Secara kelembagaan, ISI Yogyakarta juga memperkuat arah inklusivitas melalui Renstra 2025–2029. Visi ISI Yogyakarta diperluas menjadi perguruan tinggi seni nasional yang unggul, kreatif, inovatif, dan inklusif berdasarkan Pancasila. Arah tersebut diwujudkan melalui penguatan sarana prasarana, layanan disabilitas, optimalisasi asrama mahasiswa dan tamu, pembukaan Open Class yang dapat diakses secara luas, serta jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau pada enam program studi, yaitu Seni Tari, Etnomusikologi, Seni Murni, Desain Interior, Film dan Televisi, serta Fotografi.
Penguatan tata kelola dan reputasi kelembagaan juga tercermin dari capaian ISI Yogyakarta dalam Anugerah Diktisaintek 2025. ISI Yogyakarta berhasil meraih enam penghargaan, termasuk Pengelola Barang Milik Negara terbaik kategori PTN Satker, Medali Emas Kerja Sama Internasional Terbaik, Medali Emas Kerja Sama Pemerintahan dan Lembaga Swadaya Masyarakat Terbaik, Medali Emas Subkategori Majalah melalui Majalah Varta Sarasvati, Medali Emas Subkategori Unit Layanan Terpadu, serta Medali Perunggu Subkategori Laman.



Dalam forum Dies Natalis ini, pidato ilmiah disampaikan oleh Dr. Mikke Susanto, S.Sn., M.A. dengan judul “Album Foto Keluarga: Kita, Tata Kelola Arsip dan Algoritma.” Melalui refleksi mengenai album foto keluarga, arsip domestik, budaya digital, dan algoritma, pidato ilmiah tersebut memperlihatkan bahwa seni memiliki peran penting dalam menjaga memori, identitas, privasi, dan nilai kemanusiaan di tengah peradaban yang semakin terdigitalisasi. Perguruan tinggi seni seperti ISI Yogyakarta dipandang memiliki posisi strategis untuk menghubungkan estetika, etika, kearifan lokal, dan algoritma dalam membaca masa depan kebudayaan.
Rangkaian Dies Natalis ke-42 ISI Yogyakarta juga diisi dengan berbagai agenda akademik, artistik, dan internasional, mulai dari festival film dokumenter musik, konser, seminar nasional tentang seni dan AI, residensi Australia Art Orchestra, simposium internasional, pameran, workshop, screening film, fashion show, International Djogja Earth Sound Fest, hingga Festival Teater Dosen Indonesia. Keseluruhan agenda tersebut menunjukkan bahwa ISI Yogyakarta tidak hanya menjadi ruang pendidikan, tetapi juga pusat produksi pengetahuan, diplomasi budaya, dan ekosistem kreatif yang terus bergerak.
Melalui capaian akademik, reputasi internasional, akreditasi, riset, pengabdian, tata kelola, serta respons kritis terhadap perkembangan AI, ISI Yogyakarta semakin meneguhkan posisinya sebagai perguruan tinggi seni terdepan di Indonesia. Di usia ke-42, ISI Yogyakarta terus bergerak sebagai pusat unggulan seni dan budaya yang berakar pada tradisi, terbuka terhadap inovasi, dan berorientasi pada kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan peradaban dunia.






