Yogyakarta, 11 Maret 2026 – Praktik seni kriya keramik kembali menunjukkan kekuatan reflektifnya melalui karya “Berkelimpahan” yang diciptakan oleh Dr. Noor Sudiyati, M.Sn., akademisi dan perupa dari Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Karya tersebut menegaskan bahwa tanah liat tidak sekadar material artistik, melainkan medium yang merekam relasi mendalam antara manusia, alam, dan semesta.
Karya “Berkelimpahan” hadir dalam bentuk bejana biomorfis dengan dimensi sekitar 43 × 33 × 24 cm yang memunculkan elemen-elemen organik menyerupai pertumbuhan flora. Bentuk tersebut menjadi metafora visual tentang rahim kehidupan, kesuburan alam, serta keberlimpahan energi yang menopang keberlangsungan manusia. Melalui karya ini, Noor Sudiyati mengajak publik untuk membaca kembali hubungan manusia dengan alam sebagai sumber kehidupan yang harus dirawat dan dihargai.
Sebagai seniman sekaligus akademisi, Noor Sudiyati dikenal konsisten memposisikan keramik bukan hanya sebagai objek estetika, tetapi sebagai ruang dialog filosofis. Tanah liat diperlakukan sebagai entitas hidup yang merespons sentuhan tangan pembuatnya, menghadirkan dimensi spiritual dalam proses kreatif. Teknik yang digunakan—mulai dari cap, pilin, pijit, hingga tempel—tidak semata prosedur teknis, melainkan bagian dari praktik kontemplatif yang menyatukan laku artistik dengan perjalanan batin senimannya.
Karya “Berkelimpahan” juga pernah dipresentasikan dalam pameran Solo International Visual Art (SIVA) di ISI Surakarta pada November 2025. Dalam konteks pameran tersebut, kurator Prof. M. Dwi Marianto menilai karya Noor Sudiyati memiliki kedalaman spiritual yang kuat. Proses panjang dalam pengolahan material tanah liat dipahami sebagai bentuk kesabaran, ketekunan, dan kesadaran artistik yang melampaui sekadar produksi objek seni.
Selain SIVA, kiprah Noor Sudiyati juga tercatat dalam sejumlah forum seni internasional lain, seperti Art Ketam International Art Festival di Selangor, Malaysia, serta pameran Multiframe #6: Transcending Boundaries di Jogja Gallery. Kehadiran karya-karya tersebut menunjukkan bagaimana seni kriya Indonesia mampu hadir dalam percakapan seni rupa global dengan membawa perspektif budaya yang khas.
Dalam perjalanan artistiknya, Noor Sudiyati menegaskan bahwa praktik berkarya tidak dapat dipisahkan dari perannya sebagai pendidik. Bagi dirinya, mengajar dan berkarya adalah dua proses yang saling melengkapi. Pengalaman kreatif yang dijalani di studio menjadi sumber pembelajaran bagi mahasiswa, sementara proses pendidikan turut memperkaya eksplorasi artistiknya. Pendekatan ini mencerminkan model pendidikan seni yang hidup, di mana praktik artistik dan refleksi akademik berjalan beriringan.
Kiprah Noor Sudiyati sekaligus menunjukkan kontribusi penting ISI Yogyakarta sebagai perguruan tinggi seni terbesar di Indonesia dalam mendorong perkembangan seni kriya kontemporer. Melalui aktivitas penelitian, penciptaan karya, serta partisipasi dalam pameran internasional, para akademisi dan seniman kampus ini turut memperkuat posisi Indonesia dalam peta seni rupa global.
Keberhasilan tersebut juga menegaskan peran strategis ISI Yogyakarta sebagai ruang lahirnya gagasan artistik yang berpijak pada nilai budaya sekaligus terbuka terhadap percakapan internasional. Melalui karya seperti “Berkelimpahan”, seni kriya tidak hanya menjadi ekspresi estetika, tetapi juga medium refleksi tentang kehidupan, spiritualitas, dan hubungan manusia dengan alam semesta.
Dengan demikian, karya Noor Sudiyati tidak hanya menandai perjalanan personal seorang seniman, tetapi juga merepresentasikan daya hidup tradisi kriya Indonesia yang terus berkembang melalui inovasi, refleksi filosofis, dan kontribusi akademik yang kuat dari lingkungan kampus ISI Yogyakarta.


Bersama Karyanya. Foto: Ist.





