Yogyakarta, 12 Maret 2026 — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali menunjukkan perannya sebagai pusat pengembangan seni pertunjukan yang inovatif melalui karya ujian tunggal mahasiswi Fakultas Seni Pertunjukan, Laksmi Alysia Azzahra, yang menghadirkan eksplorasi koreografi dengan memanfaatkan teknik panggung flying rig atau wire work. Eksperimen artistik ini menampilkan tubuh penari yang bergerak dan melayang di udara, menciptakan pengalaman visual yang berbeda dari pertunjukan tari konvensional.
Dalam karya tersebut, teknologi panggung digunakan sebagai medium eksplorasi artistik yang memungkinkan tubuh berinteraksi langsung dengan gravitasi. Melalui teknik suspensi menggunakan selempang dan sistem rigging, tubuh penari tidak hanya menari di ruang panggung, tetapi juga menavigasi ruang udara sebagai bagian dari komposisi koreografi. Pendekatan ini membuka kemungkinan baru dalam penciptaan tari kontemporer yang menggabungkan estetika gerak dengan teknologi panggung.
Karya ini juga membawa dimensi konseptual yang mendalam. Gerakan yang lahir dari kondisi melayang di udara menjadi metafora atas memori biologis awal manusia. Melalui pengalaman suspensi, tubuh menelusuri sensasi mengambang, tekanan, dan keterbatasan ruang yang merefleksikan pengalaman manusia ketika berada dalam rahim. Dalam proses tersebut, tubuh bernegosiasi dengan keseimbangan, gravitasi, dan ruang, sehingga gerak yang muncul merupakan hasil dari proses adaptasi dan penemuan.


Eksperimen koreografi ini menunjukkan keberanian generasi muda seniman Indonesia dalam menembus batas-batas konvensi seni pertunjukan. Integrasi antara tari dan teknologi panggung menghadirkan bentuk ekspresi artistik yang tidak hanya menantang secara teknis, tetapi juga memperkaya kemungkinan estetika dalam praktik koreografi kontemporer.
Proses penciptaan karya ini berlangsung melalui kolaborasi lintas bidang yang melibatkan berbagai praktisi seni dan teknisi panggung. Karya tersebut dibimbing oleh Raja Epi, dengan dukungan komposisi musik dari Belmiro AVR. Aspek keselamatan dan peralatan flying rig ditangani oleh tim Freedom Art Stunt, sementara proses rigging dan pengoperasian dilakukan oleh Kukuh MNR. Dokumentasi karya juga melibatkan kolaborasi kreatif dari fotografer Adith Thaariq dan videografer Reva Apriliana, serta dukungan kru produksi yang memastikan kelancaran pertunjukan.
Kehadiran karya ini sekaligus menunjukkan ekosistem pembelajaran yang berkembang di lingkungan ISI Yogyakarta, di mana mahasiswa didorong untuk melakukan eksplorasi artistik yang melampaui batas disiplin. Integrasi antara tradisi tubuh dalam tari dengan inovasi teknologi panggung menjadi bagian dari pendekatan pedagogis yang memungkinkan mahasiswa mengembangkan bahasa artistik yang relevan dengan perkembangan seni global.
Sebagai perguruan tinggi seni terbesar di Indonesia, ISI Yogyakarta terus meneguhkan komitmennya dalam mendorong lahirnya karya-karya kreatif dan eksperimental dari generasi muda seniman. Eksplorasi yang dilakukan oleh Laksmi Alysia Azzahra menjadi salah satu contoh bagaimana pendidikan seni tidak hanya menghasilkan pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang penelitian artistik yang memperluas kemungkinan baru dalam praktik seni pertunjukan.
Melalui berbagai eksperimen kreatif seperti ini, ISI Yogyakarta semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat pengembangan seni pertunjukan yang progresif di Indonesia, sekaligus menjadi ruang lahirnya inovasi artistik yang mampu berkontribusi pada dinamika seni kontemporer di tingkat nasional maupun internasional.


Dokumentasi Adith Thaariq





