Black ISI LOGO
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Pascasarjana ISI Yogyakarta dan HfK Bremen Gelar ICAPAS 2026, Dorong Riset Artistik untuk Masa Depan Berkelanjutan

Pascasarjana ISI Yogyakarta dan HfK Bremen Gelar ICAPAS 2026, Dorong Riset Artistik untuk Masa Depan Berkelanjutan

Yogyakarta, 24 September 2026 — Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta melalui Program Pascasarjana akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan The 14th International Conference for Asia Pacific Art Studies (ICAPAS) 2026, sebuah forum akademik internasional yang mempertemukan para peneliti, akademisi, seniman, dan praktisi kreatif dari berbagai negara untuk membahas perkembangan riset seni dalam menghadapi tantangan masa depan manusia dan planet.

Mengusung tema “Resonance and Relevance: Artistic Research for Human and Planetary Futures”, ICAPAS 2026 akan berlangsung pada 30 September–1 Oktober 2026 di kampus ISI Yogyakarta. Konferensi internasional ini diselenggarakan oleh Pascasarjana ISI Yogyakarta bekerja sama dengan Hochschule für Künste Bremen (HfK Bremen), Jerman, serta melibatkan jejaring akademik internasional dalam bidang seni, budaya, teknologi, dan keberlanjutan.

Penyelenggaraan ICAPAS 2026 menjadi bagian dari komitmen ISI Yogyakarta dalam memperkuat posisi sebagai perguruan tinggi seni yang aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan berbasis praktik kreatif dan riset artistik. Forum ini menjadi ruang strategis bagi pertukaran gagasan mengenai bagaimana seni tidak hanya berperan sebagai ekspresi budaya, tetapi juga sebagai pendekatan ilmiah yang mampu memberikan kontribusi terhadap persoalan sosial, lingkungan, teknologi, dan kemanusiaan.

Direktur Pascasarjana ISI Yogyakarta menyampaikan bahwa ICAPAS merupakan wadah penting untuk mempertemukan berbagai perspektif mengenai masa depan seni dalam konteks global.

“Riset artistik saat ini berkembang menjadi pendekatan yang mampu menjembatani kreativitas, pengetahuan, dan inovasi. Melalui ICAPAS 2026, ISI Yogyakarta menghadirkan ruang dialog internasional untuk memperkuat kontribusi seni dalam menjawab berbagai tantangan masa depan,” ungkapnya.

Konferensi ini menghadirkan sejumlah pembicara internasional dan nasional, di antaranya Annette Geiger (Scholar of Transcultural Artistic Practice, HfK Bremen), Dwi Marianto (Art Theorist & EcoArt Scholar, ISI Yogyakarta), Gede Robi (Musician & Environmental Activist), serta Danai Reabsaakul (Cultural Practitioner, Silpakorn University Thailand).

Beragam topik strategis akan dibahas dalam ICAPAS 2026, mulai dari pengembangan artistic research, praktik kreatif kontemporer, teknologi dan seni, keberlanjutan lingkungan, pelestarian budaya, hingga hubungan seni dengan masa depan planet. Forum ini diharapkan menghasilkan pertukaran pengetahuan lintas disiplin dan memperkuat jejaring akademik seni di kawasan Asia Pasifik.

Kolaborasi antara ISI Yogyakarta dan HfK Bremen dalam penyelenggaraan ICAPAS 2026 juga menunjukkan penguatan hubungan internasional dalam bidang pendidikan tinggi seni. Kerja sama ini menjadi bagian dari upaya ISI Yogyakarta untuk memperluas jejaring global, meningkatkan visibilitas akademik, serta memperkokoh peran perguruan tinggi seni Indonesia dalam percaturan seni internasional.

Sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi seni terkemuka di Indonesia, ISI Yogyakarta terus mengembangkan ekosistem akademik yang mengintegrasikan pendidikan, penelitian, penciptaan karya seni, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui berbagai forum internasional seperti ICAPAS, ISI Yogyakarta menegaskan perannya sebagai pusat pengembangan seni dan kreativitas yang berkontribusi terhadap kemajuan kebudayaan Indonesia dan dunia.

Pendaftaran peserta ICAPAS 2026 telah dibuka melalui tautan https://s.id/ICAPAS2026. Masyarakat akademik, seniman, peneliti, dan praktisi kreatif dari berbagai negara diundang untuk berpartisipasi dalam forum internasional ini.

Cari
Kategori

Bagikan postingan ini

Tinggalkan Balasan