Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

IMCF 2026 Hadirkan Komposer Lima Negara, Perkuat ISI Yogyakarta sebagai Ruang Pertemuan Komposisi Musik Internasional

IMCF 2026 Hadirkan Komposer Lima Negara, Perkuat ISI Yogyakarta sebagai Ruang Pertemuan Komposisi Musik Internasional

Yogyakarta, 6 Oktober 2026 – Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali memperkuat perannya sebagai ruang pertemuan, penciptaan, dan pertukaran pengetahuan seni lintas negara melalui penyelenggaraan International Music Composition Festival (IMCF) 2026 bertajuk “Vestigium Sonorum”. Festival yang diinisiasi Program Studi Penciptaan Musik, Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Yogyakarta tersebut akan berlangsung pada 15–16 Oktober 2026 di Concert Hall ISI Yogyakarta.

IMCF 2026 menghadirkan komposer dan musisi dari Malaysia, Indonesia, Amerika Serikat, Belanda, dan Australia dalam satu forum yang mempertemukan praktik penciptaan, diskusi akademik, serta pertunjukan karya. Kehadiran para komposer lintas negara tersebut menjadi bagian penting dari upaya ISI Yogyakarta memperluas ruang dialog dan jejaring internasional dalam bidang penciptaan musik.

Mengusung tema “Vestigium Sonorum”, yang dapat dimaknai sebagai “jejak-jejak bunyi”, IMCF 2026 menempatkan musik sebagai ruang untuk membaca kembali pengalaman, gagasan, identitas, dan perkembangan artistik melalui karya komposisi. Festival ini sekaligus membuka kesempatan bagi sivitas akademika dan masyarakat untuk melihat perkembangan praktik komposisi musik dari berbagai latar budaya dan pendekatan artistik.

Sejumlah komposer internasional dijadwalkan hadir dalam festival ini, di antaranya Chong Kee Yong dari Malaysia, Dennis Rea dari Amerika Serikat, Sinta Wullur dari Belanda, serta Eugene Ball dari Australia. Dari Indonesia turut hadir Gatot Danar Sulistiyanto. Kehadiran mereka bersama para komposer dan musisi lainnya menjadikan IMCF 2026 sebagai ruang perjumpaan antara pengalaman profesional internasional dengan ekosistem pendidikan dan penciptaan musik di lingkungan ISI Yogyakarta.

Festival tidak hanya menghadirkan konser, tetapi juga dirancang sebagai ruang akademik melalui agenda Composition Colloquium atau Bedah Karya yang berlangsung pukul 13.00–16.30 WIB. Forum ini memberi kesempatan bagi peserta untuk mendiskusikan proses kreatif, gagasan kompositoris, pendekatan artistik, serta berbagai perspektif yang melatarbelakangi penciptaan sebuah karya musik.

Pada malam hari, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan open gate pukul 18.00 WIB dan pertunjukan konser mulai pukul 19.00 WIB. Berdasarkan materi publikasi kegiatan, rangkaian konser dijadwalkan berlangsung hingga malam hari. Seluruh kegiatan dapat diikuti secara gratis (free entry).

Selain para komposer tamu, IMCF 2026 juga memberikan ruang penting bagi komposer muda. Poster kegiatan mencantumkan sejumlah nama yang terlibat, antara lain Adi Wijaya, Aldy Maulana F., Budhi Ngurah, Eunike Alexandra A., Erga, Gabriella Charis, Harly Yoga P., Hadi Susanto, Krisna Pradipta T., M. Ikrom El Q., Puput Pramuditya, Royke Bobby K., Ramya Shafiqa, Reza Alexander C., dan Theo Armando P.

Pertemuan antara komposer internasional, akademisi, praktisi, dan generasi muda tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan seni di ISI Yogyakarta tidak hanya berlangsung di dalam ruang perkuliahan. Proses pembelajaran juga dikembangkan melalui interaksi langsung dengan praktik artistik kontemporer, pertukaran pengetahuan, pembacaan karya, serta pengalaman pertunjukan.

Penyelenggaraan IMCF sendiri memiliki kesinambungan dalam aktivitas akademik Program Studi Penciptaan Musik FSP ISI Yogyakarta. Dokumentasi resmi menunjukkan IMCF telah diselenggarakan pada tahun-tahun sebelumnya. Pada IMCF 2022, misalnya, program menghadirkan komposer lintas negara melalui rangkaian latihan, masterclass, dan konser karya komposer Indonesia serta internasional. IMCF kembali tercatat dalam agenda Program Studi Penciptaan Musik pada 2024.

Keberlanjutan tersebut memperlihatkan upaya Program Studi Penciptaan Musik dalam membangun ekosistem akademik yang memberi ruang bagi mahasiswa untuk berhadapan langsung dengan perkembangan komposisi musik di tingkat internasional. Di luar IMCF, program studi ini juga memiliki rekam aktivitas berupa seminar internasional, public lecture, masterclass, konser karya dosen, hingga eksperimen komposisi yang mempertemukan musik dengan teknologi seperti kecerdasan artifisial.

Bagi ISI Yogyakarta, penyelenggaraan festival internasional semacam IMCF memiliki nilai strategis karena mempertemukan tiga unsur penting perguruan tinggi seni, yakni pendidikan, penciptaan artistik, dan jejaring internasional. Kampus tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pembelajaran formal, tetapi juga menjadi ruang produksi pengetahuan dan karya yang mempertemukan berbagai tradisi, generasi, serta perspektif penciptaan.

Keterlibatan komposer dari lima negara pada IMCF 2026 sekaligus memperluas kesempatan mahasiswa untuk mengenal berbagai bahasa musikal, metode penciptaan, dan perkembangan estetika secara langsung. Interaksi tersebut diharapkan memperkaya wawasan mahasiswa sekaligus mendorong keberanian generasi muda untuk mengembangkan identitas artistik dan membawa karya mereka ke ruang yang lebih luas.

Melalui International Music Composition Festival 2026: Vestigium Sonorum, ISI Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk terus membangun lingkungan pendidikan seni yang terbuka terhadap pertukaran gagasan global tanpa meninggalkan kekuatan kreativitas dan identitas artistik. Kehadiran seniman lintas negara di lingkungan kampus juga menjadi bagian dari penguatan atmosfer internasional yang mendukung pembelajaran, penciptaan, dan kolaborasi.

Masyarakat, mahasiswa, akademisi, praktisi musik, serta pencinta seni dapat menyaksikan rangkaian IMCF 2026 “Vestigium Sonorum” pada 15–16 Oktober 2026 di Concert Hall ISI Yogyakarta. Melalui forum akademik dan panggung pertunjukan, jejak-jejak bunyi dari berbagai negara akan bertemu di Yogyakarta, menjadikan kampus ISI Yogyakarta sebagai salah satu ruang dialog dan penciptaan musik lintas budaya.

IMCF 2026 bukan sekadar pertunjukan musik, tetapi juga ruang akademik dan artistik yang mempertemukan generasi, gagasan, dan praktik penciptaan dari berbagai negara—sekaligus memperkuat visibilitas ISI Yogyakarta dalam jejaring seni internasional.

Cari
Kategori

Bagikan postingan ini

Tinggalkan Balasan