Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Fotografi, Lingkungan, dan Daya Hidup Komunitas: PFS #19 ISI Yogyakarta Hadirkan Karya Tugas Akhir Berbasis Riset

Fotografi, Lingkungan, dan Daya Hidup Komunitas: PFS #19 ISI Yogyakarta Hadirkan Karya Tugas Akhir Berbasis Riset

YOGYAKARTA, 12 Juni 2026 — Mahasiswa Program Studi Fotografi, Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menghadirkan karya-karya fotografi yang menyoroti ketahanan komunitas dalam menghadapi persoalan lingkungan melalui Pekan Fotografi Sewon (PFS) #19 bertajuk Prime Time.

Pameran ini menjadi ruang presentasi karya tugas akhir 32 mahasiswa Fotografi ISI Yogyakarta. Melalui medium fotografi, para mahasiswa tidak hanya menampilkan kekuatan visual, tetapi juga menghadirkan pembacaan kritis terhadap persoalan sosial, lingkungan, dan kemanusiaan yang hidup di tengah masyarakat.

Sejumlah karya yang dipamerkan memperlihatkan bagaimana komunitas berupaya menjaga ruang hidupnya, mulai dari bertahan di tengah abrasi pesisir, mengembangkan praktik memanen air hujan sebagai sumber air alternatif, hingga menjaga keseimbangan alam melalui sistem adat yang diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu karya yang mengangkat isu lingkungan adalah Foto Dokumenter Krisis Lingkungan dan Ketahanan Masyarakat Akibat Abrasi di Kampung Beting, Desa Pantai Bahagia, Kabupaten Bekasi karya Rahid Putra Laksana. Selama satu tahun, Rahid mendokumentasikan kehidupan masyarakat Kampung Beting yang terus beradaptasi menghadapi abrasi yang perlahan menghilangkan daratan tempat tinggal mereka.

“Yang ingin saya tunjukkan bukan hanya kerusakan lingkungannya, tetapi bagaimana masyarakat tetap bertahan dan beradaptasi di tengah kondisi tersebut,” kata Rahid.

Menurut Rahid, persoalan abrasi di Kampung Beting masih belum banyak diketahui masyarakat luas, meskipun dampaknya dirasakan langsung oleh warga pesisir setiap hari. Melalui karya fotografi dokumenter, ia berharap persoalan tersebut dapat memperoleh perhatian yang lebih luas.

“Saya berharap karya ini dapat menjadi salah satu cara untuk menyuarakan persoalan abrasi yang terjadi di Kampung Beting agar lebih banyak diketahui masyarakat luas,” ujarnya.

Isu pengelolaan sumber daya air juga diangkat Rizmi Azza Aqiffina melalui karya Foto Dokumenter Gerakan Memanen Air Hujan oleh Komunitas Banyu Bening. Karya tersebut mendokumentasikan aktivitas komunitas dalam memanen, mengolah, dan memanfaatkan air hujan sebagai sumber air alternatif.

“Krisis air bersih masih menjadi persoalan di berbagai daerah. Padahal Indonesia memiliki curah hujan yang cukup tinggi sehingga air hujan sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan air,” kata Azza.

Selain merekam proses pemanenan air hujan, Azza juga menampilkan aktivitas edukasi masyarakat dan aksi konservasi lingkungan yang dilakukan Komunitas Banyu Bening. Menurutnya, fotografi dapat menjadi media untuk memperlihatkan praktik baik yang lahir dari masyarakat.

“Melalui karya ini saya ingin menunjukkan bahwa air hujan dapat menjadi solusi yang nyata untuk membantu mengatasi persoalan krisis air bersih jika dikelola dengan baik,” ujarnya.

Sementara itu, Irza Saputra menghadirkan karya Potret Environmental Rorokan di Kasepuhan Gelaralam, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Karya ini menampilkan para rorokan, yakni perangkat adat yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan masyarakat dan kelestarian alam.

“Saya ingin memperlihatkan bahwa rorokan bukan hanya struktur pemerintahan adat, tetapi juga bagian dari sistem yang menjaga hubungan masyarakat dengan alam,” kata Irza.

Melalui karya tersebut, Irza menunjukkan bahwa pengetahuan lokal dan tata kelola adat memiliki kontribusi penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Sistem rorokan dipahami sebagai bagian dari mekanisme sosial yang menjaga hubungan masyarakat adat dengan alam sebagai sumber kehidupan.

PFS #19 Prime Time menegaskan peran ISI Yogyakarta sebagai perguruan tinggi seni yang tidak hanya berfokus pada penciptaan karya, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk membaca persoalan masyarakat secara kritis, kontekstual, dan humanis. Melalui fotografi, mahasiswa diajak untuk menghadirkan karya yang memiliki kekuatan artistik sekaligus relevansi sosial.

Pameran ini juga memperlihatkan bahwa proses pendidikan seni di ISI Yogyakarta mampu melahirkan karya yang berangkat dari riset, kepekaan sosial, dan kedalaman gagasan. Dengan demikian, fotografi tidak hanya diposisikan sebagai medium estetis, tetapi juga sebagai alat pencatatan, refleksi, dan penyampai pesan kemanusiaan.

Cari
Kategori

Bagikan postingan ini

Tinggalkan Balasan

id_IDID