Yogyakarta, 8 Oktober 2026 — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta terus memperluas ruang pertukaran pengetahuan dan praktik seni lintas negara melalui penyelenggaraan seminar akademik internasional. Kali ini, Jurusan Seni Murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Yogyakarta akan menghadirkan pematung asal Uruguay, Diego Santurio, dalam seminar bertajuk “Density and Infinity: Exploring Materials, Space, and Public Sculpture in Diego Santurio’s Practice” pada Senin, 12 Oktober 2026, di Gedung Sasana Ajiyasa, FSRD ISI Yogyakarta.
Seminar tersebut menjadi bagian dari upaya ISI Yogyakarta memperkuat lingkungan akademik yang terbuka terhadap perkembangan seni rupa global, sekaligus mempertemukan pengalaman praktisi internasional dengan perspektif akademisi dan pelaku seni Indonesia. Melalui kegiatan ini, mahasiswa, dosen, alumni, dan masyarakat memperoleh kesempatan untuk memahami secara langsung proses kreatif, eksplorasi material, serta pendekatan artistik dalam penciptaan karya patung yang berinteraksi dengan ruang publik.
Diego Santurio merupakan pematung asal Salto, Uruguay, yang memiliki perjalanan artistik berakar pada tradisi keterampilan pengolahan logam dalam keluarganya. Pengalaman tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam pembentukan pendekatan kreatifnya terhadap material, struktur, dan ruang. Sejak mulai berpameran pada usia 17 tahun, Santurio terus mengembangkan praktik seni patung hingga menghasilkan karya-karya yang hadir di berbagai ruang publik serta menjadi bagian dari koleksi seni di Uruguay dan sejumlah negara lainnya.
Pengalaman panjang Santurio dalam mengolah material dan menciptakan karya patung berskala monumental menjadi fokus utama pembahasan seminar. Melalui pendekatan tersebut, peserta akan diajak memahami bagaimana seorang seniman membangun kesinambungan praktik artistik, mulai dari penguasaan teknik dan pengetahuan bengkel hingga pengembangan gagasan yang relevan dengan kebutuhan ruang publik dan kehidupan masyarakat kontemporer.
Selain menghadirkan Diego Santurio sebagai pembicara utama, seminar ini juga menghadirkan Rain Rosidi, kurator sekaligus dosen asal Indonesia. Kehadirannya diharapkan memperkaya pembahasan dengan perspektif seni rupa kontemporer Indonesia, khususnya mengenai hubungan antara praktik seni patung, perkembangan wacana artistik, dan dinamika ruang publik.
Dialog antara kedua pembicara tersebut akan membuka kesempatan bagi peserta untuk melihat praktik seni patung melalui perspektif lintas budaya. Pengalaman Santurio dalam berkarya di lingkungan internasional dapat menjadi bahan perbandingan dengan perkembangan seni patung di Indonesia, termasuk berbagai kemungkinan pengembangan karya seni publik yang memiliki keterkaitan dengan karakter sosial, budaya, dan ruang perkotaan.
Seminar akan dipandu oleh Ladija Triana Dewi, seorang manajer seni asal Indonesia, sebagai moderator. Diskusi dirancang untuk menghadirkan pertukaran gagasan antara pembicara dan peserta mengenai hubungan antara material, ruang, pengalaman artistik, serta peran karya patung dalam membentuk pengalaman masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya.
Penyelenggaraan seminar ini sekaligus menegaskan komitmen ISI Yogyakarta dalam mengembangkan pendidikan seni yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan keterampilan artistik, tetapi juga pada penguatan pemikiran kritis, eksplorasi kreatif, dan pemahaman terhadap perkembangan praktik seni internasional.
Sebagai perguruan tinggi seni, ISI Yogyakarta memiliki peran strategis dalam mempertemukan tradisi penciptaan seni dengan perkembangan pengetahuan dan praktik artistik kontemporer. Kehadiran seniman internasional di lingkungan kampus menjadi salah satu sarana untuk memperluas wawasan akademik sekaligus memperkuat interaksi antara dunia pendidikan, komunitas seni, dan jejaring profesional lintas negara.
Bagi mahasiswa seni rupa, khususnya yang mendalami seni patung, kegiatan ini memberikan kesempatan untuk memperoleh pengetahuan dari pengalaman nyata seorang seniman yang telah mengembangkan praktik berkesenian dalam konteks internasional. Diskusi mengenai pemilihan material, proses produksi, pertimbangan ruang, dan penciptaan karya monumental diharapkan dapat memperkaya referensi mahasiswa dalam mengembangkan gagasan serta metode penciptaan karya.
Lebih jauh, pembahasan mengenai seni publik juga relevan dengan perkembangan Yogyakarta sebagai salah satu pusat pendidikan dan aktivitas seni budaya di Indonesia. Keberadaan karya seni di ruang publik tidak hanya berkaitan dengan persoalan estetika, tetapi juga membuka diskusi mengenai hubungan karya seni dengan masyarakat, identitas ruang, dan lingkungan sosial.
Melalui kegiatan akademik semacam ini, ISI Yogyakarta terus mendorong terbentuknya ekosistem pendidikan seni yang dinamis, kolaboratif, dan berwawasan internasional. Pertemuan antara seniman mancanegara, akademisi, dan komunitas seni diharapkan dapat memperluas kemungkinan kerja sama, pertukaran pengetahuan, serta pengembangan praktik penciptaan seni yang relevan dengan tantangan masa kini.
Seminar akademik “Density and Infinity” akan dilaksanakan pada Senin, 12 Oktober 2026, pukul 10.00–12.00 WIB, bertempat di lantai 2 Gedung Sasana Ajiyasa, Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta.
Kegiatan ini terbuka bagi dosen, mahasiswa, alumni, praktisi seni, serta masyarakat umum tanpa dipungut biaya. Peserta juga akan memperoleh sertifikat elektronik (e-certificate). Pendaftaran dapat dilakukan secara daring melalui tautan https://bit.ly/seminarsenimurni.
Dengan menghadirkan perspektif internasional ke dalam ruang akademik, ISI Yogyakarta terus memperkuat kontribusinya sebagai perguruan tinggi seni yang aktif mengembangkan pengetahuan, mendorong inovasi artistik, serta membangun dialog antara praktik seni lokal dan perkembangan seni rupa dunia.






