Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

SPI ISI Yogyakarta Perkuat Tata Kelola Perguruan Tinggi Seni melalui Benchmarking ke UPN “Veteran” Jawa Timur

SPI ISI Yogyakarta Perkuat Tata Kelola Perguruan Tinggi Seni melalui Benchmarking ke UPN “Veteran” Jawa Timur

Surabaya — Satuan Pengawas Internal Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta melaksanakan kegiatan benchmarking ke Satuan Pengawas Internal Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, Rabu, 5 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Rektorat UPN “Veteran” Jawa Timur tersebut menjadi bagian dari langkah strategis ISI Yogyakarta dalam memperkuat tata kelola, pengendalian internal, manajemen risiko, serta akuntabilitas kelembagaan.

Benchmarking difokuskan pada penguatan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah, penerapan manajemen risiko, dan implementasi prinsip Good University Governance. Melalui kegiatan ini, ISI Yogyakarta berupaya memastikan proses akademik maupun nonakademik dilaksanakan secara transparan, akuntabel, efektif, efisien, dan berorientasi pada peningkatan mutu berkelanjutan.

Kunjungan tersebut dilaksanakan oleh Ketua SPI ISI Yogyakarta Dr. Zulisih Maryani, M.A. dan Sekretaris SPI ISI Yogyakarta Megawati Atiyatunnajah, M.H. Kehadiran delegasi diterima oleh SPI UPN “Veteran” Jawa Timur, Ketua Merangkap Koordinator Bidang Ketatalaksanaan (Dr. Rida Perwita Sari, S.E., M.Ak.), Sekretaris Merangkap Bidang Manajemen & Kinerja (Hanna Nurhaqiqi, S.I.P., M.A.), Anggota Merangkap Koordinator Bidang Hukum (Zuhda Mila Fitriama, S.H., LL.M.), dan Anggota Marangkap Bidang Manajemen Aset (Andreas Nugroho Sihananto, S.Kom., M.Kom.), dalam agenda berbagi pengalaman, pengetahuan, dan praktik baik di bidang pengawasan internal perguruan tinggi.

Sejumlah aspek strategis menjadi fokus pembelajaran, antara lain tata kelola organisasi SPI, penyusunan Program Kerja Pengawasan Tahunan, penerapan audit berbasis risiko, pelaksanaan audit kepatuhan dan audit kinerja, implementasi manajemen risiko, serta mekanisme pemantauan tindak lanjut hasil audit.

Benchmarking juga diarahkan untuk mempelajari digitalisasi proses pengawasan dan strategi membangun budaya pengendalian internal di lingkungan perguruan tinggi. Pengawasan internal dalam konteks ini tidak semata-mata dimaknai sebagai kegiatan untuk menemukan kesalahan, tetapi sebagai instrumen yang memberikan nilai tambah melalui evaluasi efektivitas pengendalian, kepatuhan terhadap regulasi, pengelolaan risiko, dan peningkatan kualitas tata kelola institusi.

SPI UPN “Veteran” Jawa Timur dipilih sebagai lokasi benchmarking karena memiliki pengalaman dalam mengembangkan sistem pengawasan yang terintegrasi dengan proses bisnis perguruan tinggi. SPI UPN “Veteran” Jawa Timur menempatkan diri sebagai mitra strategis pimpinan universitas dan didukung oleh 27 auditor yang berasal dari berbagai fakultas serta bidang keahlian.

Ruang lingkup pengawasannya mencakup audit kepatuhan hukum, pengelolaan keuangan, Barang Milik Negara, pengadaan barang dan jasa, sumber daya manusia, teknologi informasi, kegiatan operasional, serta pemantauan tindak lanjut hasil pemeriksaan internal dan eksternal. Independensi dan objektivitas auditor juga menjadi prinsip utama dalam pelaksanaan tugas pengawasan.

Salah satu praktik yang dipelajari adalah penyusunan Program Kerja Pemeriksaan Tahunan berbasis risiko. Program tersebut mencakup penguatan kelembagaan SPI, peningkatan kompetensi auditor, pemeriksaan pengelolaan keuangan dan aset, audit kinerja, pengujian sistem manajemen risiko, pemberian konsultasi kepada unit kerja, serta pemantauan penyelesaian rekomendasi hasil pemeriksaan.

Pendekatan berbasis risiko memungkinkan kegiatan pengawasan diprioritaskan pada proses dan unit kerja yang memiliki tingkat risiko lebih tinggi. Dengan demikian, fungsi SPI tidak hanya berorientasi pada pemeriksaan, tetapi juga pada pencegahan, pendampingan, konsultasi, dan pemberian rekomendasi perbaikan kepada pengelola institusi.

Bagi ISI Yogyakarta, penguatan sistem pengawasan internal memiliki arti penting dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan tinggi seni. Proses pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengelolaan hibah, keuangan, aset, layanan mahasiswa, dan administrasi akademik membutuhkan sistem pengendalian yang mampu menjaga kepatuhan sekaligus mendukung kreativitas dan produktivitas sivitas akademika.

Hasil benchmarking ditargetkan menjadi bahan evaluasi dan rekomendasi bagi SPI ISI Yogyakarta dalam mengembangkan sistem pengawasan yang semakin adaptif, profesional, dan relevan dengan karakteristik perguruan tinggi seni. Kegiatan tersebut juga membuka ruang sinergi antarlembaga dalam pertukaran pengetahuan, pengembangan kompetensi auditor, dan penguatan budaya tata kelola yang sehat. Langkah ini menegaskan komitmen ISI Yogyakarta untuk terus meningkatkan kualitas kelembagaan secara menyeluruh. Tidak hanya mengembangkan keunggulan dalam pendidikan, penciptaan, pengkajian, dan penyajian seni, ISI Yogyakarta juga memperkuat fondasi tata kelola sebagai bagian penting dalam membangun perguruan tinggi seni yang kredibel, berintegritas, dan berdaya saing.

Cari
Kategori

Bagikan postingan ini

id_IDID