Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Dosen ISI Yogyakarta Lutse Morin Tampil di Pameran China–ASEAN Beijing, Disorot China Daily

Dosen ISI Yogyakarta Lutse Morin Tampil di Pameran China–ASEAN Beijing, Disorot China Daily

Yogyakarta, 12 Agustus 2026 — Kiprah internasional Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali memperoleh perhatian media internasional. Lutse Lambert Daniel Morin, S.Sn., M.Sn., dosen Program Studi D4 Desain Media Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Yogyakarta sekaligus Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FSRD, tampil dalam pameran Imprints of Civilization: China-ASEAN Printmaking Exhibition di Today Art Museum, Beijing, Tiongkok. Kehadirannya bersama karya berjudul That Papua Person turut ditampilkan China Daily dalam pemberitaan yang terbit pada 29 Juni 2026.

China Daily menampilkan foto Lutse bersama Murin Astuti di depan That Papua Person pada pembukaan pameran. Pemberitaan tersebut menempatkan karya seniman Indonesia di tengah perjumpaan seni grafis China dan Asia Tenggara, dalam sebuah agenda yang mempertemukan lebih dari 140 seniman dan menghadirkan lebih dari 150 karya dari China serta negara-negara anggota ASEAN.

Pameran yang berlangsung hingga 8 Juli 2026 itu dikuratori oleh Wen Zhongyan dan Fu Bin dari Academy of Arts and Design, Tsinghua University. Program tersebut didukung Beijing Culture and Arts Fund, dana publik yang dibentuk oleh Beijing Municipal Bureau of Culture and Tourism. Melalui seni grafis, para seniman membawa pengalaman, lanskap, sejarah, tradisi, dan perubahan kehidupan kontemporer dari beragam latar budaya ke dalam satu ruang dialog.

Keterlibatan Lutse memperlihatkan bagaimana praktik akademik dan penciptaan seni di ISI Yogyakarta bergerak melampaui ruang kelas dan hadir dalam percakapan seni internasional. Sebagai pengajar D4 Desain Media, rekam praktik Lutse yang melintasi seni patung, material industrial, karya kinetik, instalasi, hingga eksplorasi media memberikan konteks penting bagi pendidikan desain berbasis praktik, eksperimen visual, dan pemahaman lintas medium.

Faint Light, a lithograph of Chinese artist Cao Dan on show at Imprints of Civilization: China-ASEAN Printmaking Exhibition at Beijing’s Today Art Museum.
(PROVIDED TO CHINA DAILY)

Jejak Lutse di Tiongkok juga bukan yang pertama. Pada April 2024, ia bersama Prof. Drs. Martinus Dwi Marianto, M.F.A., Ph.D. mempresentasikan profil ISI Yogyakarta dan Fakultas Seni Rupa dalam Dialogue and Link Beijing 2024. Forum tersebut mempertemukan perguruan tinggi seni Asia Tenggara dengan perguruan tinggi seni dan desain di Tiongkok serta diselenggarakan oleh Urban Design and the Printmaking Department, Central Academy of Fine Arts, dengan dukungan Tsinghua Academy of Fine Arts.

Aktivitas internasionalnya berlanjut pada 2025. Pada Februari, Lutse mengikuti program pertukaran seni dan budaya di Suphanburi, Thailand, yang melibatkan peserta dari lebih dari 19 negara. Pada Juli tahun yang sama, ia meraih penghargaan karya terbaik dalam Simposium Internasional Mo Kha Lan 2025 di Nakhon Si Thammarat, Thailand, melalui karya Connection of the Earth Letters. Penghargaan itu juga memberinya kesempatan mengikuti simposium internasional di China dengan dukungan penyelenggara.

Di bidang akademik, rekam publikasi Lutse mencakup kajian seni patung kinetik, material industrial, pengecoran logam, eksplorasi media, hingga praktik seni berbasis lingkungan. Profil akademiknya tercatat pada SINTA sebagai dosen ISI Yogyakarta pada Program Studi D4 Desain Media. Ia juga tercatat sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FSRD ISI Yogyakarta periode 2024–2028.

Wen Zhongyan’s work on show, Beihai 2011.7.8, celebrates his dedication of nearly 20 years to depicting the changing atmospheres of the imperial garden Beihai Park in the heart of Beijing. (PROVIDED TO CHINA DAILY)

Rangkaian kiprah tersebut memperkuat posisi ISI Yogyakarta sebagai perguruan tinggi seni yang tidak hanya menghasilkan karya dan pengetahuan di tingkat nasional, tetapi juga aktif membangun jejaring serta pertukaran gagasan di Asia. Kehadiran dosen ISI Yogyakarta pada forum seni China–ASEAN menunjukkan bahwa praktik kreatif dari kampus dapat menjadi medium diplomasi budaya sekaligus memperluas visibilitas seni Indonesia di ruang internasional.

Bagi FSRD ISI Yogyakarta, partisipasi pada pameran berskala internasional seperti Imprints of Civilization memiliki nilai strategis karena mempertemukan penciptaan, pendidikan, jejaring akademik, dan reputasi institusi dalam satu ekosistem. Pengalaman internasional dosen juga menjadi modal penting untuk memperkaya pembelajaran mahasiswa, khususnya dalam memahami perkembangan bahasa visual, praktik lintas media, serta dinamika industri dan medan seni global.

Pemberitaan China Daily atas pameran tersebut sekaligus memperluas jangkauan publik terhadap karya seniman Indonesia dan menjadi salah satu penanda hadirnya ISI Yogyakarta dalam ekosistem seni Asia. Melalui konsistensi dosen dan sivitas akademikanya di forum internasional, ISI Yogyakarta terus menguatkan perannya sebagai ruang pendidikan, penciptaan, penelitian, dan pertukaran budaya yang berangkat dari Indonesia serta berjejaring dengan dunia.

The exhibition builds a cross-cultural arena that is inclusive, diverse, and open to all. (PROVIDED TO CHINA DAILY)
Cari
Kategori

Bagikan postingan ini