Yogyakarta, 9 Juni 2026 — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali meneguhkan posisinya sebagai perguruan tinggi seni terdepan di Indonesia melalui penyelenggaraan Seminar Nasional Dies Natalis ke-42 ISI Yogyakarta bertajuk “Dialektika Seni dan Artificial Intelligence dalam Rekonstruksi Nilai Estetika” yang akan digelar pada Rabu, 17 Juni 2026, pukul 08.00–12.00 WIB di Concert Hall ISI Yogyakarta.
Kegiatan ini menjadi salah satu agenda akademik utama dalam rangkaian Dies Natalis XLII ISI Yogyakarta yang mengusung tema besar “Redefining Arts Impact: Seni, Kemanusiaan, dan Kreativitas di Era Artificial Intelligence.” Seminar menghadirkan tokoh nasional dan internasional yang memiliki kompetensi kuat dalam bidang riset, seni, teknologi, dan kebijakan publik.
Sebagai keynote speaker, hadir Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang akan memberikan perspektif strategis mengenai transformasi ilmu pengetahuan, inovasi, serta tantangan kecerdasan artifisial dalam pembangunan bangsa dan pengembangan ekosistem kreatif.
Forum akademik tersebut juga menghadirkan Dr. Monica Lim, komposer dan seniman suara asal Australia yang dikenal melalui praktik artistik lintas disiplin yang menggabungkan teknologi digital, kecerdasan buatan, partisipasi publik, dan seni kontemporer. Selain itu, hadir pula Dr. Nadiyah Tunnikmah, M.A., peneliti dan staf pengajar ISI Yogyakarta yang memiliki perhatian pada kajian seni kontemporer, budaya visual, media digital, dan dinamika seni rupa Indonesia.
Diskusi akan dipandu oleh Kurniawan Adi Saputro, S.I.P., M.A., Ph.D., akademisi dan peneliti ISI Yogyakarta yang aktif mengembangkan kajian komunikasi, seni, budaya, dan isu keberlanjutan.
Rektor ISI Yogyakarta, Dr. Irwandi, M.Sn., menegaskan bahwa perkembangan Artificial Intelligence telah menghadirkan perubahan mendasar dalam cara manusia mencipta, mengonsumsi, dan memaknai karya seni. Menurutnya, perguruan tinggi seni memiliki tanggung jawab untuk tidak sekadar merespons perkembangan teknologi, tetapi juga menjadi ruang kritis yang mengarahkan perkembangan tersebut agar tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan.
“Perkembangan AI menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi dunia seni. Di tengah percepatan teknologi, seni tetap menjadi ruang refleksi, empati, dan pemaknaan yang berakar pada pengalaman manusia. Karena itu, dialog akademik mengenai relasi seni dan AI menjadi sangat penting untuk membangun masa depan yang tidak hanya inovatif, tetapi juga humanis,” ujarnya.


Seminar nasional ini diselenggarakan sebagai respons terhadap semakin luasnya penggunaan teknologi AI dalam berbagai praktik kreatif. Kehadiran sistem generatif berbasis algoritma memungkinkan mesin menghasilkan karya visual, musik, teks, hingga bentuk ekspresi artistik lainnya secara mandiri. Fenomena tersebut memunculkan berbagai pertanyaan mendasar mengenai kreativitas, orisinalitas, otoritas penciptaan, serta rekonstruksi nilai estetika di era digital.
Melalui seminar ini, ISI Yogyakarta berupaya menghadirkan ruang akademik yang mempertemukan perspektif seni, teknologi, riset, dan kemanusiaan untuk mengkaji secara kritis perkembangan AI dalam ekosistem budaya dan kreatif. Forum ini sekaligus menjadi wadah untuk merumuskan pemahaman baru mengenai posisi manusia sebagai subjek kreatif di tengah kemajuan teknologi yang semakin pesat.
Penyelenggaraan seminar nasional tersebut semakin memperkuat peran ISI Yogyakarta sebagai pusat unggulan pendidikan seni yang aktif merespons isu-isu global melalui pendekatan akademik, riset, dan praktik artistik. Kehadiran Kepala BRIN bersama pakar internasional dan akademisi lintas bidang menunjukkan kapasitas ISI Yogyakarta dalam membangun ruang dialog strategis mengenai masa depan seni dan teknologi di Indonesia.
Di tengah transformasi digital yang terus berkembang, ISI Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk menjadi perguruan tinggi seni yang tidak hanya menghasilkan karya kreatif, tetapi juga melahirkan gagasan, riset, dan pemikiran kritis yang relevan bagi perkembangan masyarakat, industri kreatif, dan peradaban masa depan.
Seminar nasional ini terbuka bagi sivitas akademika, praktisi seni, peneliti, mahasiswa, serta masyarakat umum dengan kuota peserta terbatas. Selain memperoleh wawasan dari para narasumber, peserta yang hadir secara langsung juga akan mendapatkan e-sertifikat sebagai bentuk partisipasi dalam forum akademik bergengsi tersebut.







