Yogyakarta — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta membangun kerja sama dengan Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIB Yogyakarta untuk membuka peluang pengembangan kreativitas dan pembinaan warga binaan melalui seni. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dalam rangkaian kunjungan Rektor ISI Yogyakarta, Prof. Dr. Irwandi, S.Sn., M.Sn., bersama jajaran ke Lapas Perempuan Kelas IIB Yogyakarta.
Kolaborasi kedua institusi juga mencakup agenda Workshop Seni Tari Kreasi yang dijadwalkan pada Senin, 2 November 2026, di Lapas Perempuan Kelas IIB Yogyakarta. Agenda tersebut mempertemukan bidang keilmuan seni yang dikembangkan ISI Yogyakarta dengan ruang pembinaan warga binaan.
Penandatanganan MoU menjadi landasan awal bagi kedua institusi untuk membangun sinergi dan menjajaki kegiatan bersama. Melalui kesepahaman ini, pengembangan kreativitas diharapkan dapat menjadi salah satu bagian yang mendukung pembinaan warga binaan secara berkelanjutan.
Dalam rangkaian kunjungan, Rektor ISI Yogyakarta beserta jajaran mengikuti peninjauan fasilitas atau facility tour. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada delegasi ISI Yogyakarta untuk mengenal lebih dekat lingkungan lapas, fasilitas yang tersedia, serta berbagai program pembinaan yang telah berjalan.


Pengenalan langsung terhadap lingkungan pembinaan menjadi bekal bagi pengembangan kerja sama. Informasi mengenai kondisi fasilitas dan program yang tersedia dapat membantu kedua institusi mengidentifikasi peluang kegiatan seni yang relevan dengan kebutuhan warga binaan serta kesiapan penyelenggara.
Workshop Seni Tari Kreasi menjadi salah satu agenda yang menghubungkan kompetensi seni ISI Yogyakarta dengan kegiatan pembinaan di Lapas Perempuan Kelas IIB Yogyakarta. Seni tari membuka ruang pembelajaran melalui gerak, irama, ekspresi, dan kerja bersama.
Dalam proses pembelajaran tari, peserta dapat diajak mengenali kemampuan tubuh, mengeksplorasi gerak, serta menyusun ekspresi menjadi sebuah karya. Kegiatan tersebut berpotensi menjadi sarana untuk menumbuhkan keberanian berekspresi, kedisiplinan dalam berlatih, dan kemampuan berinteraksi melalui aktivitas kreatif.
Pemilihan tari kreasi juga memberi ruang bagi pengembangan gagasan yang dapat disesuaikan dengan kemampuan dan pengalaman peserta. Pendekatan ini memungkinkan kegiatan seni dirancang secara partisipatif, sehingga peserta memiliki kesempatan untuk terlibat dalam proses belajar dan berkarya.
Bagi warga binaan, kesempatan mengikuti kegiatan seni diharapkan dapat memperluas pengalaman pembelajaran selama menjalani pembinaan. Seni dapat menjadi ruang untuk mengenali potensi diri sekaligus membangun pengalaman positif melalui keterlibatan dalam aktivitas yang terarah.


Kerja sama dengan Lapas Perempuan Kelas IIB Yogyakarta membuka ruang penerapan keilmuan seni di luar lingkungan kampus. Melalui kolaborasi ini, kompetensi yang dikembangkan di perguruan tinggi memiliki peluang untuk menjangkau kelompok masyarakat dengan kebutuhan dan konteks pembelajaran yang beragam.
Bagi ISI Yogyakarta, keterlibatan dalam pengembangan kreativitas warga binaan memperkuat relevansi pendidikan seni dengan kehidupan sosial. Pengetahuan dan praktik seni dapat dihubungkan dengan kebutuhan masyarakat melalui kegiatan yang dirancang bersama mitra.
Kolaborasi tersebut juga sejalan dengan semangat Kampus Berdampak, yakni menghadirkan kontribusi perguruan tinggi melalui penerapan keilmuan yang bermanfaat bagi masyarakat. Dalam konteks ini, seni memiliki ruang kontribusi melalui pendidikan, pengembangan kreativitas, dan pembukaan akses terhadap pengalaman berkarya.
Sinergi antara perguruan tinggi seni dan lembaga pemasyarakatan membutuhkan pemahaman terhadap peran masing-masing institusi. ISI Yogyakarta memiliki bidang keilmuan seni yang dapat mendukung pengembangan kegiatan kreatif, sementara pihak lapas memahami kebutuhan, tata kelola, dan pelaksanaan pembinaan warga binaan. Pertemuan kedua kapasitas tersebut menjadi dasar untuk merancang kegiatan yang sesuai dengan konteks pelaksanaannya.


Penandatanganan MoU menjadi titik awal yang perlu ditindaklanjuti melalui perumusan kegiatan bersama. Pelaksanaan program selanjutnya diharapkan mempertimbangkan kebutuhan peserta, ketersediaan fasilitas, pendampingan, serta evaluasi kegiatan agar manfaatnya dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Agenda Workshop Seni Tari Kreasi memberikan arah konkret bagi peluang kolaborasi tersebut. Ke depan, pengalaman dari kegiatan bersama dapat menjadi bahan untuk menyusun bentuk pembelajaran seni yang semakin sesuai dengan kebutuhan pembinaan warga binaan.
Melalui kerja sama ini, ISI Yogyakarta memperluas jejaring pengabdian sekaligus mempertegas perannya sebagai perguruan tinggi seni yang terhubung dengan persoalan dan kebutuhan masyarakat. Kolaborasi dengan Lapas Perempuan Kelas IIB Yogyakarta membuka kesempatan untuk menghadirkan seni sebagai ruang belajar, berekspresi, dan mengembangkan potensi diri.







