Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

ISI Yogyakarta Buka Call for Documenter IDEF 2026, Dorong Dokumentasi Musik Ritual, Ekologi, dan Pelestarian Budaya

ISI Yogyakarta Buka Call for Documenter IDEF 2026, Dorong Dokumentasi Musik Ritual, Ekologi, dan Pelestarian Budaya

Yogyakarta, 29 Juni 2026 — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali meneguhkan perannya sebagai perguruan tinggi seni yang aktif mendorong pengembangan pengetahuan, kreativitas, dan pelestarian budaya melalui penyelenggaraan International Djogja Earthsound Fest 2026 (#IDEF 2026). Mengusung tema “Sacred Sounds, Shared Earth”, kegiatan ini membuka kesempatan bagi para dokumenter kreatif untuk terlibat dalam proses pendokumentasian musik ritual, ekologi, dan praktik budaya Nusantara.

Program Call for Documenter ini menjadi bagian penting dari IDEF 2026 yang akan diselenggarakan pada 24 Juli 2026 di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Melalui program ini, ISI Yogyakarta mengajak para pembuat dokumenter, kreator visual, pegiat film, mahasiswa, serta masyarakat kreatif untuk merekam dan menghadirkan kembali kekayaan bunyi, tradisi, serta relasi manusia dengan alam dalam medium film dokumenter.

Pendaftaran dibuka hingga 17 Juli 2026 melalui tautan https://bit.ly/regristationdocumentaryfilmidef2026. Peserta tidak dikenakan biaya pendaftaran. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi narahubung Apfia di +62 821-3533-3345.

IDEF 2026 menempatkan musik tidak hanya sebagai ekspresi artistik, tetapi juga sebagai pengetahuan budaya yang hidup di tengah masyarakat. Tema “Sacred Sounds, Shared Earth” menegaskan pentingnya memahami bunyi-bunyian sakral, musik ritual, dan lanskap suara tradisi sebagai bagian dari warisan budaya sekaligus refleksi ekologis. Melalui festival ini, ISI Yogyakarta menghadirkan ruang pertemuan antara seni, riset, dokumentasi, dan kesadaran lingkungan.

Subtema film dokumenter yang diangkat dalam IDEF 2026 mencakup empat fokus utama. Pertama, Ritual Music and Nusantara Cosmology, yang menyoroti musik dalam ritual kosmologi Nusantara, seperti ruwatan, sedekah bumi, labuh, ritual Hindu-Bali, tradisi Islam, agama lokal, serta ritual adat masyarakat Papua, Maluku, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Sulawesi.

Kedua, Sacred Soundscapes and the Environment, yang membuka perhatian terhadap musik dan suara alam dalam praktik ritual, seperti bunyi air, angin, hutan, gunung, ritual pertanian, sedekah laut, konservasi alam, serta soundscape ritual di ruang terbuka. Subtema ini menunjukkan bahwa alam bukan hanya latar, tetapi juga bagian integral dari pengalaman musikal dan spiritual masyarakat.

Ketiga, Sacred Music in the Ecological Crisis, yang mengajak dokumenter untuk melihat bagaimana musik ritual dan tradisi lokal menghadapi tantangan perubahan iklim, degradasi lingkungan, serta ancaman kepunahan budaya. Dalam konteks ini, musik dipahami sebagai medium refleksi, perlawanan, dan aktivisme ekologis.

Keempat, Knowledge Transmission and Cultural Preservation, yang berfokus pada proses pewarisan musik ritual antargenerasi, digital archiving musik tradisi ritual, serta revitalisasi musik ritual yang hampir punah. Subtema ini sejalan dengan kebutuhan zaman untuk menghadirkan strategi pelestarian budaya melalui pendekatan dokumentasi, teknologi, dan pendidikan seni.

Melalui IDEF 2026, ISI Yogyakarta memperkuat posisinya sebagai pusat pendidikan tinggi seni yang tidak hanya menghasilkan seniman dan akademisi, tetapi juga mengembangkan ekosistem pengetahuan berbasis budaya. Festival ini menjadi ruang strategis untuk mempertemukan praktik artistik, penelitian, teknologi dokumentasi, dan isu keberlanjutan lingkungan.

Kehadiran Call for Documenter juga menjadi bentuk dukungan terhadap lahirnya dokumentasi budaya yang kuat, reflektif, dan berdampak. Film dokumenter memiliki peran penting dalam merekam praktik seni tradisi yang hidup di masyarakat, memperluas akses publik terhadap pengetahuan budaya, serta memperkuat arsip visual tentang kekayaan musik ritual Nusantara.

Dengan penyelenggaraan IDEF 2026, ISI Yogyakarta menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan seni sebagai bagian dari kerja kemanusiaan, pelestarian lingkungan, dan diplomasi budaya. Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum untuk memperluas peran perguruan tinggi seni dalam menjawab tantangan zaman melalui kreativitas, riset, dan kolaborasi lintas disiplin.

Para dokumenter kreatif yang memiliki perhatian pada musik, budaya, lingkungan, ritual, dan pelestarian tradisi diundang untuk berpartisipasi dalam program ini. Melalui karya dokumenter, IDEF 2026 diharapkan dapat menghadirkan narasi baru tentang hubungan manusia, bunyi sakral, dan bumi yang menjadi ruang hidup bersama.

Cari
Kategori

Bagikan postingan ini

Tinggalkan Balasan

id_IDID