Novosibirsk, Rusia, 31 Mei 2026 — Delegasi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta mengikuti IV “Crossroads” International Puppet Theater Festival yang diselenggarakan oleh Novosibirsk Regional Puppet Theater di Novosibirsk, Federasi Rusia, pada 31 Mei–4 Juni 2026. Keikutsertaan ini menjadi salah satu langkah strategis ISI Yogyakarta dalam memperluas jejaring seni pertunjukan internasional sekaligus memperkenalkan kekayaan seni tradisi Indonesia kepada publik global.
Dalam festival tersebut, ISI Yogyakarta tampil melalui pertunjukan Wayang Golek Menak berjudul “The Knight Searching for His Father” atau “Iman Suwongso Takon Bapa”. Pertunjukan dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 2 Juni 2026, pukul 17.00 waktu setempat, di Puppet Theatre Main Hall, 22 Lenin Street, Novosibirsk. Kehadiran ISI Yogyakarta dalam program ini menempatkan seni pertunjukan Indonesia berdampingan dengan kelompok teater boneka dari berbagai negara, antara lain Tajikistan, Mesir, Turki, Arab Saudi, Iran, China, Uzbekistan, serta sejumlah teater dari Rusia.
Partisipasi ini memiliki arti penting bagi ISI Yogyakarta karena memperlihatkan kemampuan perguruan tinggi seni Indonesia dalam membawa tradisi lokal ke ruang pertemuan seni dunia. Melalui Wayang Golek Menak, delegasi ISI Yogyakarta tidak hanya memperkenalkan bentuk seni pertunjukan tradisional, tetapi juga menunjukkan bagaimana tradisi dapat diolah secara kreatif melalui pendekatan artistik yang relevan dengan panggung internasional.
Wayang Golek Menak merupakan seni pertunjukan boneka kayu yang berkembang di Jawa, termasuk Yogyakarta. Tradisi ini bersumber dari kisah Menak yang mengangkat tokoh Amir Hamzah dan berkembang dalam khazanah budaya Jawa. Dalam pertunjukan di Novosibirsk, karya yang dibawa ISI Yogyakarta dikemas dengan pendekatan iringan sinematik, memadukan gamelan dan musik modern yang direkam terlebih dahulu. Format ini memberi ruang bagi tradisi untuk tampil dengan bahasa panggung yang komunikatif, ringkas, dan adaptif bagi penonton lintas budaya.

Pertunjukan “Iman Suwongso Takon Bapa” mengangkat kisah pencarian, tipu daya, kesadaran, dan pemulihan hubungan keluarga. Cerita ini menampilkan tokoh Iman Suwongso yang hampir terperdaya oleh Prabu Kisthapangidrus dan Patih Bestak hingga nyaris mencelakai Jayusman dan Jayengrono, ayah yang selama ini ia cari. Setelah mengetahui kebenaran, Iman Suwongso menyadari tipu daya tersebut dan menuntut keadilan. Narasi ini menghadirkan pesan tentang kebijaksanaan, pengenalan diri, dan kemenangan kebenaran atas kelicikan.
Secara artistik, pertunjukan ini berdurasi sekitar 32 menit dan dimainkan oleh tiga orang penggerak wayang. Dengan kebutuhan panggung sekitar lima meter kali tiga meter, latar hitam, serta tata cahaya yang maksimal, pementasan ini dirancang untuk menghadirkan kekuatan visual boneka kayu, gestur dalang, dan atmosfer dramatik yang dapat diterima penonton internasional.
Keikutsertaan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta dalam festival ini juga menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia. Seni pertunjukan, khususnya wayang, memiliki kekuatan untuk mempertemukan masyarakat lintas bangsa melalui pengalaman estetis. Dalam konteks hubungan Indonesia dan Federasi Rusia, kehadiran delegasi ISI Yogyakarta memperkuat hubungan people-to-people melalui seni, budaya, dan pertukaran pengetahuan.
Festival “Crossroads” di Novosibirsk mempertemukan berbagai sistem teater boneka, tradisi artistik, dan pendekatan penciptaan dari banyak negara. Program festival mencakup parade terbuka, pembukaan festival, pertunjukan utama, showcase, master class, serta sesi juri. Dengan demikian, keterlibatan ISI Yogyakarta tidak hanya berbentuk pementasan, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun jejaring profesional, membaca perkembangan seni boneka internasional, serta membuka peluang kolaborasi akademik dan artistik di masa mendatang.
Bagi ISI Yogyakarta, keikutsertaan ini mempertegas posisi institusi sebagai perguruan tinggi seni yang berakar kuat pada tradisi sekaligus aktif dalam percakapan seni global. Tradisi Wayang Golek Menak yang tumbuh di Yogyakarta dibawa ke panggung internasional bukan sebagai artefak masa lalu, melainkan sebagai praktik seni yang hidup, berkembang, dan mampu berdialog dengan dunia.
Partisipasi delegasi Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta di Novosibirsk diharapkan semakin memperkuat reputasi ISI Yogyakarta sebagai pusat pendidikan, penciptaan, pengkajian, dan pengembangan seni pertunjukan di Indonesia. Melalui panggung internasional ini, ISI Yogyakarta kembali menunjukkan bahwa seni tradisi Indonesia memiliki daya tawar, daya hidup, dan daya jelajah yang penting dalam membangun hubungan kebudayaan antarbangsa.






