YOGYAKARTA – Selasa (11/8/2026) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta memperkuat kesiapan institusi menghadapi perubahan praktik pendidikan dan penciptaan seni akibat kecerdasan artifisial (AI) melalui Focus Group Discussion (FGD) Integrasi Literasi Artificial Intelligence bagi Civitas Academica ISI Yogyakarta. Forum yang berlangsung di Gedung Rektorat ISI Yogyakarta ini menjadi langkah awal untuk membangun pemanfaatan AI yang kontekstual bagi pendidikan tinggi seni. Tidak hanya pada ranah penguasaan teknologi, namun sekaligus menata etika, integritas akademik, hak cipta, keamanan data, transparansi, dan pertanggungjawaban proses kreatif.
Langkah tersebut memiliki dasar kebutuhan yang kuat. Analisis Tim Perumus Integrasi AI ISI Yogyakarta terhadap 27 koordinator program studi dan 241 mahasiswa menunjukkan AI sudah hadir luas dalam kegiatan akademik. Sebanyak 231 mahasiswa atau 96 persen telah menggunakan AI. Seluruh program studi menilai literasi dan etika AI perlu menjadi bagian dari pembelajaran.
Kebutuhan membangun tata kelola AI juga sejalan dengan arah kebijakan nasional. Pemerintah pada Maret 2026 menetapkan SKB Tujuh Menteri tentang Pedoman Pemanfaatan dan Pembelajaran Teknologi Digital serta Kecerdasan Artifisial pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal. Bagi perguruan tinggi, kerangka tersebut memperkuat kebutuhan agar pemanfaatan AI dilakukan secara bijak, terarah, dan bertanggung jawab, sekaligus mendukung inovasi pembelajaran, riset, dan pengembangan ilmu pengetahuan.


Melalui FGD, ISI Yogyakarta menghadirkan Chayadi Oktomy Noto Susanto, S.T., M.Eng., ITILF., Ph.D., Koordinator Program Studi S1 Kecerdasan Buatan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Selain berkecimpung dalam perencanaan strategis teknologi informasi dan riset AI, Chayadi menempuh doktoral Ilmu Komputer di Asia University, Taiwan, serta memiliki pengalaman riset deep learning dan tata kelola teknologi. Dalam forum ini ia membawakan materi “Praktik Implementasi AI dalam Kurikulum Perguruan Tinggi di Indonesia: Tantangan, Peluang, dan Strategi Pengembangannya”.
Paparan Chayadi menggeser diskusi dari pertanyaan sederhana mengenai boleh atau tidaknya AI digunakan menuju persoalan yang lebih mendasar: kemampuan apa yang hendak diukur dalam pembelajaran dan bagaimana kemampuan itu dapat dibuktikan. Ia menempatkan Profil Lulusan, Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), dan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) sebagai rujukan ketika dosen menentukan peran AI dalam tugas maupun asesmen. Dengan pendekatan itu, pemanfaatan AI harus selalu diikuti cara uji, verifikasi, atau bukti yang memastikan mahasiswa benar-benar menguasai kompetensi yang ditargetkan.


FGD diikuti para koordinator program studi, dosen Mata Kuliah Umum (MKU), perwakilan Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penjaminan Mutu (LPMPP), wakil dekan bidang akademik, serta tim terkait. Seusai paparan narasumber, peserta dibagi ke dalam kelompok sesuai fakultas untuk memetakan persoalan, karakter penugasan, kemungkinan penggunaan AI, cara pembuktian proses, dan kebutuhan kebijakan pada disiplin masing-masing. Hasil diskusi kelompok kemudian dipresentasikan dan mendapat tanggapan narasumber.
Kepala P3 ISI Yogyakarta, Martino Dwi Nugroho, menekankan bahwa integrasi AI di ISI Yogyakarta perlu tumbuh dari karakter pendidikan seni, bukan sekadar mengikuti tren teknologi. Menurutnya, setiap disiplin memiliki proses penciptaan, media, metode pembelajaran, dan bentuk pembuktian kerja yang berbeda. Karena itu, rambu penggunaan AI harus memberi ruang bagi eksperimen dan inovasi, tetapi tetap menjaga orisinalitas, integritas akademik, perlindungan data, serta kemampuan mahasiswa mempertanggungjawabkan proses dan keputusan artistiknya.
Martino juga memandang hasil diskusi pada tingkat fakultas dan program studi penting untuk diterjemahkan menjadi rekomendasi yang operasional. Dengan demikian, kebijakan institusi tidak berhenti pada ketentuan umum, melainkan dapat menjawab situasi konkret di ruang kelas, studio, laboratorium, panggung, ruang produksi, dan praktik artistik lain yang menjadi kekhasan ISI Yogyakarta.






