Yogyakarta, 21 September 2026 – Prestasi di bidang perfilman kembali diraih mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Film dokumenter berjudul MUPUSTI: Melestarikan dan Merawat, Bukan Menyembah, produksi Archipela Studio yang melibatkan mahasiswa ISI Yogyakarta, berhasil meraih Golden Purwaseswa Award, penghargaan tertinggi dalam kategori kompetisi Purwaseswa pada Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) 2026. Penghargaan tersebut diumumkan dalam malam penutupan festival yang berlangsung di Gedung Pusat Desain Industri Nasional (PDIN), Yogyakarta, Sabtu (19/9/2026).
Keberhasilan tersebut menjadi capaian penting bagi para sineas muda yang terlibat dalam produksi film dokumenter. Karya yang dikembangkan sejak para pembuatnya masih berstatus pelajar tersebut mampu memperoleh pengakuan dalam festival perfilman yang mempertemukan berbagai karya audiovisual bertema sejarah, kebudayaan, dan warisan budaya.
Kotabaru Heritage Film Festival 2026 diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta pada 17–19 September 2026. Memasuki penyelenggaraan tahun keempat, festival ini menghadirkan berbagai program kompetisi, pemutaran film, diskusi, dan kegiatan yang mempertemukan sineas, komunitas kreatif, serta masyarakat. Festival tersebut menjadi ruang apresiasi bagi karya sinema yang mengeksplorasi hubungan antara warisan budaya dan kehidupan kontemporer.
Dalam kompetisi Purwaseswa yang diperuntukkan bagi karya pelajar, MUPUSTI berhasil melalui proses seleksi dan penilaian dewan juri hingga memperoleh penghargaan utama. Penyelenggaraan KHFF 2026 secara keseluruhan mencatat 184 karya yang didaftarkan, menunjukkan tingginya partisipasi sineas dari berbagai daerah dalam festival tersebut.

Film MUPUSTI diproduksi melalui kolaborasi tim kreatif Archipela Studio. Dua mahasiswa ISI Yogyakarta yang terlibat dalam produksi tersebut adalah Ilya Fathimah Taqiyya sebagai sutradara (director) dan Sulaiman Indra Hamka sebagai penulis skenario (scriptwriter).
Proses produksi film ini juga melibatkan Raissa Ratnadewi sebagai produser sekaligus manajer produksi, Hafiza Naaz Fathia Rashiq sebagai penata sinematografi, serta Pujangga Nashrullah Manik sebagai operator kamera dan editor. Sementara itu, Katrina Viealdri Rahmani bertanggung jawab sebagai penata artistik, Putra Ananda Alfariza sebagai boom operator, Qorry Aisyahwa sebagai penata rekam suara, dan Rizal Nabil Wahyudin Subarkah sebagai gaffer.
Kolaborasi para anggota tim tersebut memperlihatkan pentingnya kerja kolektif dalam produksi film, mulai dari pengembangan gagasan, penulisan skenario, pengambilan gambar, penataan artistik, hingga penyelesaian audiovisual. Setiap bidang produksi memiliki peran dalam membangun kesatuan bahasa visual dan narasi yang disampaikan kepada penonton.
Penghargaan yang diperoleh MUPUSTI sekaligus memperlihatkan potensi film dokumenter sebagai medium kreatif untuk menghadirkan perspektif mengenai kebudayaan dan warisan masyarakat. Melalui pendekatan sinematik, film dokumenter dapat menjadi sarana untuk merekam realitas, mengembangkan pemahaman publik, serta membuka ruang dialog mengenai nilai-nilai budaya dalam kehidupan masa kini.
Penyelenggaraan KHFF 2026 juga menghadirkan sejumlah program perfilman, termasuk pemutaran film Para Perasuk karya sutradara Wregas Bhanuteja melalui program Becak Drive-In Cinema di kawasan Pasar Terban. Kehadiran beragam program tersebut memperluas kesempatan bagi sineas muda untuk mengenal perkembangan praktik perfilman sekaligus membangun hubungan dengan komunitas dan pelaku industri kreatif.

Bagi ISI Yogyakarta, keberhasilan mahasiswa yang terlibat dalam produksi MUPUSTI menjadi bagian dari capaian prestasi generasi muda di bidang seni media rekam. Penghargaan ini menunjukkan bahwa pengalaman berkarya yang dibangun sejak masa pendidikan sebelumnya dapat terus dikembangkan melalui pembelajaran akademik, eksplorasi artistik, dan keterlibatan dalam ekosistem perfilman.
Capaian tersebut juga menjadi dorongan bagi mahasiswa ISI Yogyakarta untuk terus mengembangkan karya audiovisual yang tidak hanya memiliki kualitas teknis dan kekuatan penceritaan, tetapi juga relevan dengan persoalan sosial dan kebudayaan. Partisipasi dalam festival menjadi salah satu kesempatan untuk memperluas pengalaman, memperoleh apresiasi, dan menguji kualitas karya di hadapan publik maupun praktisi perfilman.
Keberhasilan film dokumenter MUPUSTI meraih Golden Purwaseswa Award turut memperkuat kiprah mahasiswa ISI Yogyakarta dalam dunia perfilman nasional. Prestasi ini sejalan dengan komitmen ISI Yogyakarta sebagai perguruan tinggi seni untuk mendorong lahirnya generasi kreatif yang mampu menghasilkan karya berkualitas, berdaya saing, dan memberikan kontribusi bagi perkembangan seni serta kebudayaan Indonesia.






